Surat Al-Maidah, yang berarti "Hidangan", adalah surat Madaniyah yang kaya akan ajaran hukum, etika sosial, dan keyakinan mendasar dalam Islam. Di antara ayat-ayat penting di dalamnya, terdapat ayat ke-116 yang seringkali menjadi titik fokus dalam pembahasan mengenai keesaan Allah SWT dan pengakuan-Nya atas peran Nabi Isa 'alaihi as-salam. Ayat ini bukan sekadar narasi sejarah, melainkan sebuah penegasan teologis yang fundamental.
Ayat 116 Surat Al-Maidah adalah dialog dramatis yang akan terjadi pada Hari Kiamat, di mana Allah SWT menginterogasi Nabi Isa a.s. mengenai klaim yang dilekatkan kepadanya oleh sebagian umatnya, yaitu bahwa ia mengajak mereka untuk menyembahnya dan ibunya, Maryam, sebagai tuhan selain Allah. Dialog ini menyoroti inti ajaran tauhid yang dibawa oleh semua nabi: pengakuan mutlak atas keesaan Allah SWT.
Respon Nabi Isa a.s. sangat tegas dan penuh ketundukan. Ia memulai dengan kalimat tasbih, "Maha Suci Engkau," sebuah pengakuan bahwa Allah adalah zat yang tidak mungkin memiliki sekutu atau tandingan. Ia menegaskan bahwa sama sekali tidak pantas baginya untuk mengucapkan perkataan sekeji itu—mengajak manusia menyembahnya. Ini menunjukkan betapa sucinya posisi kenabian yang diemban oleh Isa putra Maryam.
Lebih lanjut, Isa a.s. menunjukkan puncak keimanannya dengan mengakui ilmu Allah yang maha luas. Ia berkata, "Jika aku mengatakannya, tentulah Engkau sudah mengetahuinya." Ia menyerahkan seluruh penilaian kepada Allah, mengakui bahwa Allah mengetahui segala niat tersembunyi di dalam dirinya, sementara ia sendiri tidak memiliki pengetahuan tentang hal-hal gaib yang ada pada diri Allah. Penutup dialognya, "Sesungguhnya Engkaulah Maha Mengetahui segala yang gaib," menegaskan posisi Allah sebagai satu-satunya sumber pengetahuan absolut atas perkara-perkara yang tersembunyi.
Ayat ini memberikan pelajaran berharga mengenai batasan ilmu manusia, bahkan seorang utusan Allah sekalipun, di hadapan ilmu Allah yang tak terbatas. Nabi Isa a.s., yang dikenal dengan mukjizat-mukjizatnya, termasuk menghidupkan orang mati atas izin Allah, tetap tunduk pada batasan ilmunya dan memuji keMahaTahuan Allah.
Dalam konteks sejarah agama, ayat ini berfungsi sebagai penegasan tegas dari perspektif Islam mengenai doktrin ketuhanan. Islam menolak keras segala bentuk politeisme atau penyekutuan, termasuk mengagungkan Nabi Isa a.s. hingga derajat ketuhanan. Dialog ini adalah klarifikasi final yang membersihkan nama baik para nabi dari tuduhan-tuduhan yang menyimpang dari risalah murni yang mereka bawa.
Setiap Muslim wajib merenungkan ayat ini sebagai penguatan komitmen tauhid. Pengakuan bahwa Allah adalah 'Allamul Ghuyub (Maha Mengetahui yang Gaib) menuntut kerendahan hati total. Kita tidak memiliki pengetahuan tentang masa depan, hati orang lain, atau hakikat alam semesta kecuali apa yang Allah izinkan untuk kita ketahui.
Kisah ini mengajarkan pentingnya menjaga kemurnian akidah. Kesalahan penafsiran atau pengagungan yang melampaui batas terhadap figur suci dapat menjerumuskan umat ke dalam kesyirikan yang paling berbahaya. Dialog di hari kiamat ini menjadi pengingat bahwa pembelaan terbaik atas kebenaran risalah adalah kejujuran dan penyerahan diri penuh kepada kehendak dan pengetahuan Yang Maha Agung. Ayat Al-Maidah 116 adalah fondasi yang kokoh, menyatakan bahwa segala bentuk kesaksian akan berakhir pada pengakuan tunggal: Allah adalah Tuhan Yang Maha Esa, Yang mengetahui segalanya.