Tentang Pengampunan dan Kekuatan Ilahi
Dan adalah Tuhanmu Maha Pengampun; dan sungguh, jika kamu mengulangi (perbuatan dosa itu), Kami akan mengulangi (hukuman Kami). Dan Kami telah menjadikan neraka Jahannam penjara bagi orang-orang kafir.
Ayat kedelapan dari Surat Al-Isra (Bani Israil) ini mengandung pesan yang sangat mendalam mengenai sifat kasih sayang Allah (Ar-Rahman) yang luas, sekaligus peringatan tegas tentang konsekuensi dari pengulangan kemaksiatan. Ayat ini seringkali dibaca dalam rangkaian ayat-ayat yang membahas tentang nasib manusia, baik dalam konteks rahmat maupun azab.
Frasa pembuka, "Wa 'asā rabbukum an yarḥamakum" (Dan adalah Tuhanmu Maha Pengampun), menegaskan bahwa dasar utama hubungan antara Allah dan hamba-Nya adalah pengampunan. Ini adalah janji harapan. Meskipun manusia tidak luput dari kesalahan dan dosa—sebagaimana dibahas pada ayat-ayat sebelumnya mengenai kekhilafan Bani Israil—pintu rahmat Allah selalu terbuka lebar. Harapan ini memberikan motivasi kepada seorang mukmin untuk senantiasa bertaubat dan kembali kepada jalan yang benar, karena Allah lebih mengutamakan kasih sayang-Nya daripada murka-Nya.
Namun, harapan ini tidak boleh disalahartikan sebagai lisensi untuk terus berbuat dosa. Ayat ini melanjutkan dengan ancaman yang seimbang: "Wa in 'udtum 'udnā" (Dan sungguh, jika kamu mengulangi (perbuatan dosa itu), Kami akan mengulangi (hukuman Kami)). Kata "mengulangi" (ʿudnā) di sini memiliki makna penegasan. Jika seorang hamba terus-menerus melakukan pelanggaran setelah menerima peringatan, rahmat yang semula terbuka dapat digantikan oleh ketetapan azab.
Ini mengajarkan prinsip keseimbangan dalam syariat Islam. Islam adalah agama yang mengajarkan moderasi (pertengahan). Ia mendorong harapan penuh pada rahmat Tuhan, namun pada saat yang sama menuntut keseriusan dalam menjauhi larangan-Nya. Pengulangan dosa menunjukkan kurangnya penyesalan yang tulus dan sikap meremehkan kekuasaan Ilahi.
Ayat ini ditutup dengan pernyataan mengenai tempat bagi mereka yang memilih untuk tidak kembali dari kesesatan: "Wa ja'alnā jahannama lil-kāfirīna ḥaṣīrā" (Dan Kami telah menjadikan neraka Jahannam penjara bagi orang-orang kafir). Kata "ḥaṣīrā" (penjara/tempat menetap) menekankan bahwa bagi orang-orang yang menolak iman dan terus menerus mengingkari kebenaran, Jahannam adalah tempat akhir yang pasti dan permanen.
Penempatan peringatan keras ini setelah janji pengampunan berfungsi sebagai penyeimbang psikologis dan spiritual. Ia mengingatkan bahwa meskipun Allah Maha Pengampun, ada batasan mutlak bagi mereka yang secara sadar dan terus-menerus memilih jalan kekafiran dan penolakan terhadap kebenaran. Ini bukanlah bentuk ketidakadilan, melainkan konsekuensi logis dari pilihan bebas yang mereka ambil selama hidup di dunia.
Dalam konteks modern, ayat 17:8 mengajarkan pentingnya evaluasi diri yang jujur (muhasabah). Ketika kita terjerumus dalam kesalahan—entah itu dalam hubungan sosial, keuangan, atau ibadah—kita harus segera bertaubat. Pengulangan dosa sering kali terjadi karena taubat yang dangkal, sekadar di lisan tanpa penyesalan mendalam di hati dan perubahan perilaku nyata.
Ayat ini memanggil umat Islam untuk selalu hidup dalam keadaan al-khawf wa ar-rajā' (antara rasa takut dan harap). Kita harus berharap akan rahmat dan ampunan-Nya yang tak terbatas, sambil tetap waspada dan takut akan konsekuensi jika kita dengan sengaja mengulangi pelanggaran. Dengan memahami kedalaman ayat ini, seorang Muslim didorong untuk menjadikan setiap kesalahan sebagai pelajaran berharga untuk menjadi hamba yang lebih baik di masa mendatang.