Al Quran Surat Al-Anfal Ayat 3: Teks, Terjemahan & Makna Mendalam

Ilustrasi Ka'bah dan Bulan Sabit
ٱلَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِٱلْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ ٱلصَّلَوٰةَ وَمِمَّا رَزَقْنَـٰهُمْ يُنفِقُونَ
(Yaitu) orang-orang yang beriman kepada yang gaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka.

Makna Mendalam Surat Al-Anfal Ayat 3

Ayat ketiga dari Surat Al-Anfal ini merupakan penjelasan lanjutan dari ayat sebelumnya yang menggambarkan sifat-sifat orang bertakwa. Ayat ini secara gamblang menyebutkan tiga pilar utama keimanan dan praktik keagamaan yang menjadi ciri khas orang-orang yang dijanjikan surga.

1. Iman kepada yang Gaib (ٱلَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِٱلْغَيْبِ) Inti dari ayat ini dimulai dengan pengakuan terhadap sesuatu yang tidak dapat dilihat oleh mata telanjang, yaitu alam gaib. Iman kepada yang gaib mencakup keyakinan terhadap Allah SWT, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, hari akhir, serta qada dan qadar. Ini adalah fondasi spiritual yang membedakan seorang mukmin sejati. Kepercayaan ini bukan berdasarkan keraguan atau tebak-tebakan, melainkan keyakinan teguh yang bersumber dari wahyu Allah dan penjelasan Rasul-Nya. Tanpa iman kepada yang gaib, seluruh amalan lahiriah akan kehilangan maknanya yang hakiki.

2. Mendirikan Shalat (وَيُقِيمُونَ ٱلصَّلَوٰةَ) Setelah fondasi iman kepada yang gaib, ayat ini menekankan pentingnya mendirikan shalat. Kata "yuqimun" (يُقِيمُونَ) memiliki makna lebih dari sekadar "mengerjakan" shalat. Ia mengandung arti menegakkan, menjaga, menyempurnakan, dan senantiasa melaksanakannya dengan khusyuk dan benar sesuai tuntunan. Shalat adalah ibadah fisik dan spiritual yang menghubungkan langsung seorang hamba dengan Tuhannya. Melalui shalat, seorang mukmin memelihara hubungannya dengan Allah, memohon pertolongan, dan membersihkan diri dari perbuatan keji dan mungkar.

3. Menafkahkan Sebagian Rezeki (وَمِمَّا رَزَقْنَـٰهُمْ يُنفِقُونَ) Pilar ketiga yang disebutkan adalah kewajiban menafkahkan sebagian rezeki yang telah Allah anugerahkan. Ini mencakup berbagai bentuk infak, baik yang wajib (seperti zakat) maupun yang sunnah (seperti sedekah). Kata "yuinfiqun" (يُنفِقُونَ) menunjukkan adanya gerakan dan pembelanjaan harta untuk kebaikan. Ayat ini menegaskan bahwa harta yang dimiliki bukanlah milik pribadi semata, melainkan titipan Allah yang sebagiannya harus disalurkan untuk kepentingan orang lain, fakir miskin, anak yatim, janda, dan kegiatan keagamaan lainnya. Ini adalah ujian keikhlasan dan bukti nyata bahwa seorang mukmin tidak bersifat kikir, melainkan dermawan dan peduli terhadap sesama.

Secara keseluruhan, Surat Al-Anfal ayat 3 memberikan gambaran komprehensif tentang bagaimana seharusnya seorang mukmin menjalani hidupnya. Mulai dari keyakinan batin yang teguh terhadap hal-hal yang tidak kasat mata, hingga ibadah yang menjaga hubungan vertikal dengan Allah, dan kepedulian yang mewujud dalam tindakan nyata berupa berbagi rezeki untuk kebaikan horizontal sesama manusia. Ketiga elemen ini saling melengkapi dan merupakan indikator kuat dari ketakwaan seseorang.

🏠 Homepage