Kisah Mukjizat dan Doa Nabi Isa dalam Al-Maidah

Isa A.S.

Ilustrasi Mukjizat Nabi Isa AS

Kedudukan Nabi Isa dalam Islam

Nabi Isa Al-Masih, putra Maryam, adalah salah satu dari lima Rasul Ulul Azmi (rasul yang memiliki keteguhan hati luar biasa) dalam tradisi Islam. Kehadirannya di bumi dipenuhi dengan mukjizat besar yang menegaskan keesaan Allah SWT. Al-Qur'an menceritakan detail kehidupannya, mulai dari kelahirannya yang ajaib hingga mukjizat yang ia lakukan atas izin Allah, termasuk berbicara saat masih bayi dan menyembuhkan orang sakit.

Surat Al-Ma’idah (Hidangan) dalam Al-Qur'an merupakan surat Madaniyah yang kaya akan pelajaran tauhid, hukum, dan kisah-kisah para nabi. Di dalamnya, terdapat bagian penting yang menyoroti permintaan khusus Nabi Isa kepada Tuhannya, sebuah doa yang menjadi pelajaran mendalam tentang kerendahan hati dan ketergantungan total kepada Sang Pencipta.

Doa Nabi Isa Permintaan Hidangan (Al-Ma’idah ayat 114)

Salah satu momen paling monumental yang diceritakan dalam konteks Surat Al-Ma’idah adalah ketika kaum Hawariyyin (para pengikut setia Nabi Isa) meminta bukti nyata kenabian Isa, yaitu meminta diturunkannya hidangan (makanan) dari langit sebagai tanda kebesaran Allah. Permintaan ini bukanlah karena keraguan mereka terhadap iman, melainkan sebagai penguat keyakinan dan sebagai saksi bagi orang-orang yang masih ragu di sekitar mereka.

Menghadapi permintaan tersebut, Nabi Isa tidak langsung mengabulkannya atas kemauan sendiri, melainkan ia memanjatkan doa penuh harap kepada Allah SWT. Inilah inti dari kisah tersebut, yang tercantum dalam ayat 114 Surat Al-Ma’idah:

قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا أَنْزِلْ عَلَيْنَا مَائِدَةً مِنَ السَّمَاءِ تَكُونُ لَنَا عِيدًا لِأَوَّلِنَا وَآخِرِنَا وَآيَةً مِنْكَ ۖ وَارْزُقْنَا وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ

Artinya: "Isa putra Maryam berdoa, 'Ya Tuhan kami, turunkanlah kepada kami hidangan dari langit, yang menjadi hidangan bagi kami, baik bagi yang pertama maupun yang terakhir dari kami, dan menjadi tanda dari Engkau; dan berilah kami rezeki, dan Engkaulah Pemberi rezeki yang terbaik.'" (QS. Al-Ma’idah: 114)

Analisis Hikmah Doa Nabi Isa

Doa Nabi Isa ini mengandung beberapa tingkatan makna yang sangat penting untuk direnungkan:

  1. Pengakuan Keilahian Allah: Nabi Isa memulai doanya dengan memanggil Allah sebagai "Rabbana" (Ya Tuhan kami), menegaskan bahwa sumber kekuatan, rezeki, dan mukjizat hanyalah milik Allah semata.
  2. Permintaan sebagai Tanda (Ayah): Permintaan hidangan bukanlah untuk memenuhi hawa nafsu, melainkan sebagai *Ayatan Minka* (sebuah tanda dari-Mu). Ini menunjukkan tujuan utama mukjizat adalah untuk meneguhkan iman dan membuktikan kebenaran risalahnya.
  3. Manfaat Kolektif: Doa ini ditujukan untuk kebaikan "لِأَوَّلِنَا وَآخِرِنَا" (bagi yang pertama dan yang terakhir dari kami). Ini menunjukkan bahwa mukjizat yang terjadi harus memberikan manfaat berkelanjutan bagi generasi yang ada saat itu dan generasi mendatang sebagai warisan keimanan.
  4. Penutup dengan Tawakkul: Puncak doa ini adalah pengakuan bahwa Allah adalah sebaik-baik Pemberi Rezeki (*Khairur Razikin*). Meskipun meminta rezeki yang luar biasa, Nabi Isa menutupnya dengan penyerahan diri total, menyadari bahwa tidak ada yang mampu memberi rezeki sebaik Dia.

Respon Ilahi dan Pelajaran Iman

Setelah doa ini dipanjatkan, Allah SWT mengabulkannya. Hidangan pun turun, menjadi santapan dan bukti nyata bagi para pengikutnya. Namun, kisah ini tidak berhenti pada turunnya hidangan. Allah memberikan peringatan keras setelah terkabulnya doa tersebut, sebagaimana disebutkan dalam ayat selanjutnya, bahwa barangsiapa kafir setelah itu, maka Allah akan mengadzabnya dengan siksaan yang tidak pernah Dia berikan kepada siapapun dari seluruh umat manusia.

Peringatan ini mengajarkan kita bahwa kenikmatan dan mukjizat yang diberikan oleh Allah harus diikuti dengan syukur yang sempurna dan keteguhan iman. Doa Nabi Isa dalam Surat Al-Ma’idah adalah cerminan sempurna antara permintaan memohon pertolongan Allah diiringi dengan penyerahan diri dan kesadaran akan kekuasaan-Nya yang mutlak.

Bagi umat Islam saat ini, kisah ini mengingatkan pentingnya berdoa dengan penuh adab, mengakui keesaan Allah dalam setiap permohonan, dan memahami bahwa setiap anugerah adalah ujian yang memerlukan rasa syukur yang abadi.

🏠 Homepage