Al-Qur'an adalah pedoman hidup umat Islam, dan setiap surat di dalamnya menyimpan hikmah serta pelajaran yang mendalam. Surat ke-15 dalam mushaf Al-Qur'an adalah Surat Al-Hijr (الحجر), yang terdiri dari 99 ayat. Nama surat ini diambil dari kata 'Al-Hijr' yang berarti "Batu" atau "Tempat yang Terlarang," merujuk pada kisah kaum Tsamud dan sisa-sisa peninggalan mereka di sebuah lembah berbatu.
Surat Al-Hijr tergolong dalam surat Makkiyah, yang sebagian besar ayatnya diturunkan sebelum Nabi Muhammad SAW berhijrah ke Madinah. Tema utama yang diangkat dalam surat ini sangat beragam, meliputi peringatan keras kepada orang-orang yang mendustakan rasul, keesaan Allah SWT, keagungan ciptaan-Nya, hingga pentingnya kesabaran dan keyakinan dalam menghadapi ejekan kaum musyrikin.
Salah satu fokus utama Al-Hijr adalah dialog antara Allah SWT dengan para malaikat mengenai penciptaan Adam, serta kisah penolakan Iblis untuk bersujud. Kisah ini menjadi pelajaran fundamental tentang keangkuhan dan konsekuensi dari pembangkangan terhadap perintah Ilahi. Allah SWT berfirman dalam ayat ke-28: "Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mewahyukan kepada para malaikat: Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang dibentuk,..."
Lebih lanjut, surat ini mengingatkan manusia untuk merenungkan alam semesta. Ayat-ayat yang membahas tentang penciptaan langit yang bertaburan bintang (disebut sebagai hiasan bagi langit) dan penetapan takdir bagi setiap benda menunjukkan betapa Mahakuasanya Allah SWT. Pesan ini disampaikan agar manusia tidak hanya fokus pada kehidupan duniawi yang fana, tetapi juga mempersiapkan diri untuk hari perhitungan.
Kaum Tsamud, yang dikenal sebagai penghuni daerah Al-Hijr, diabadikan dalam surat ini sebagai contoh nyata kehancuran peradaban akibat kesombongan dan penolakan terhadap wahyu kenabian. Mereka dianugerahi mukjizat berupa unta betina yang keluar dari batu, namun mereka malah menyembelihnya. Sebagai balasan atas kedustaan mereka, Allah SWT membinasakan mereka. Surat Al-Hijr menekankan bahwa tidak ada satu pun umat terdahulu yang lolos dari azab jika mereka memilih jalan kemaksiatan dan pendustaan.
Pelajaran penting lainnya adalah mengenai kesabaran Nabi Muhammad SAW dalam menghadapi olok-olok kaum Quraisy Makkah. Mereka seringkali menantang Nabi untuk mendatangkan siksa atau menunjukkan sesuatu yang ajaib sebagai bukti kenabian. Namun, Al-Qur'an mengajarkan bahwa ketetapan Allah tidak bisa didahului oleh keinginan manusia. Nabi diperintahkan untuk bersabar, karena janji kemenangan dan pertolongan Allah pasti akan datang pada waktu yang telah ditentukan.
Membaca dan merenungkan Surat Al-Hijr memberikan penguatan iman. Surat ini secara eksplisit menyebutkan bahwa Al-Qur'an adalah Kitab yang diturunkan untuk menjadi peringatan (zikra) bagi seluruh alam. Keutamaan surat ini juga terletak pada penegasan akan janji Allah SWT kepada orang-orang yang beriman dan bertakwa. Keselamatan tidak diraih melalui kepandaian duniawi semata, melainkan melalui ketundukan total kepada Sang Pencipta.
Secara keseluruhan, Surat Al-Hijr adalah sebuah narasi yang mengingatkan kita akan batas-batas kekuasaan manusia, keindahan ciptaan Allah, bahaya kesombongan, dan kewajiban abadi untuk beribadah hingga akhir waktu. Memahami konteks dan pesan-pesan di dalamnya membantu seorang muslim memperkokoh pijakan spiritualnya di tengah hiruk pikuk kehidupan duniawi. Surat ini mengajak kita untuk meneladani kesabaran para nabi dan menjauhi sifat durhaka seperti yang diperlihatkan oleh kaum-kaum terdahulu.