Ilustrasi konseptual mengenai pondasi keyakinan.
Akidah, dalam terminologi Islam, merujuk pada seperangkat keyakinan fundamental yang wajib diimani oleh seorang Muslim. Ini adalah fondasi spiritual yang menopang seluruh bangunan amal perbuatan dan perilaku seseorang. Ketika kita berbicara mengenai pertanyaan akidah, kita menyentuh ranah keraguan yang timbul dari proses pencarian kebenaran, atau kebutuhan untuk memperkuat pemahaman atas rukun iman yang telah diyakini.
Pertanyaan akidah seringkali muncul karena kompleksitas eksistensi. Mengapa kita ada? Apa hakikat Tuhan? Bagaimana hubungan antara kehendak bebas manusia dengan takdir ilahi? Pertanyaan-pertanyaan eksistensial semacam ini bukanlah tanda kelemahan iman, melainkan bukti dari fitrah manusia yang selalu ingin mencari jawaban definitif atas misteri alam semesta.
Akidah yang shahih bersandar pada enam rukun iman. Setiap rukun adalah jawaban atas pertanyaan mendasar. Misalnya, beriman kepada Allah SWT menjawab pertanyaan "Siapa Pencipta alam semesta?". Beriman kepada para Malaikat, Kitab Suci, Rasul, Hari Akhir, dan Qada’ Qadar adalah pilar-pilar yang memberikan peta jalan spiritual.
Dalam menghadapi arus informasi modern, banyak muncul kesalahpahaman atau pandangan yang menyimpang mengenai rukun-rukun ini. Misalnya, isu tentang konsep tauhid sering diperdebatkan dari sudut pandang filosofis. Mempertanyakan kembali makna 'keesaan Allah' atau bagaimana seharusnya seorang Muslim bersikap terhadap takdir (Qadar) adalah proses yang sehat selama dilandasi niat mencari kebenaran sesuai tuntunan syariat.
Salah satu pertanyaan akidah yang paling sering diperbincangkan adalah mengenai sifat-sifat Allah. Bagaimana kita memahami sifat-sifat Allah yang tidak bisa dijangkau oleh nalar manusia sepenuhnya? Di sinilah peran pemahaman tekstual (Al-Qur'an dan As-Sunnah) menjadi sangat krusial, memandu akal agar tidak jatuh pada penakwilan yang keluar dari batasan yang telah ditetapkan oleh para ulama terdahulu yang memiliki otoritas dalam ilmu kalam dan aqidah.
Ketika keraguan menghampiri, langkah terbaik bukanlah menghindar, melainkan menghadapinya dengan ilmu. Ilmu yang dimaksud di sini adalah ilmu agama yang bersumber dari referensi otentik. Banyak pemuda muslim kini mencari jawaban melalui literatur teologi perbandingan atau pemikiran kritis kontemporer. Hal ini bagus sebagai wawasan, namun pondasi utama harus selalu merujuk pada ushul akidah yang telah mapan.
Misalnya, ketika muncul keraguan tentang keadilan ilahi (sehubungan dengan penderitaan di dunia), jawaban akidah menekankan bahwa pemahaman manusia terhadap keadilan terbatas. Apa yang tampak sebagai ketidakadilan di mata kita mungkin merupakan bagian dari hikmah yang lebih besar yang hanya diketahui oleh Dzat yang Maha Adil.
Proses penguatan akidah adalah perjalanan seumur hidup. Ia membutuhkan tadabbur (perenungan mendalam) terhadap ayat-ayat kauniyah (alam semesta) dan ayat-ayat qauliyah (wahyu). Setiap kali sebuah pertanyaan akidah terjawab, atau bahkan jika ia tetap menjadi misteri yang kita serahkan pemahamannya kepada Allah, maka keyakinan kita akan semakin kokoh.
Akidah yang kokoh memiliki dampak signifikan pada perilaku. Seseorang yang benar-benar yakin bahwa ada hari perhitungan akan termotivasi untuk berbuat baik dan menghindari kemungkaran, bukan karena takut pada hukum duniawi, tetapi karena kesadaran akan pengawasan Ilahi yang abadi.
Sebaliknya, keraguan yang tidak teratasi dalam akidah dapat menyebabkan kegelisahan spiritual, hilangnya arah tujuan hidup, dan mudahnya terpengaruh oleh ideologi-ideologi sesat yang menawarkan jawaban instan tanpa landasan yang benar. Oleh karena itu, mendalami dan secara berkala menguji kembali fondasi keyakinan (akidah) adalah kewajiban setiap muslim demi menjaga kemurnian iman di tengah tantangan zaman.
Pada akhirnya, setiap pertanyaan akidah adalah undangan untuk lebih mengenal Sang Pencipta, sebuah kesempatan untuk menggali lautan hikmah yang terkandung dalam ajaran-Nya. Dengan sikap yang rendah hati dan keinginan tulus untuk belajar, seorang hamba akan menemukan ketenangan sejati dalam keyakinan yang teguh.