Surah Al-Ma'idah, surat kelima dalam Al-Qur'an, mengandung banyak sekali pelajaran penting mengenai hukum, etika, dan kisah-kisah terdahulu yang relevan hingga akhir zaman. Salah satu ayat yang paling fundamental dan sarat makna adalah **Surah Al-Ma'idah ayat 30**. Ayat ini bukan sekadar narasi sejarah, melainkan fondasi utama tentang konsep keadilan, keikhlasan, dan konsekuensi fatal dari hasad (kecemburuan).
Ayat ke-30 ini menceritakan tentang dua putra Nabi Adam AS, yaitu Qabil (Kabil) dan Habil (Habil). Mereka berdua diminta untuk mempersembahkan kurban kepada Allah SWT. Kisah ini adalah momen pertama dalam sejarah manusia di mana sebuah tindakan kekerasan fatal terjadi akibat dorongan nafsu dan iri hati.
Sebelum tindakan pembunuhan, Allah SWT menerima kurban dari salah satu di antara mereka, sementara kurban yang lain ditolak. Dalam tafsir klasik, diterima bahwa Habil adalah seorang peternak yang mempersembahkan ternak terbaiknya, sedangkan Qabil mempersembahkan hasil bumi atau tanaman yang kurang berkualitas. Perbedaan penerimaan ini didasarkan pada kualitas keikhlasan dan kesungguhan hati yang menyertai persembahan tersebut.
Penolakan kurban Qabil memicu reaksi negatif yang mendalam. Ayat ini secara eksplisit menyatakan bahwa akar masalahnya adalah "hawa nafsunya" (atau dorongan ego dan iri hati). Ini menunjukkan bahwa masalah besar dalam kehidupan, baik personal maupun sosial, sering kali berawal dari ketidakmampuan seseorang mengendalikan emosi negatif terhadap keunggulan orang lain.
Poin krusial dari Surah Al-Ma'idah ayat 30 adalah konsekuensi yang ditimbulkan: pembunuhan. Qabil tidak hanya kehilangan pahala dari persembahannya, tetapi ia juga menanggung dosa pembunuhan pertama dalam sejarah umat manusia. Frasa "maka jadilah ia seorang (termasuk) orang-orang yang merugi" memberikan kesimpulan yang sangat tegas. Kerugian yang dimaksud tidak hanya merugikan dirinya di dunia (karena harus hidup dalam ketakutan dan pelarian), tetapi juga kerugian abadi di akhirat.
Kisah ini memberikan peringatan keras bagi setiap generasi. Dalam kehidupan modern, meskipun kita tidak lagi mempersembahkan kurban secara harfiah, semangat persaingan yang sehat harus dipisahkan dari sifat iri hati. Ketika kesuksesan orang lain dilihat sebagai ancaman, alih-alih sebagai motivasi, potensi kehancuran karakter sangat besar.
Ayat ini relevan dalam konteks persaingan profesional, sosial, dan bahkan politik. Iri hati terhadap pencapaian orang lain tanpa usaha untuk menandinginya dengan cara yang benar seringkali berujung pada fitnah, sabotase, atau perilaku destruktif lainnya. Islam mengajarkan bahwa rezeki dan kedudukan telah ditetapkan oleh Allah. Tugas seorang Muslim adalah berusaha keras (ikhtiar) dan bersyukur atas apa yang diterima.
Pada akhirnya, Al-Ma'idah ayat 30 adalah sebuah peringatan abadi. Ia mengajarkan bahwa integritas hati jauh lebih penting daripada hasil lahiriah yang dipersembahkan. Keberuntungan sejati (falah) terletak pada mereka yang mampu menjaga hati mereka dari racun kecemburuan dan memilih jalan keadilan, bahkan ketika dihadapkan pada tantangan ego mereka sendiri.