Al-Walid bin Abdul Malik

Simbol Arsitektur Islam di Era Walid Representasi geometris arsitektur Islam yang megah, melambangkan pembangunan besar di bawah kekhalifahan Al-Walid.

Al-Walid bin Abdul Malik adalah salah satu tokoh penting dalam sejarah kekhalifahan Umayyah. Ia memerintah sebagai khalifah keenam dari garis Bani Umayyah, mengambil alih tampuk kekuasaan setelah ayahnya, Abdul Malik bin Marwan, yang dikenal sebagai arsitek negara Umayyah modern. Masa kepemimpinan Al-Walid, meskipun relatif singkat, dikenang sebagai era ekspansi teritorial yang masif dan, yang lebih menonjol, sebagai masa keemasan dalam pembangunan arsitektur dan infrastruktur Islam.

Era Ekspansi dan Kekuatan Militer

Di bawah Al-Walid, Kekhalifahan Umayyah mencapai puncak perluasan geografisnya. Wilayah kekuasaan membentang dari Afrika Utara hingga ke Semenanjung Iberia (Spanyol modern) di barat, dan meluas jauh ke timur hingga ke wilayah Transoxiana dan Lembah Indus. Keberhasilan militer ini tidak datang secara kebetulan, melainkan merupakan hasil dari konsolidasi administrasi yang kuat yang diwariskan oleh pendahulunya. Pasukan Muslim di bawah komandonya berhasil menaklukkan wilayah baru yang kaya sumber daya, memperkuat fondasi ekonomi dan politik dinasti. Ekspansi ini menunjukkan efektivitas sistem militer dan administrasi yang terpusat di Damaskus.

Sang Khalifah Pembangun

Namun, warisan abadi Al-Walid bin Abdul Malik terletak pada kontribusinya yang luar biasa terhadap seni dan arsitektur Islam. Ia memiliki visi untuk membangun monumen yang mencerminkan kejayaan dan kekayaan kekhalifahan. Dua proyek pembangunan utamanya yang paling terkenal adalah revitalisasi Masjid Nabawi di Madinah dan pembangunan Masjid Agung Damaskus di Suriah.

Ketika tiba di Madinah, Al-Walid menyadari bahwa Masjid Nabawi, tempat dimakamkannya Nabi Muhammad SAW, telah menjadi terlalu kecil untuk menampung jumlah jamaah yang terus bertambah. Ia memprakarsai perluasan besar-besaran masjid tersebut. Proyek ini melibatkan penggunaan material terbaik dan mengumpulkan arsitek-arsitek ternama dari berbagai penjuru negeri, termasuk dari Bizantium yang terkenal akan keahlian mosaik mereka. Hasilnya adalah sebuah mahakarya yang menjadi model bagi masjid-masjid di masa depan.

Keajaiban Mosaik di Damaskus

Proyek paling monumental lainnya adalah pembangunan Masjid Agung Damaskus, yang didirikan di atas situs gereja St. Yohanes Pembaptis yang telah ada sebelumnya. Al-Walid melakukan negosiasi dengan komunitas Kristen setempat untuk mendapatkan lahan tersebut, dan ia menunjukkan sikap toleransi dengan memastikan bahwa struktur gereja yang sudah ada tidak dihancurkan sembarangan, melainkan diintegrasikan atau dibangun kembali dengan memperhatikan nilai-nilai sejarah.

Masjid Damaskus adalah salah satu bangunan Islam pertama yang menunjukkan kematangan gaya arsitektur Islam murni. Keindahan masjid ini terutama terletak pada penggunaan mosaik emas yang melimpah, yang dibuat oleh seniman-seniman ahli yang didatangkan dari Konstantinopel. Mosaik-mosaik ini sering kali menggambarkan pemandangan alam dan surga, menghindari penggambaran figur manusia dan hewan, sesuai dengan prinsip artistik yang berkembang dalam seni Islam saat itu. Pembangunan masjid ini menandai sebuah titik balik dalam sejarah arsitektur Islam, menetapkan standar baru untuk kemegahan publik dan keagungan religius.

Administrasi dan Kebijakan Sosial

Selain proyek konstruksi, Al-Walid juga menunjukkan perhatian pada kesejahteraan rakyatnya. Ia dikenal karena upayanya meningkatkan layanan sosial. Ia mendirikan rumah sakit pertama yang didanai negara secara resmi, memastikan bahwa orang sakit dan cacat mendapatkan perawatan yang layak tanpa memandang latar belakang mereka. Kebijakan fiskalnya juga berfokus pada pembagian kekayaan yang diperoleh dari penaklukan kepada mereka yang berhak, sehingga stabilitas sosial dapat terjaga selama masa ekspansi besar-besaran. Meskipun demikian, masa pemerintahannya juga menghadapi kritik mengenai kemewahan istana dan gaya hidup elit penguasa, yang menjadi salah satu benih ketidakpuasan di masa-masa akhir kekhalifahannya.

Meskipun masa pemerintahannya berakhir dengan isu-isu internal yang mulai muncul, warisan Al-Walid bin Abdul Malik sebagai pemimpin yang memadukan ekspansi militer dengan inovasi arsitektur yang tak tertandingi telah mengukuhkan posisinya sebagai salah satu khalifah Umayyah paling berpengaruh yang membentuk wajah peradaban Islam.

🏠 Homepage