Arsitektur yang berkembang pesat di bawah pemerintahannya.
Al-Walid ibn Abd al-Malik adalah khalifah kelima dari Dinasti Umayyah yang memerintah dari Damaskus. Masa kekhalifahannya sering dianggap sebagai puncak kejayaan militer dan artistik Kekhalifahan Umayyah. Meskipun masa pemerintahannya relatif singkat, dampaknya terhadap ekspansi wilayah dan pembangunan infrastruktur Islam sangat signifikan, meletakkan fondasi bagi kekhalifahan yang lebih luas.
Di bawah kepemimpinan Al-Walid, Kekhalifahan Umayyah mencapai batas geografis terluasnya. Ia mewarisi sebuah imperium yang kuat dari ayahnya, Abd al-Malik, dan meneruskan kebijakan ekspansi agresif. Di front timur, pasukan Muslim berhasil menaklukkan wilayah Transoxiana (Asia Tengah) dan Sindh (sebagian Pakistan modern). Penaklukan ini membawa Islam ke jantung Asia, membuka jalur perdagangan dan budaya baru.
Namun, pencapaian teritorial paling dramatis terjadi di front barat. Pada tahun 711 M, di bawah komando Tariq ibn Ziyad, pasukan Muslim menyeberangi Selat Gibraltar dan memulai penaklukan Semenanjung Iberia (Hispania, yang kini meliputi Spanyol dan Portugal). Dalam waktu beberapa tahun, sebagian besar wilayah semenanjung tersebut berada di bawah kekuasaan Islam. Al-Walid adalah penguasa di mana wilayah kekuasaan Islam membentang dari Samudra Atlantik hingga ke perbatasan Tiongkok.
Selain keberhasilan militer, Al-Walid ibn Abd al-Malik dikenang sebagai seorang pembangun besar. Proyek utamanya yang paling monumental adalah rekonstruksi dan perluasan Masjid al-Umawi al-Kabir, atau yang kini dikenal sebagai Masjid Agung Damaskus. Masjid ini didirikan di atas lokasi yang sebelumnya merupakan basilika Bizantium yang dibangun di atas kuil Romawi.
Keputusan Al-Walid untuk meruntuhkan bangunan yang ada dan membangun masjid megah menunjukkan ambisi kekuasaannya dan keinginan untuk menegaskan identitas Islam di jantung ibukota. Proyek ini menarik para arsitek terbaik dari Persia, India, dan Bizantium, menghasilkan karya seni dan arsitektur yang memadukan berbagai tradisi. Penggunaan mozaik emas yang mewah di dalam masjid tersebut menjadi standar baru kemegahan Islam pada masa itu. Masjid Agung Damaskus bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga simbol kekuatan politik dan budaya Umayyah.
Pemerintahan Al-Walid juga ditandai dengan upaya sistematis untuk mengintegrasikan wilayah-wilayah baru ke dalam struktur administratif kekhalifahan. Ia berfokus pada peningkatan kesejahteraan penduduk, termasuk orang-orang non-Muslim yang hidup di bawah pemerintahan Islam (Ahl al-Dhimma). Salah satu kebijakan pentingnya adalah membangun rumah sakit umum dan tempat penampungan bagi orang miskin dan cacat di seluruh provinsi.
Ia dikenal sebagai khalifah yang relatif lebih toleran dibandingkan beberapa pendahulunya dalam hal perlakuan terhadap minoritas agama, meskipun kebijakan umum Umayyah tetap menekankan superioritas Muslim. Reformasi ini bertujuan untuk memastikan stabilitas internal yang diperlukan untuk mempertahankan wilayah yang sangat luas. Al-Walid juga mendorong penggunaan bahasa Arab dalam administrasi di wilayah-wilayah yang baru ditaklukkan, langkah penting dalam proses Arabisasi dan Islamisasi wilayah tersebut.