Panduan Etika dan Larangan dalam Al-Isra: Ayat 17-23

Tinjauan atas beberapa ayat kunci dari Surat Al-Isra (Al-Isra' / Al-Isra')

Ilustrasi Keseimbangan dan Kehidupan yang Benar Gambar abstrak yang menggambarkan keseimbangan, dengan simbol tangan terbuka dan cahaya. Keadilan & Tanggung Jawab

Surat Al-Isra, yang juga dikenal sebagai Bani Israil, adalah surat ke-17 dalam Al-Qur'an. Ayat-ayat 17 hingga 23 mengandung seperangkat prinsip fundamental dalam Islam yang mengatur hubungan seorang individu dengan Tuhannya dan sesama manusia, khususnya dalam hal etika, moralitas, dan menghindari perbuatan tercela.

Ayat-ayat ini sering kali dibahas bersama karena membentuk sebuah kesatuan pesan tentang bagaimana seharusnya seorang Muslim menjalani hidupnya dengan penuh tanggung jawab dan kesadaran ilahi. Memahami makna di balik teks Arab, transliterasi Latin, dan terjemahannya sangat penting untuk mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari.

Ayat 17
وَلَقَدْ صَرَّفْنَا فِي هَٰذَا الْقُرْآنِ لِلنَّاسِ مِن كُلِّ مَثَلٍ فَأَبَىٰ أَكْثَرُ النَّاسِ إِلَّا كُفُورًا
Wa laqad ṣarrafnā fī hādhzal-qur'āni lin-nāsi min kulli mathalin fa'abā aktsarun-nāsi illā kufūrā.
Sungguh, Kami telah menjelaskan dalam Al-Qur'an ini bermacam-macam perumpamaan bagi manusia. Tetapi kebanyakan manusia tetap tidak mau kecuali mengingkari.

Ayat pembuka ini menegaskan bahwa Al-Qur'an telah menyajikan berbagai perumpamaan dan pelajaran. Meskipun demikian, banyak manusia yang memilih untuk menutup mata dan hati mereka terhadap kebenaran tersebut, sehingga mereka menjadi sangat kufur (ingkar).

Ayat 18
أَمَّنْ كَانَ يُرِيدُ الْعَاجِلَةَ عَجَّلْنَا لَهُ فِيهَا مَا نَشَاءُ لِمَنْ نُرِيدُ ثُمَّ جَعَلْنَا لَهُ جَهَنَّمَ يَصْلَاهَا مَذْمُومًا مَدْحُورًا
A man kāna yurīdul 'āajilata 'ajjalnā lahu fīhā mā nashā'u liman nurīdu tsumma ja'alnā lahu jahannama yaṣlāhā madzmūman madḥūrā.
Barangsiapa menghendaki kehidupan duniawi (yang cepat), Kami segerakan baginya di dunia ini apa yang Kami kehendaki bagi orang yang Kami kehendaki. Kemudian Kami tentukan baginya neraka Jahannam, dia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir.

Ayat 18 memberikan peringatan keras tentang prioritas hidup. Mereka yang hanya mengejar kesenangan duniawi dan mengabaikan akhirat, mungkin akan mendapatkan sebagian dari yang mereka inginkan di dunia, namun balasan akhir mereka adalah neraka Jahannam.

Ayat 19
وَمَنْ أَرَادَ الْآخِرَةَ وَسَعَىٰ لَهَا سَعْيَهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَٰئِكَ كَانَ سَعْيُهُمْ مَشْكُورًا
Wa man arādal ākhirata wa sa'ā lahā sa'yahā wa huwa mu'minun fa'ulā'ika kāna sa'yuhum mayshkūrā.
Dan barangsiapa menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia beriman, maka mereka itulah orang-orang yang usahanya dihargai.

Kontras dengan ayat sebelumnya, ayat 19 ini memuji mereka yang beriman dan berusaha keras demi kehidupan akhirat. Usaha mereka tidak akan sia-sia dan pasti akan mendapatkan balasan terbaik dari Allah SWT.

Ayat 20
كُلًّا نُمِدُّ هَٰؤُلَاءِ وَهَٰؤُلَاءِ مِنْ عَطَاءِ رَبِّكَ وَمَا كَانَ عَطَاءُ رَبِّكَ مَحْظُورًا
Kullan numiddu hā'ulā'i wa hā'ulā'i min 'athā'i rabbika wa mā kāna 'athā'u rabbika maḥẓūrā.
Kepada masing-masing (pihak) golongan, Kami beri pertolongan dari kemurahan Tuhanmu. Dan karunia Tuhanmu tidak terhalang.

Allah SWT menegaskan bahwa pemberian-Nya meliputi semua orang, baik yang berbuat baik maupun yang berbuat maksiat di dunia. Namun, pemberian di dunia berbeda dengan pemberian di akhirat yang kekal dan terjamin bagi orang beriman.

Ayat 21
انظُرْ كَيْفَ فَضَّلْنَا بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ ۚ وَلَلْآخِرَةُ أَكْبَرُ دَرَجَاتٍ وَأَكْبَرُ تَفْضِيلًا
Unẓur kaifa faḍḍalnā ba'ḍahum 'alā ba'ḍin, wa lal-ākhiratu akbaru darajātinw wa akbaru tafḍīlā.
Perhatikanlah, bagaimana Kami melebihkan sebagian mereka atas sebagian yang lain (dalam beberapa hal di dunia), dan sungguh kehidupan akhirat lebih tinggi derajatnya dan lebih besar keutamaannya.

Ayat ini mengingatkan manusia akan perbedaan karunia yang diberikan di dunia, tetapi menekankan bahwa keunggulan hakiki terletak pada derajat dan kemuliaan di akhirat.

Ayat 22
لَا تَجْعَلْ مَعَ اللَّهِ إِلَٰهًا آخَرَ فَتَقْعُدَ مَذْمُومًا مَخْسُورًا
Lā taj'al ma'al-lāhi ilāhan aakhara fataq'uda madzmūman makhsūrā.
Janganlah engkau menjadikan tuhan yang lain di samping Allah, karena engkau akan menjadi tercela dan terhina.

Ini adalah larangan keras terhadap syirik (mempersekutukan Allah). Menyembah selain Allah adalah perbuatan yang menyebabkan kehinaan, baik di dunia maupun di akhirat.

Ayat 23
وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا
Wa qaḍā rabbuka allā ta'budū illā iyyāhu wa bil-wālidayni iḥsānā. Immā yabluganna 'indakal-kibara aḥaduhumā aw kilāhumā falā taqul lahumā 'uffiw wa lā tantharhumā wa qul lahumā qawlan karīmā.
Dan Tuhanmu telah menetapkan agar kamu tidak menyembah selain Dia, dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau keduanya sampai mencapai usia lanjut (tua) di sisimu, maka janganlah sekali-kali engkau mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang mulia.

Ayat pamungkas ini menegaskan dua pilar utama ajaran Islam: Tauhid (mengesakan Allah) dan Birrul Walidain (berbakti kepada orang tua). Penekanan pada berbuat baik kepada orang tua, terutama saat mereka lanjut usia, menunjukkan tingginya nilai penghormatan dalam Islam. Perintah untuk tidak mengucapkan "ah" atau membentak adalah batasan etika terkecil yang harus dijaga.

Pelajaran Utama dari Ayat 17-23 Al-Isra

Rangkaian ayat ini memberikan kerangka moral yang komprehensif. Poin sentralnya adalah penentuan prioritas hidup: apakah kita mengutamakan kesenangan sesaat di dunia (Ayat 18) atau mencari keridaan Allah melalui amal saleh di akhirat (Ayat 19). Keseimbangan antara pengabdian tunggal kepada Allah (Tauhid) dan etika sosial terbaik, seperti berbakti kepada orang tua (Ayat 22-23), adalah inti dari pesan ini.

Menghargai orang tua dengan ucapan yang mulia ("qaulan karima") adalah manifestasi nyata dari keimanan. Perintah ini menunjukkan bahwa ibadah tidak hanya terbatas pada ritual vertikal kepada Allah, tetapi juga mencakup kualitas hubungan horizontal dengan sesama manusia, terutama mereka yang telah membesarkan kita. Dengan demikian, ayat-ayat ini menjadi pedoman abadi bagi seorang Muslim yang beriman untuk menjalani hidup yang seimbang, bermanfaat, dan diridhai oleh Sang Pencipta.

🏠 Homepage