Tinjauan atas beberapa ayat kunci dari Surat Al-Isra (Al-Isra' / Al-Isra')
Surat Al-Isra, yang juga dikenal sebagai Bani Israil, adalah surat ke-17 dalam Al-Qur'an. Ayat-ayat 17 hingga 23 mengandung seperangkat prinsip fundamental dalam Islam yang mengatur hubungan seorang individu dengan Tuhannya dan sesama manusia, khususnya dalam hal etika, moralitas, dan menghindari perbuatan tercela.
Ayat-ayat ini sering kali dibahas bersama karena membentuk sebuah kesatuan pesan tentang bagaimana seharusnya seorang Muslim menjalani hidupnya dengan penuh tanggung jawab dan kesadaran ilahi. Memahami makna di balik teks Arab, transliterasi Latin, dan terjemahannya sangat penting untuk mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari.
Ayat pembuka ini menegaskan bahwa Al-Qur'an telah menyajikan berbagai perumpamaan dan pelajaran. Meskipun demikian, banyak manusia yang memilih untuk menutup mata dan hati mereka terhadap kebenaran tersebut, sehingga mereka menjadi sangat kufur (ingkar).
Ayat 18 memberikan peringatan keras tentang prioritas hidup. Mereka yang hanya mengejar kesenangan duniawi dan mengabaikan akhirat, mungkin akan mendapatkan sebagian dari yang mereka inginkan di dunia, namun balasan akhir mereka adalah neraka Jahannam.
Kontras dengan ayat sebelumnya, ayat 19 ini memuji mereka yang beriman dan berusaha keras demi kehidupan akhirat. Usaha mereka tidak akan sia-sia dan pasti akan mendapatkan balasan terbaik dari Allah SWT.
Allah SWT menegaskan bahwa pemberian-Nya meliputi semua orang, baik yang berbuat baik maupun yang berbuat maksiat di dunia. Namun, pemberian di dunia berbeda dengan pemberian di akhirat yang kekal dan terjamin bagi orang beriman.
Ayat ini mengingatkan manusia akan perbedaan karunia yang diberikan di dunia, tetapi menekankan bahwa keunggulan hakiki terletak pada derajat dan kemuliaan di akhirat.
Ini adalah larangan keras terhadap syirik (mempersekutukan Allah). Menyembah selain Allah adalah perbuatan yang menyebabkan kehinaan, baik di dunia maupun di akhirat.
Ayat pamungkas ini menegaskan dua pilar utama ajaran Islam: Tauhid (mengesakan Allah) dan Birrul Walidain (berbakti kepada orang tua). Penekanan pada berbuat baik kepada orang tua, terutama saat mereka lanjut usia, menunjukkan tingginya nilai penghormatan dalam Islam. Perintah untuk tidak mengucapkan "ah" atau membentak adalah batasan etika terkecil yang harus dijaga.
Pelajaran Utama dari Ayat 17-23 Al-Isra
Rangkaian ayat ini memberikan kerangka moral yang komprehensif. Poin sentralnya adalah penentuan prioritas hidup: apakah kita mengutamakan kesenangan sesaat di dunia (Ayat 18) atau mencari keridaan Allah melalui amal saleh di akhirat (Ayat 19). Keseimbangan antara pengabdian tunggal kepada Allah (Tauhid) dan etika sosial terbaik, seperti berbakti kepada orang tua (Ayat 22-23), adalah inti dari pesan ini.
Menghargai orang tua dengan ucapan yang mulia ("qaulan karima") adalah manifestasi nyata dari keimanan. Perintah ini menunjukkan bahwa ibadah tidak hanya terbatas pada ritual vertikal kepada Allah, tetapi juga mencakup kualitas hubungan horizontal dengan sesama manusia, terutama mereka yang telah membesarkan kita. Dengan demikian, ayat-ayat ini menjadi pedoman abadi bagi seorang Muslim yang beriman untuk menjalani hidup yang seimbang, bermanfaat, dan diridhai oleh Sang Pencipta.