Perjalanan Al-Isra adalah salah satu mukjizat agung yang dialami oleh Nabi Muhammad SAW. Peristiwa ini bukan sekadar kisah perjalanan fisik, melainkan tonggak penting dalam sejarah kenabian yang menandakan kedekatan luar biasa antara Rasulullah dengan Rabb-nya. Secara harfiah, Isra berarti perjalanan di malam hari.
Peristiwa ini terjadi pada malam hari yang tenang, setelah masa-masa sulit yang penuh cobaan bagi Nabi Muhammad SAW di Makkah, dikenal sebagai tahun kesedihan. Allah SWT bermaksud menghibur dan mengangkat derajat Rasul-Nya setelah beliau kehilangan paman tercintanya, Abu Thalib, dan istri yang selalu mendukungnya, Khadijah RA.
Mukjizat Al-Isra dimulai ketika Nabi Muhammad SAW sedang beristirahat di dekat Ka'bah, antara tidur dan jaga. Malaikat Jibril datang kepadanya dan membelah dada beliau untuk membersihkan hati dari segala keraguan dan keburukan. Setelah itu, Nabi dipertemukan dengan Buraq, makhluk luar biasa yang lebih cepat dari kilat, yang menjadi kendaraan beliau.
Perjalanan pertama adalah Al-Isra, yaitu perjalanan malam dari Masjidil Haram di Makkah menuju Al-Aqsa di Yerusalem (Palestina modern). Jarak yang biasanya ditempuh dengan unta selama berminggu-minggu, diselesaikan Nabi dalam waktu singkat. Tiba di Masjidil Aqsa, Nabi Muhammad SAW bertemu dengan para nabi terdahulu seperti Ibrahim, Musa, dan Isa, di mana beliau menjadi imam shalat bagi mereka. Momen ini menjadi penegasan akan kedudukan beliau sebagai penutup para nabi.
Setelah shalat di Al-Aqsa, perjalanan dilanjutkan dengan Mi'raj. Mi'raj adalah kenaikan vertikal dari bumi menuju lapisan-lapisan langit. Dalam perjalanan ini, Nabi Muhammad SAW didampingi Jibril AS. Setiap kali melewati satu lapisan langit, Nabi diperlihatkan pemandangan alam raya dan berjumpa dengan ruh-ruh para nabi terdahulu.
Di langit pertama, beliau bertemu Nabi Adam AS. Di langit kedua, bertemu Nabi Yahya dan Nabi Isa. Berlanjut hingga ke langit ketujuh, di mana beliau bertemu Nabi Ibrahim AS yang sedang bersandar pada Baitul Ma'mur. Setiap pertemuan tersebut sarat akan makna spiritual dan pengajaran ilahi.
Puncak dari Mi'raj adalah ketika Nabi Muhammad SAW mencapai batas akhir yang dapat dijangkau makhluk ciptaan, yaitu Sidratul Muntaha (Pohon Teratai Terakhir). Di tempat yang agung inilah, Allah SWT mewajibkan umat Islam untuk melaksanakan shalat lima waktu sehari semalam. Kewajiban yang fundamental ini merupakan inti spiritual dari keseluruhan perjalanan.
Kisah Al-Isra dan Mi'raj mengandung banyak hikmah yang relevan hingga hari ini. Pertama, peristiwa ini menegaskan kebenaran kenabian Muhammad SAW di hadapan kaum yang meragukan beliau, sebab mustahil bagi manusia biasa untuk melakukan perjalanan tersebut.
Kedua, penetapan shalat lima waktu adalah hadiah terbesar. Shalat menjadi 'mi'raj' harian bagi setiap Muslim, di mana hubungan langsung dengan Allah SWT dapat terjalin tanpa perantara, memisahkan seorang mukmin dari hiruk pikuk duniawi, meskipun hanya sesaat. Ini adalah cara Allah memberikan ketenangan dan keteguhan hati kepada Nabi-Nya.
Ketiga, perjalanan ini menunjukkan keluasan alam semesta ciptaan Allah SWT. Nabi diperlihatkan keagungan dan kekuasaan Tuhan yang tak terbatas. Pengalaman ini menguatkan iman beliau dan memberikan perspektif kosmik tentang peran manusia di dunia.
Meskipun menghadapi tantangan besar dalam menyampaikan kabar ini kepada kaumnya saat kembali ke Makkah, mukjizat Al-Isra dan Mi'raj menjadi bukti nyata bahwa petunjuk Ilahi akan selalu datang pada waktu yang paling dibutuhkan, memberikan cahaya di tengah kegelapan malam.
Sebagai kesimpulan, Al-Isra wal Mi'raj bukan hanya perjalanan geografis yang menakjubkan, tetapi juga sebuah perjalanan spiritual mendalam yang mengukuhkan fondasi ibadah utama umat Islam, yaitu shalat, serta memberikan penghormatan tertinggi kepada Rasulullah SAW.