Surah Az-Zalzalah (atau Al-Zalzalah) adalah surah ke-99 dalam Al-Qur'an yang memiliki fokus tunggal namun sangat mendalam: menggambarkan goncangan dahsyat yang akan melanda bumi saat Hari Kiamat tiba. Memahami ayat 1 hingga 7 memberikan gambaran visual yang mengerikan namun penuh peringatan mengenai akhir kehidupan duniawi dan dimulainya perhitungan amal.
Berikut adalah tujuh ayat pertama dari Surah Az-Zalzalah:
Ayat pertama, "Apabila bumi diguncangkan dengan guncangan yang dahsyat," langsung menyajikan pemandangan kiamat yang paling ekstrem. Guncangan ini bukanlah gempa bumi biasa yang sering kita rasakan; ini adalah guncangan final, guncangan yang menghancurkan semua struktur dan tatanan fisik dunia. Kata 'zalzalah' menunjukkan getaran yang sangat hebat dan berulang-ulang.
Ayat kedua melanjutkan gambaran kehancuran: "Dan bumi telah mengeluarkan isi beratnya." Para mufassir menafsirkan "isi beratnya" ini sebagai dua hal utama. Pertama, segala mayat manusia yang telah terkubur di dalamnya akan dimuntahkan ke permukaan. Kedua, segala harta karun terpendam, logam mulia, dan benda-benda yang selama ini tersembunyi di perut bumi akan dikeluarkan ke permukaan. Bumi secara harfiah akan mengungkapkan semua rahasia yang disimpannya selama sejarah manusia.
Dalam kegaduhan dan kehancuran tersebut, manusia akan diliputi kebingungan luar biasa. Ayat ketiga menggambarkan reaksi kolektif umat manusia: "Dan manusia bertanya, 'Ada apa dengan bumi ini?'" Pertanyaan ini lahir dari ketidakpercayaan dan kengerian total, karena apa yang mereka saksikan melampaui batas nalar dan pengalaman hidup mereka. Ini adalah momen ketika semua ilusi duniawi hancur lebur.
Namun, momen paling dramatis terjadi pada ayat keempat dan kelima. Bumi, yang selama ini diam dan menjadi saksi bisu segala perbuatan manusia, tiba-tiba diperintahkan untuk berbicara. "Pada hari itu, bumi menyampaikan beritanya, karena sesungguhnya Tuhanmu telah memerintahkan demikian kepadanya." Bayangkan, setiap langkah, setiap kebaikan tersembunyi, setiap kejahatan yang dilakukan di atas permukaan atau di bawah tanah, akan diungkapkan oleh bumi itu sendiri sebagai kesaksian yang tak terbantahkan di hadapan Sang Pencipta.
Transisi dari kehancuran fisik menuju perhitungan amal terlihat jelas pada ayat keenam: "Pada hari itu manusia keluar dari kubur mereka dalam keadaan berkelompok-kelompok, untuk diperlihatkan kepada mereka balasan perbuatan mereka." Manusia dikumpulkan, bukan lagi dalam keseragaman, melainkan dalam kelompok-kelompok yang mencerminkan amalan mereka di dunia, siap untuk menerima vonis.
Keadilan mutlak Allah ditegaskan dalam ayat pamungkas dari bagian ini: "Maka barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat balasannya." Kata 'zarrah' (atom atau partikel terkecil) menekankan bahwa tidak ada satu pun perbuatan, sekecil apapun yang dianggap remeh oleh manusia, yang luput dari perhitungan Allah. Janji ini berlaku juga untuk keburukan, sebagaimana dijelaskan dalam ayat-ayat setelahnya.
Surah Al-Zalzalah ayat 1 sampai 7 berfungsi sebagai pengingat tegas bahwa kehidupan dunia ini bersifat sementara dan hanya merupakan ladang penanaman. Goncangan dahsyat hanyalah prolog dari pertanggungjawaban abadi yang menuntut kejujuran total dalam setiap tindakan kita.