Surah Az-Zalzalah (atau Surat Al-Zalzalah), yang berarti "Kegoncangan," adalah surah ke-99 dalam Al-Qur'an. Meskipun hanya terdiri dari delapan ayat, surah ini mengandung peringatan yang sangat kuat dan gamblang mengenai Hari Kiamat, yaitu hari ketika bumi akan mengalami guncangan dahsyat yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Ayat-ayat awal surah ini menggambarkan suasana horor dan kebingungan yang melanda seluruh alam semesta saat kiamat tiba. Bumi akan melepaskan semua beban yang selama ini disimpannya, dan manusia akan bertanya, "Apa yang terjadi pada bumi ini?" Namun, fokus utama dari peringatan ini sering kali tertuju pada bagaimana setiap perbuatan sekecil apa pun akan dipertanggungjawabkan.
Setelah menggambarkan goncangan dahsyat (ayat 1-4), Allah SWT kemudian memperkenalkan salah satu ayat kunci yang memberikan landasan teologis mengenai perhitungan amal. Ayat kelima ini secara eksplisit menekankan bahwa setiap rahasia dan perbuatan, baik yang tersembunyi maupun yang tampak, akan diungkapkan.
Kata kunci dalam ayat ini adalah "mitsqala dzarrah" (مِثْقَالَ ذَرَّةٍ), yang secara harfiah berarti seberat atom atau seberat biji yang sangat kecil, bahkan lebih kecil dari yang bisa dilihat mata telanjang. Ini menunjukkan standar keadilan Ilahi yang sangat presisi. Tidak ada amal kebaikan, betapapun kecilnya, yang akan luput dari perhitungan dan balasan.
Ayat kelima ini, bersamaan dengan ayat keenamnya yang berbunyi, "Wa man ya'mal mistqala dzarratin syarran yarah," berfungsi sebagai dua sisi mata uang dalam penilaian amal. Keseimbangan antara keduanya menekankan keadilan absolut. Jika kebaikan sekecil apa pun akan dilihat, maka keburukan sekecil apa pun juga akan ditampakkan.
Implikasi spiritualnya sangat besar bagi seorang Muslim. Ayat ini menghilangkan keraguan apakah perbuatan baik yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi, seperti sedekah diam-diam atau menahan lisan dari ghibah, benar-benar berarti. Dalam konteks kehidupan modern yang serba cepat dan seringkali cenderung mengukur nilai dari pengakuan publik, Al Zalzalah Ayat 5 mengingatkan bahwa penilaian sejati datang dari Yang Maha Melihat.
Ayat ini seharusnya menjadi motivator kuat untuk terus berbuat baik, bahkan ketika kita merasa lelah atau ketika dunia tidak memberikan apresiasi. Kita didorong untuk tidak pernah menyepelekan niat baik, seperti tersenyum kepada saudara, menyingkirkan duri dari jalan, atau memberikan nasihat dengan cara yang lembut. Semua itu dicatat dan akan diperlihatkan kembali kepada pelakunya pada hari ketika pertanggungjawaban mutlak harus ditunaikan.
Ilustrasi Timbangan Keadilan untuk Perhitungan Amal Sekecil Apapun.
Mempelajari Al Zalzalah Ayat 5 bukan bertujuan untuk menakut-nakuti semata, melainkan untuk menanamkan kesadaran (taqwa). Ketika seorang mukmin menyadari bahwa setiap kata, pandangan, dan tindakan tercatat, ia akan lebih berhati-hati dalam perilakunya. Hal ini mendorong introspeksi diri yang jujur.
Ketika kita dihadapkan pada pilihan antara melakukan hal yang mudah namun meragukan, atau melakukan hal yang sulit namun benar sesuai syariat, ayat ini menjadi penyeimbang. Kita memilih yang benar, sebab kita tahu bahwa 'mitsqala dzarrah' kebaikan akan lebih berharga daripada kemudahan sesaat yang berujung pada potensi kerugian abadi. Surah ini menegaskan bahwa tidak ada hal yang tersembunyi dari ilmu Allah SWT, dan kesadaran ini adalah fondasi untuk menjalani hidup yang bertanggung jawab di dunia, demi meraih keselamatan di akhirat.