Surah Az-Zalzalah (Kegoncangan) adalah surah ke-99 dalam Al-Qur'an yang memiliki kekuatan besar dalam menyampaikan pesan tentang hari kiamat dan pertanggungjawaban setiap perbuatan manusia. Ayat-ayat terakhir dari surah ini, yaitu ayat 6 hingga 8, secara spesifik menyoroti bagaimana setiap tindakan, sekecil apapun, akan diperhitungkan di hadapan Allah SWT.
Ayat-ayat ini berfungsi sebagai pengingat universal tentang keadilan ilahi yang mutlak. Mereka menggambarkan sebuah momen ketika seluruh alam semesta mengalami kegoncangan hebat, menandai akhir dari kehidupan dunia dan dimulainya kehidupan akhirat.
Ayat keenam, "إِذَا زُلْزِلَتِ الْأَرْضُ زِلْزَالَهَا" (Ketika bumi diguncangkan dengan goncangan hebatnya), membuka tirai peristiwa dahsyat pertama. Kegoncangan ini bukanlah gempa biasa; ini adalah guncangan total yang menandai berakhirnya sistem kehidupan yang kita kenal. Para mufassir menjelaskan bahwa ini adalah goncangan pertama dan yang paling dahsyat, yang menyebabkan gunung-gunung berhamburan dan lautan meluap.
Dilanjutkan pada ayat ketujuh, "وَأَخْرَجَتِ الْأَرْضُ أَثْقَالَهَا" (dan bumi mengeluarkan isi yang dibawanya). Frasa "atsqalaha" (isi atau beban beratnya) memiliki beberapa interpretasi. Pertama, bumi memuntahkan semua benda mati yang terpendam di dalamnya, seperti logam, batu bara, dan harta karun yang selama ini tersembunyi. Kedua, yang lebih mendalam, bumi mengeluarkan jenazah seluruh manusia yang pernah hidup di atas permukaannya, yang selama ini menjadi 'beban' tersembunyi bumi.
Ini adalah realitas bahwa bumi, yang selama ini menjadi saksi bisu setiap tindakan kita, kini dipaksa untuk "bersaksi" dan mengeluarkan semua yang pernah terjadi di atasnya, termasuk jasad-jasad yang akan dibangkitkan untuk perhitungan.
Ayat kedelapan, "وَقَالَ الْإِنْسَانُ مَا لَهَا" (dan manusia bertanya, "Ada apa dengan bumi ini?"), menggambarkan kepanikan kolektif umat manusia. Dalam kondisi kiamat, di mana hukum alam telah runtuh, insting pertama manusia adalah kebingungan dan ketakutan luar biasa.
Pertanyaan ini mencerminkan hilangnya kesadaran akan realitas sebelumnya. Manusia yang selama hidupnya fokus pada urusan duniawi kini dihadapkan pada realitas kosmik yang melampaui pemahaman mereka. Kegoncangan ini menjadi penanda bahwa perhitungan akan segera dimulai, dan segala bentuk penipuan serta pengingkaran akan berakhir.
Meskipun ayat 6-8 secara harfiah menjelaskan peristiwa kiamat, maknanya memiliki implikasi kuat bagi kehidupan sehari-hari kita. Surat Az-Zalzalah secara keseluruhan, terutama jika digabungkan dengan ayat 7 dan 8 dari bagian akhir surah (yang sering diartikan sebagai ayat 7 dan 8 secara keseluruhan), mengajarkan tentang akuntabilitas total. Konsep bahwa setiap perbuatan sekecil apapun, seberat sebutir atom (zarrah), akan dicatat dan diperlihatkan, menuntut seorang mukmin untuk senantiasa waspada.
Kegoncangan bumi adalah simbol dari kegoyahan spiritual. Jika kita tidak mempersiapkan diri secara spiritual, kekhawatiran yang dialami manusia pada Hari Kiamat bisa menjadi cerminan dari kekhawatiran kita saat menghadapi konsekuensi perbuatan buruk di dunia.
Oleh karena itu, perenungan mendalam terhadap ayat-ayat ini memotivasi kita untuk melakukan muhasabah (introspeksi) secara berkala. Memastikan bahwa fondasi amal kita kokoh, sehingga ketika kegoncangan itu benar-benar datang—baik dalam bentuk ujian kecil sehari-hari maupun kiamat besar—kita termasuk golongan yang selamat karena amal baik kita jauh lebih berat di timbangan keadilan Allah SWT.