Surah Al-Isra, yang juga dikenal sebagai Surah Bani Israil, dibuka dengan sebuah pernyataan agung yang langsung memukau perhatian pembaca dan pendengar: Subhanallah (Maha Suci Allah). Penggunaan kalimat tasbih ini pada pembuka surah menunjukkan betapa luar biasa dan tak terjangkaunya peristiwa yang akan dikisahkan. Peristiwa yang dimaksud adalah Isra Mi'raj, perjalanan agung Nabi Muhammad SAW. Ayat pertama ini bukan sekadar narasi sejarah, melainkan sebuah deklarasi keesaan dan kekuasaan mutlak Allah SWT atas segala ciptaan-Nya, bahkan atas batasan ruang dan waktu yang kita pahami.
Ayat ini menegaskan bahwa perjalanan tersebut dilakukan "pada suatu malam" (lailan). Waktu malam seringkali diasosiasikan dengan keterasingan, keheningan, dan ketidakmungkinan bagi manusia biasa. Namun, bagi Allah, malam hanyalah sebuah kanvas untuk menampakkan kebesaran-Nya. Pengungkapan ini berfungsi untuk menenangkan hati Nabi Muhammad SAW di tengah tekanan dakwah, sekaligus sebagai bantahan tegas terhadap keraguan kaum musyrikin Mekkah yang meragukan kemampuan fisik Nabi untuk melakukan perjalanan sejauh itu.
Perjalanan yang pertama disebut Isra, yakni perjalanan malam dari Mekkah (Al-Masjidilharam) menuju Baitul Maqdis di Yerusalem (Al-Masjidil Aqsa). Masjidil Aqsa memiliki kedudukan istimewa karena merupakan kiblat pertama umat Islam sebelum akhirnya kiblat dipindahkan ke Ka'bah. Kata "Al-Aqsa" sendiri berarti "yang terjauh". Jarak fisik yang luar biasa jauh ini ditempuh dalam semalam, sebuah demonstrasi nyata bahwa hukum fisika alam semesta tunduk pada kehendak Ilahi.
Fakta bahwa perjalanan ini dimulai dari Masjidilharam dan berakhir di Masjidil Aqsa menggarisbawahi kesinambungan risalah kenabian. Nabi Muhammad SAW bukan datang membawa ajaran baru yang terputus, melainkan meneruskan jejak para nabi terdahulu yang juga berdakwah di wilayah suci tersebut. Masjidil Aqsa, sebagaimana ditegaskan dalam ayat, adalah tempat yang "Kami berkahi sekelilingnya" (barakna hauwalahu). Keberkahan ini mencakup spiritualitas, sejarah kenabian (tempat banyak nabi diutus), dan potensi alam di sekitarnya.
Tujuan utama dari perjalanan luar biasa ini dijelaskan secara eksplisit: "agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami" (linuriyahu min ayatina). Isra Mi'raj bukanlah perjalanan rekreasi atau sekadar 'wisata spiritual' tanpa makna. Ia adalah sebuah forum pendidikan ilahi di mana Nabi SAW diberi kesempatan langsung untuk menyaksikan hakikat alam semesta dan dimensi gaib yang tidak dapat diakses oleh akal manusia biasa.
Tanda-tanda yang diperlihatkan bisa merujuk pada berbagai hal, mulai dari keajaiban di tujuh lapis langit saat Mi'raj (yang menyertai Isra), hingga pemandangan tentang masa lalu dan masa depan umat manusia, serta kondisi orang-orang yang beriman dan yang ingkar. Penglihatan langsung ini memberikan penguatan iman (tsabat) yang tak tertandingi kepada Nabi Muhammad SAW, modal penting untuk melanjutkan perjuangan dakwah dengan keyakinan penuh.
Ayat ini ditutup dengan penegasan sifat Allah yang Maha Agung: "Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat" (Innallaha Huwas-Sami’ul-Bashir). Penutup ini sangat relevan dengan konteks perjalanan tersebut. Allah mendengar setiap doa dan pengaduan Nabi selama perjalanan, dan Dia melihat setiap detail dari perjalanan agung tersebut.
Bagi umat Islam yang mendengarkan atau membaca ayat ini, kesimpulan ini membawa rasa aman. Keyakinan bahwa Allah mendengar keluh kesah kaum tertindas dan melihat penderitaan mereka menjadi sumber kekuatan spiritual. Setiap perjuangan di jalan Allah tidak akan luput dari pengawasan dan pendengaran-Nya. Oleh karena itu, Al-Isra ayat 1 berfungsi ganda: sebagai peninggian derajat Nabi Muhammad SAW melalui mukjizat fisik yang tak tertandingi, dan sebagai penguat fondasi tauhid bagi umatnya hingga akhir zaman.
Dengan demikian, satu ayat pembuka ini telah memuat esensi tasbih, mukjizat, keberkahan tempat, tujuan wahyu, hingga sifat-sifat Allah yang sempurna, menjadikannya salah satu ayat paling kaya makna dalam Al-Qur'an.