ا

Arab Pegon Sunda: Jembatan Budaya dan Kearifan Lokal

Di sudut-sudut tanah Sunda, terutama di pesantren-pesantren tradisional dan masyarakat yang menjaga warisan leluhurnya, terbentang sebuah khazanah literasi unik yang seringkali luput dari perhatian khalayak luas. Khazanah ini dikenal sebagai Arab Pegon Sunda, sebuah sistem penulisan yang memadukan aksara Arab dengan pelafalan dan struktur bahasa Sunda. Ia bukan sekadar metode pencatatan, melainkan cerminan dari sejarah panjang interaksi budaya, adaptasi, dan pemertahanan identitas keagamaan serta lokal.

Arab Pegon Sunda lahir dari kebutuhan mendesak para ulama dan santri di masa lalu. Ketika ajaran Islam mulai tersebar luas di Nusantara, teks-teks keagamaan berbahasa Arab menjadi sumber utama pengetahuan. Namun, untuk memudahkan pemahaman bagi masyarakat pribumi yang belum fasih berbahasa Arab, diperlukan sebuah media transfer pengetahuan yang lebih akrab. Di sinilah aksara Arab, yang sudah dikenal luas karena hubungannya dengan Al-Qur'an, diadaptasi untuk merepresentasikan bunyi-bunyi bahasa Sunda yang khas.

Proses Adaptasi yang Inovatif

Pembentukan Arab Pegon Sunda bukanlah proses yang sederhana. Para cendekiawan muslim Nusantara, dengan kepiawaian linguistik dan pemahaman mendalam tentang kedua bahasa, harus menemukan cara untuk menyusun huruf-huruf Arab agar sesuai dengan fonem-fonem Sunda yang tidak selalu ada dalam bahasa Arab standar. Misalnya, bunyi 'ng' dalam bahasa Sunda dapat direpresentasikan dengan kombinasi huruf Arab tertentu, begitu pula dengan bunyi 'c', 'eu', dan huruf-huruf vokal maupun konsonan lain yang khas Sunda. Penambahan tanda baca atau diakritik khusus terkadang juga digunakan untuk menandai perbedaan pelafalan.

Sistem ini kemudian menjadi sangat vital dalam penyebaran ilmu agama, terutama kitab-kitab klasik berbahasa Arab yang diterjemahkan dan diberi syarah (penjelasan) dalam bahasa Sunda. Ribuan naskah, mulai dari fiqih, tafsir, hadits, hingga tasawuf, ditulis dalam aksara Arab Pegon Sunda. Karya-karya ini menjadi kurikulum tidak tertulis di banyak lembaga pendidikan agama di Jawa Barat, melestarikan ajaran-ajaran Islam sembari memperkaya khazanah intelektual lokal.

Lebih dari Sekadar Teks: Identitas dan Kearifan

Keberadaan Arab Pegon Sunda tidak hanya berhenti pada ranah teknis penulisan. Ia telah menjelma menjadi simbol identitas budaya yang kuat. Bagi masyarakat Sunda yang religius, menulis dan membaca dalam Arab Pegon adalah sebuah kebanggaan, sebuah cara untuk menunjukkan akar keilmuan mereka yang bersumber dari ajaran agama sekaligus terikat pada tradisi lisan dan tulisan leluhur mereka. Ini adalah manifestasi dari "agama budaya" atau "budaya agama" yang hidup harmonis.

Naskah-naskah Arab Pegon Sunda yang masih tersimpan di berbagai perpustakaan pribadi, pesantren, maupun arsip daerah, merupakan harta karun yang menyimpan banyak kearifan lokal. Di dalamnya terkandung tafsir-tafsir sosial, ajaran moral yang disesuaikan dengan konteks masyarakat Sunda, bahkan mungkin resep-resep pengobatan tradisional yang dibalut dalam narasi keagamaan. Studi mendalam terhadap naskah-naskah ini dapat membuka tabir baru mengenai pemikiran ulama Sunda dari masa lampau dan relevansinya bagi kehidupan kontemporer.

Tantangan dan Harapan di Era Digital

Di era digital yang serba cepat, keberadaan Arab Pegon Sunda menghadapi tantangan tersendiri. Minat generasi muda untuk mempelajarinya terkadang menurun, tergerus oleh kemudahan akses informasi dalam bahasa Indonesia atau bahasa Inggris, serta sistem pendidikan formal yang lebih umum. Namun, di sisi lain, teknologi digital juga membuka peluang baru. Upaya digitalisasi naskah-naskah kuno, pengembangan font Arab Pegon untuk komputer dan gawai, serta program-program edukasi daring, menjadi harapan besar untuk melestarikan dan memperkenalkan kembali khazanah berharga ini kepada generasi mendatang.

Melalui pemahaman dan apresiasi terhadap Arab Pegon Sunda, kita tidak hanya menyelamatkan sebuah sistem penulisan, tetapi juga merawat jalinan sejarah antara agama, budaya, dan identitas lokal. Ini adalah warisan yang patut dijaga kelestariannya, menjadi bukti nyata bahwa adaptasi budaya dapat melahirkan kekayaan intelektual yang tak ternilai.

🏠 Homepage