Memahami Kekuatan dan Kepercayaan: Al Hijr Ayat 21

Simbol Rezeki dan Kekuatan Ilahi

Dalam lembaran suci Al-Qur'an, terdapat banyak sekali ayat yang berfungsi sebagai pengingat, penenang jiwa, sekaligus penegasan mutlak terhadap kekuasaan dan keesaan Allah SWT. Salah satu ayat yang sangat kuat dalam menyampaikan pesan tentang ketergantungan total kepada Sang Pencipta adalah Surah Al Hijr ayat 21.

وَإِن مِّن شَيْءٍ إِلَّا عِندَنَا خَزَائِنُهُۥ وَمَا نُنَزِّلُهُۥٓ إِلَّا بِقَدَرٍ مَّعْلُومٍ
"Dan tidak ada suatu pun melainkan di sisi Kami-lah khazanah-khazanahnya; dan Kami tidak menurunkannya melainkan dengan ukuran yang tertentu."

Makna Mendalam Al Hijr Ayat 21

Ayat ini, yang terletak dalam Surah Al Hijr (Surah ke-15), adalah sebuah deklarasi tegas mengenai kedaulatan Allah atas segala sesuatu di alam semesta. Ayat 21 mengajarkan kita tentang dua konsep utama yang saling berkaitan erat: kepemilikan mutlak dan keteraturan ilahi.

1. Kepemilikan Mutlak (Khazanah Allah)

Frasa "wa in min shay'in illā 'indana khazā'inuhu" (dan tidak ada suatu pun melainkan di sisi Kami-lah khazanah-khazanahnya) adalah penegasan bahwa segala sesuatu—mulai dari sumber daya alam yang melimpah, kekayaan materi, hingga hal-hal non-materi seperti rahmat, ilmu pengetahuan, dan takdir—berada di bawah kendali dan penyimpanan Allah SWT.

Ini berarti bahwa manusia, seberapa pun kemajuan atau kekuatannya, tidak memiliki sumber daya itu secara independen. Apa yang kita nikmati adalah titipan yang sewaktu-waktu dapat ditarik atau diberikan sesuai kehendak-Nya. Dalam konteks rezeki (rizq), ayat ini menghilangkan kekhawatiran berlebihan tentang kelangkaan. Jika Allah adalah pemegang kunci semua perbendaharaan, maka tidak ada yang mustahil bagi-Nya untuk memberikan rezeki kepada siapa pun yang Dia kehendaki.

Pelajaran terpenting di sini adalah untuk mengarahkan hati dan harapan hanya kepada Allah. Mencari kekayaan atau pertolongan dari selain sumber utama akan selalu menyisakan kekosongan dan ketidakpastian.

2. Keteraturan dan Ketetapan Ukuran

Bagian kedua ayat, "wa mā nunazziluhu illā biqadarin ma'lūm" (dan Kami tidak menurunkannya melainkan dengan ukuran yang tertentu), menjelaskan mekanisme distribusi dari khazanah tersebut. Allah tidak memberikan segala sesuatu secara serampangan atau tanpa perhitungan.

Setiap tetes hujan, setiap butir pasir, setiap umur yang diberikan, dan setiap rezeki yang sampai kepada kita, semuanya telah ditetapkan volumenya (qadar) dan waktunya (ajal). Ukuran ini adalah ukuran yang telah Dia ketahui secara sempurna. Ini mengajarkan tentang hikmah di balik setiap peristiwa.

Bagi orang yang beriman, konsep 'qadar ma'lūm' ini membawa ketenangan. Jika hasil usaha kita belum sesuai harapan, ayat ini mengingatkan bahwa mungkin belum saatnya atau belum sesuai takaran yang ditetapkan untuk kita saat itu. Sebaliknya, jika kita menerima berkah, itu adalah hasil dari ketetapan ilahi yang sempurna.

Implikasi Spiritual dan Praktis

Mengamalkan pemahaman dari Al Hijr ayat 21 membawa implikasi signifikan dalam kehidupan sehari-hari:

a. Keberanian untuk Bersedekah

Karena kita tahu bahwa sumber segala kekayaan ada pada Allah, rasa takut kehilangan harta (kikir) menjadi berkurang. Bersedekah bukan lagi berarti 'mengurangi' harta kita, melainkan 'mengembalikan' sebagian titipan kepada Pemiliknya, dengan keyakinan bahwa Dia akan menggantinya sesuai ukuran yang Dia tetapkan, yang seringkali jauh lebih baik.

b. Sabar dalam Kesulitan

Ketika diuji dengan kemiskinan atau kekurangan sumber daya, ayat ini menjadi penawar keputusasaan. Jika rezeki adalah barang yang diturunkan dengan ukuran tertentu, maka masa sulit hanyalah fase di mana ukuran rezeki tersebut sedang diatur oleh Sang Maha Pengatur. Kesabaran adalah kunci untuk menanti turunnya 'ukuran' yang telah ditetapkan.

c. Rasa Syukur dalam Kelimpahan

Sebaliknya, ketika kita diberi kelimpahan, ayat ini menahan kesombongan. Kita menyadari bahwa harta yang kita pegang hanyalah pinjaman sementara dari gudang kekayaan-Nya. Hal ini mendorong kita untuk selalu bersyukur (syukur) karena apa yang kita miliki adalah bagian dari 'ukuran yang telah ditentukan' untuk momen tersebut.

Penutup

Al Hijr ayat 21 adalah fondasi tauhid yang kokoh mengenai manajemen sumber daya alam semesta. Ia menuntut seorang mukmin untuk hidup dengan dua sikap: optimisme penuh harapan karena sumber rezeki tak terbatas ada di sisi Allah, dan ketenangan total karena distribusi rezeki tersebut dilakukan dengan kebijaksanaan dan perhitungan yang sempurna. Tidak ada yang terlewat, tidak ada yang berlebihan; semuanya tepat sesuai kadar yang telah diketahui oleh Allah SWT.

🏠 Homepage