Mengungkap Makna Mendalam Surah Al-Isra Ayat 1

Simbol Keagungan dan Perjalanan Malam Representasi abstrak dari langit malam, bintang, dan gerakan melengkung yang melambangkan Isra Mi'raj.

Surah Al-Isra, juga dikenal sebagai Surah Bani Israil, adalah salah satu permata dalam Al-Qur'an yang memuat kisah-kisah penting dan pelajaran tauhid yang mendalam. Pembukaan surah ini, khususnya ayat pertamanya, memiliki bobot teologis yang sangat besar dan menjadi fondasi bagi pemahaman kita tentang keagungan Allah SWT.

Teks dan Terjemahan Surah Al-Isra Ayat 1

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
"Maha Suci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al-Masjidil Haram ke Al-Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebahagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat."

Ayat ini adalah pembuka yang eksplisit dan agung. Kata kunci yang mendominasi tafsir ayat ini adalah "Subhanallah", "Isra", dan tujuan dari perjalanan tersebut. Memahami konteks ayat ini berarti kita harus menyelami empat pilar utama yang terkandung di dalamnya.

1. Pengagungan (Tasbih): "Maha Suci (Allah)"

Setiap ayat yang dimulai dengan "Subhana" (Maha Suci) menandakan bahwa peristiwa yang akan dijelaskan sangat luar biasa, melampaui pemahaman nalar manusia biasa, dan hanya mungkin terjadi melalui kekuasaan Ilahi. Allah memulai ayat ini dengan memuji Diri-Nya sendiri untuk menunjukkan bahwa peristiwa Isra' (perjalanan malam) bukanlah hasil dari kekuatan makhluk, melainkan manifestasi mutlak dari kehendak Sang Pencipta. Ini menegaskan bahwa Allah tidak memerlukan ruang dan waktu sebagaimana makhluk-Nya.

2. Keistimewaan Hamba: "Memperjalankan Hamba-Nya"

Hamba yang dimaksud di sini adalah Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam. Penggunaan kata "Abdihi" (Hamba-Nya) menunjukkan dua hal penting: pertama, status kemuliaan Nabi di hadapan Allah sebagai hamba terbaik; dan kedua, bahwa peristiwa ini adalah sebuah kehormatan khusus, bukan hak yang otomatis dimiliki. Beliau diperjalankan sebagai wakil dari seluruh umat manusia untuk menyaksikan kebesaran Tuhannya.

3. Perjalanan Malam (Al-Isra)

Perjalanan ini, yang dikenal sebagai Isra, adalah perjalanan fisik dari Al-Masjidil Haram (Ka'bah di Makkah) menuju Al-Masjidil Aqsa (Baitul Maqdis di Yerusalem). Ayat ini hanya menyebutkan keberangkatan malam hari. Meskipun Mi'raj (kenaikan ke langit) tidak disebutkan secara eksplisit dalam ayat pembuka ini, para ulama tafsir sepakat bahwa Isra adalah pendahuluan dari Mi'raj, di mana perjalanan fisik dilanjutkan ke alam malakut. Perjalanan malam dipilih karena lebih memungkinkan untuk meminimalisir gangguan dan lebih menonjolkan keajaiban peristiwa tersebut di tengah keheningan malam.

4. Berkah dan Tujuan Ilahi

Ayat ini secara tegas menyatakan bahwa wilayah sekitar Al-Masjidil Aqsa telah diberkahi oleh Allah. Berkah ini meliputi anugerah kenabian (banyak nabi diutus dari sana), kesuburan bumi, dan kedudukan suci sebagai kiblat pertama umat Islam sebelum akhirnya Ka'bah ditetapkan sebagai kiblat utama.

Tujuan utama perjalanan ini sangat mulia: "Agar Kami perlihatkan kepadanya sebahagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami." Tanda-tanda ini meliputi berbagai pemandangan kosmik dan alam akhirat yang hanya dapat disaksikan oleh Rasulullah SAW. Ini menguatkan keimanan beliau dan menjadi bukti nyata bahwa risalah yang dibawanya berasal dari sumber yang Maha Kuasa.

Penutup Ayat: Asmaul Husna

Ayat diakhiri dengan dua nama Allah yang sangat relevan dengan peristiwa ini: "Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat." Allah Maha Mendengar doa dan permohonan umat-Nya saat mereka tertekan (seperti kaum Nabi Musa yang dibebaskan di tanah Palestina), dan Allah Maha Melihat setiap aspek dari perjalanan agung Nabi Muhammad SAW. Ini adalah jaminan bahwa setiap peristiwa besar dicatat dan disaksikan secara sempurna oleh-Nya. Keseluruhan ayat ini adalah penguatan spiritual yang luar biasa bagi Nabi Muhammad SAW di masa-masa sulit dakwahnya di Makkah.

🏠 Homepage