Simbolisasi keagungan dan perjalanan malam.
Surah Al-Isra, yang juga dikenal sebagai Surah Bani Israil, adalah salah satu surah penting dalam Al-Qur'an yang menjelaskan banyak aspek tauhid, moralitas, dan peristiwa besar dalam sejarah kenabian. Ayat 1 hingga 5 khususnya, membuka surah ini dengan penegasan mutlak atas kekuasaan Allah SWT dan isyarat awal mengenai peristiwa agung, yaitu Isra Mi'raj. Memahami arti dari lima ayat pembuka ini sangat krusial untuk membangun fondasi keimanan yang kokoh.
Ayat pertama ini dibuka dengan tasbih agung: Subhana Alladzi. Ini bukan sekadar ucapan biasa, melainkan penegasan bahwa Allah jauh melampaui segala kekurangan dan keterbatasan akal manusia. Inti dari ayat ini adalah peristiwa Isra, yakni perjalanan malam Nabi Muhammad SAW dari Ka'bah di Makkah (Al-Masjidil Haram) menuju Yerusalem (Al-Masjidil Aqsa). Perjalanan ini dilakukan dalam satu malam, sebuah fakta yang mustahil dilakukan oleh logika biasa, menegaskan bahwa Allah mampu melakukan apa pun. Tujuan perjalanan ini adalah untuk "memperlihatkan tanda-tanda kebesaran-Nya," mempersiapkan Nabi untuk tahapan Mi'raj yang akan datang, sekaligus memberikan penghiburan dan penguatan spiritual pasca cobaan berat di Makkah.
Setelah menyinggung peristiwa agung kenabian, Allah beralih mengingatkan Bani Israil tentang nikmat yang telah Dia berikan kepada nenek moyang mereka, Nabi Musa AS. Penurunan Taurat adalah rahmat besar yang berfungsi sebagai pedoman. Namun, Allah menyertai nikmat ini dengan peringatan keras: jangan menyekutukan-Nya (jangan mengambil pelindung selain Allah). Ayat ini juga mengandung harapan, menyebutkan bahwa Allah Maha Pengampun bagi hamba-Nya yang mau memperbaiki diri dan berbuat kebajikan, sebuah pesan universal yang relevan hingga kini.
Ayat keempat ini adalah ramalan kenabian yang sangat spesifik dan terbukti secara historis. Allah memberitahukan bahwa Bani Israil akan melakukan dua kali kerusakan besar di muka bumi (yang ditafsirkan sebagai dua kali kehancuran besar dan pembinasaan umat mereka oleh kuasa asing akibat pembangkangan mereka terhadap ajaran ilahi). Mereka diperingatkan akan melampaui batas dan berlaku sombong secara berlebihan. Pemberian peringatan ini menunjukkan bahwa Allah mengetahui masa depan dan memberikan kesempatan koreksi sebelum murka-Nya diturunkan. Ini adalah pelajaran penting tentang konsekuensi penyimpangan dari petunjuk ilahi.
Ayat kelima menjelaskan tentang proses pembalasan yang akan datang setelah kerusakan pertama. Allah akan mengirimkan musuh yang sangat kuat ("hamba-hamba Kami yang sangat kuat") yang akan menyebar dan menghancurkan pemukiman mereka. Ayat ini menegaskan keadilan ilahi; setiap tindakan kerusakan akan mendapatkan konsekuensi setimpal, dan janji Allah (baik janji rahmat maupun janji siksa) pasti akan terwujud. Dalam konteks sejarah, ini sering dikaitkan dengan penaklukan oleh bangsa Asyur atau Babilonia.
Lima ayat pertama Surah Al-Isra berfungsi sebagai pembukaan yang sangat kuat. Ia mengaitkan keagungan Allah yang tak terbatas (diperlihatkan melalui Isra Mi'raj) dengan kisah umat terdahulu (Bani Israil). Pesan utamanya adalah: Allah Maha Kuasa, Dia memberikan petunjuk (kitab suci), dan setiap penyimpangan dari petunjuk tersebut akan berujung pada konsekuensi yang telah ditetapkan. Bagi umat Islam, ayat-ayat ini memperkokoh keyakinan pada kebenaran risalah Nabi Muhammad SAW dan pentingnya memegang teguh Al-Qur'an sebagai pedoman hidup agar tidak mengulangi kesalahan umat terdahulu.
Memahami arti Surah Al-Isra ayat 1-5 memberikan kita perspektif luas tentang kuasa Allah atas waktu dan ruang, serta konsekuensi abadi dari ketaatan atau pembangkangan terhadap perintah-Nya.