Surat Al-Maidah, yang berarti "Hidangan", merupakan salah satu surat Madaniyah dalam Al-Qur'an yang kaya akan ajaran mengenai hukum, etika sosial, dan kisah-kisah kenabian. Di antara ayat-ayatnya yang fundamental, ayat ke-70 memegang peranan penting dalam mengingatkan umat Islam mengenai kewajiban mereka dalam memikul amanah risalah dan konsekuensi dari pengingkaran terhadap kebenaran. Ayat ini seringkali dibahas dalam konteks pentingnya menerima bimbingan Ilahi daripada berpaling darinya.
Ayat 70 dari Surat Al-Maidah secara eksplisit membahas respons Bani Israil terhadap seruan kenabian yang dibawa kepada mereka. Inti dari ayat ini adalah sebuah teguran keras atas sikap mereka yang cenderung menolak kebenaran jika kebenaran tersebut tidak sesuai dengan hawa nafsu atau kepentingan mereka saat itu. Ayat ini menegaskan bahwa Allah telah menurunkan petunjuk, namun banyak di antara mereka yang memilih jalan kesombongan dan penolakan.
Pesan Inti: Penolakan Terhadap Kebenaran yang Tidak Disukai
Kisah yang diangkat dalam Al-Maidah 70 bukanlah sekadar catatan sejarah masa lalu, melainkan sebuah cermin bagi setiap generasi. Ayat ini menyoroti fenomena universal: kecenderungan manusia untuk menolak otoritas atau ajaran yang menuntut perubahan perilaku atau meninggalkan kesenangan duniawi yang sudah melekat. Ketika rasul membawa syariat yang mengharamkan sesuatu yang mereka sukai, atau mewajibkan sesuatu yang mereka anggap berat, reaksi yang muncul adalah dua polarisasi ekstrem: pendustaan total atau pembunuhan pembawa pesan tersebut.
Tanggung jawab para rasul adalah menyampaikan risalah secara utuh, tanpa kompromi terhadap kehendak manusia. Namun, ayat ini menunjukkan adanya upaya sistematis untuk mematikan sumber kebenaran. Sikap ini menunjukkan betapa berbahayanya mengikuti hawa nafsu (hawa) di atas wahyu. Ketika hati telah dikunci oleh keinginan pribadi, kebenaran yang jernih pun akan tampak kabur dan bahkan mengancam.
Implikasi Bagi Umat Islam Kontemporer
Bagi umat Islam, Al-Maidah 70 berfungsi sebagai peringatan keras tentang bahaya sikap apatis atau selektif terhadap ajaran agama. Zaman modern membawa tantangan baru, di mana "hawa nafsu" seringkali dibungkus dalam bentuk ideologi, tren global, atau kemudahan instan. Tantangan hari ini mungkin bukan lagi dalam bentuk pembunuhan fisik terhadap para ulama atau pemimpin agama, melainkan dalam bentuk pembungkaman ideologis, disinformasi, atau pengabaian sunnah karena dianggap "ketinggalan zaman".
Ayat ini mengingatkan kita bahwa keimanan sejati diuji ketika perintah Allah (atau ajaran yang dibawa Rasulullah SAW) bertentangan dengan arus utama masyarakat atau kenyamanan pribadi. Apakah kita akan memilih menolak ajaran tersebut, ataukah kita akan berpegang teguh pada janji Allah meskipun harus menghadapi kesulitan?
Konteks Setelah Ayat 70: Kontras dengan Keteguhan Iman
Menariknya, setelah menyoroti kegagalan sebagian besar Bani Israil dalam ayat 70, ayat-ayat berikutnya dalam Al-Maidah (seperti ayat 72 dan seterusnya) melanjutkan narasi dengan menunjukkan bahwa tidak semua dari mereka jatuh ke dalam jurang penolakan tersebut. Ada segelintir yang teguh, yang kemudian Allah berikan pujian khusus. Perbandingan ini menunjukkan bahwa walaupun kecenderungan untuk menolak itu kuat, selalu ada jalan bagi mereka yang memilih untuk tunduk dan beriman sepenuh hati. Ini menegaskan bahwa kebebasan memilih tetap ada pada setiap individu untuk merespons kebenaran.
Oleh karena itu, memaknai Al-Maidah 70 adalah pelajaran tentang pentingnya integritas spiritual. Integritas berarti keselarasan antara apa yang kita yakini dan bagaimana kita bertindak, terlepas dari apakah tindakan tersebut populer atau nyaman. Ketika kebenaran datang, ujiannya bukan pada seberapa besar pemahaman intelektual kita, melainkan seberapa besar kesediaan jiwa kita untuk patuh. Sikap inilah yang memisahkan antara mereka yang menerima karunia Ilahi dan mereka yang menutup pintunya sendiri karena kesombongan atau ketakutan akan kehilangan kenyamanan sesaat.
Visualisasi Pesan Moral
Kesimpulannya, penafsiran mendalam terhadap Al-Maidah ayat 70 mengajak kita untuk introspeksi diri. Apakah saat ini kita cenderung menjadi pihak yang menolak atau membunuh kebenaran demi kenyamanan hawa nafsu kita, ataukah kita termasuk dalam kelompok kecil yang teguh menerima amanah risalah? Pilihan tersebut akan menentukan kualitas akhir dari perjalanan iman kita.