Surah Al-Isra, yang juga dikenal sebagai Bani Israil (Anak-anak Israel), adalah surah ke-17 dalam susunan mushaf Al-Qur'an. Surah ini sarat akan mukjizat, peringatan, dan pedoman penting bagi umat manusia. Ayat 1 hingga 4 secara spesifik membahas salah satu peristiwa paling menakjubkan dalam sejarah Islam, yaitu Isra' Mi'raj, serta keagungan Allah SWT dalam menetapkan takdir bagi Bani Israil.
Memahami ayat-ayat pembuka ini memberikan fondasi penting mengenai kekuasaan mutlak Allah dan pelajaran mengenai tanggung jawab peradaban. Mari kita telaah makna mendalam dari empat ayat pertama ini secara berurutan.
Ayat pertama ini mengawali pembahasan tentang peristiwa Isra' (perjalanan malam). Kata "Subhanallah" (Maha Suci Allah) menunjukkan betapa luar biasanya peristiwa ini, yang hanya mungkin terjadi atas kehendak dan kekuasaan Allah semata.
Perjalanan ini dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW dalam satu malam, dimulai dari Ka'bah (Al-Masjidilharam) di Mekkah menuju Yerusalem (Al-Masjidilaqsa). Kata "Kami berkahi sekelilingnya" menegaskan bahwa Baitul Maqdis (Al-Aqsa) memiliki kedudukan yang tinggi dan diberkahi oleh Allah, sebagai tempat di mana para nabi terdahulu beribadah dan tempat persinggahan sebelum Mi'raj ke langit. Tujuan utama perjalanan ini adalah untuk menunjukkan sebagian kecil dari kebesaran dan kekuasaan Allah kepada Rasulullah SAW.
Ayat kedua beralih fokus pada Bani Israil dan Nabi Musa AS. Allah menegaskan bahwa Dia telah menurunkan Taurat kepada Musa sebagai pedoman hidup. Ini adalah pengingat bahwa petunjuk Ilahi telah ada sejak lama.
Inti dari peringatan dalam ayat ini adalah larangan keras bagi Bani Israil untuk menjadikan selain Allah sebagai pelindung atau tumpuan utama. Ketergantungan sejati haruslah terpusat hanya kepada Sang Pencipta. Pelanggaran terhadap prinsip tauhid inilah yang kemudian menjadi akar permasalahan mereka.
Ayat ini memberikan konteks historis yang menghubungkan Bani Israil dengan umat terdahulu yang diselamatkan Allah. Mereka adalah keturunan dari orang-orang yang diselamatkan bersama Nabi Nuh AS dari banjir besar.
Penyebutan ini bukan sekadar silsilah, tetapi penekanan bahwa mereka memiliki potensi rahmat dari Allah karena selamat dari azab besar. Namun, yang paling ditekankan adalah sifat Nabi Nuh AS: "seorang hamba yang sangat bersyukur." Ini menyiratkan bahwa kunci untuk mempertahankan nikmat dan rahmat Allah adalah rasa syukur yang mendalam, sebuah sifat yang ternyata banyak hilang dari generasi Bani Israil setelahnya.
Ayat keempat adalah sebuah ramalan kenabian dan peringatan keras yang spesifik ditujukan kepada Bani Israil, berdasarkan pengetahuan Allah tentang tabiat mereka yang akan berkembang seiring waktu. Allah memberitahu bahwa mereka akan melakukan dua kali kerusakan besar di muka bumi.
Kerusakan pertama sering diinterpretasikan sebagai penghancuran Baitul Maqdis dan pembunuhan para nabi yang mereka lakukan, serta pengkhianatan terhadap perjanjian suci. Kerusakan kedua merujuk pada keangkuhan dan penolakan mereka terhadap kebenaran, termasuk penolakan terhadap kedatangan Nabi Muhammad SAW, yang menyebabkan mereka diusir dari rahmat ilahi. Kata "kesombongan yang besar" (uluwwan kabiran) menunjukkan puncak keangkuhan mereka yang menyebabkan kehancuran peradaban mereka sendiri.
Empat ayat pertama Surah Al-Isra memberikan gambaran komprehensif: dimulainya dengan kemuliaan perjalanan spiritual Nabi Muhammad SAW sebagai bukti kebesaran Allah; dilanjutkan dengan peringatan tentang pentingnya tauhid yang pernah disampaikan kepada Musa; dan diakhiri dengan catatan sejarah dan peringatan keras terhadap Bani Israil. Pelajaran utamanya adalah bahwa nikmat Allah harus diiringi syukur, dan kesombongan serta kerusakan moral akan selalu mendatangkan konsekuensi yang tegas dari Ilahi.