Pengantar Surat Al-Hijr
Surat Al-Hijr adalah surat ke-15 dalam urutan mushaf Al-Qur'an, terdiri dari 99 ayat. Surat ini tergolong Makkiyah, yang berarti diturunkan sebelum Nabi Muhammad SAW hijrah ke Madinah. Nama "Al-Hijr" sendiri merujuk pada sebuah lembah batu yang pernah dihuni oleh kaum Tsamud, kaum Nabi Shalih AS, yang kisahnya disinggung dalam surat ini.
Secara umum, Surat Al-Hijr menekankan pada keagungan Allah SWT, kebenaran wahyu Al-Qur'an, peringatan keras bagi mereka yang mendustakan ayat-ayat Allah, serta kisah-kisah para nabi terdahulu sebagai pelajaran. Di tengah pembahasan tersebut, terdapat ayat kunci yang menegaskan janji ilahi mengenai pemeliharaan Al-Qur'an.
Ilustrasi konsep pemeliharaan wahyu.
Teks dan Terjemahan Al-Hijr Ayat 9
Ayat yang menjadi fokus pembahasan ini adalah ayat kesembilan dari Surat Al-Hijr. Ayat ini berisi janji agung Allah mengenai penjagaan kitab suci-Nya.
Terjemahan: "Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur'an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya."
Menganalisis Arti Surat Al-Hijr Ayat 9
1. Penekanan pada "Kami" (Inna Nahnu)
Penggunaan frasa "Inna Nahnu" (Sesungguhnya Kami) di awal ayat berfungsi untuk penegasan (tautsiq) yang sangat kuat. Ini bukan hanya sekadar pernyataan, melainkan sebuah deklarasi otoritas absolut. Allah menegaskan bahwa proses penurunan wahyu (Al-Qur'an) adalah murni inisiatif dan pekerjaan-Nya sendiri, bukan hasil kreasi manusia atau campur tangan pihak lain.
2. "Nazzalna Adz-Dzikra" (Menurunkan Al-Qur'an)
Kata "Nazzalna" (Kami telah menurunkan) adalah bentuk fi'il madhi (kata kerja lampau) yang menunjukkan bahwa proses penurunan secara bertahap telah dimulai dan diselesaikan. Kata "Adz-Dzikr" (Peringatan/Pemberi Ingat) di sini merujuk secara spesifik pada Al-Qur'an. Ini menunjukkan bahwa Al-Qur'an bukan sekadar kumpulan cerita atau hukum, tetapi merupakan peringatan Ilahi bagi seluruh umat manusia tentang tauhid, moralitas, dan jalan hidup yang benar.
3. Janji Pemeliharaan Mutlak (Wa Inna Lahu Lahafizhun)
Bagian kedua ayat, "Wa Inna Lahu Lahafizhun" (Dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya), adalah inti utama dari ayat ini dan merupakan janji yang paling menenangkan bagi umat Islam. Kata "Lahafizhun" berasal dari kata dasar hafaza, yang berarti menjaga, memelihara, atau mengawal.
Makna pemeliharaan ini mencakup beberapa dimensi:
- Pemeliharaan dari Perubahan Lafazh: Tidak ada satu huruf pun yang boleh ditambahkan, dikurangi, atau diubah dari teks asli Al-Qur'an yang diturunkan melalui Jibril kepada Nabi Muhammad SAW. Hal ini terbukti nyata karena hingga kini, teks Al-Qur'an di seluruh dunia identik.
- Pemeliharaan Makna: Allah menjaga agar hakikat dan makna ajaran Al-Qur'an tetap otentik dan tidak disalahartikan secara fundamental oleh siapapun, meskipun interpretasi (tafsir) boleh berkembang sesuai konteks zaman.
- Pemeliharaan dari Kehancuran: Al-Qur'an dijamin akan tetap eksis hingga hari kiamat, berbeda dengan kitab-kitab suci sebelumnya yang mengalami distorsi atau kehilangan sebagian isinya.
Signifikansi Ayat dalam Kehidupan Muslim
Arti Surat Al-Hijr ayat 9 memberikan landasan teologis yang kokoh bagi keyakinan umat Islam terhadap keotentikan Al-Qur'an. Ayat ini menjadi bantahan keras terhadap keraguan tentang keaslian kitab suci ini.
Bagi seorang Muslim, ayat ini bukan hanya sekadar janji, melainkan motivasi untuk berinteraksi lebih dekat dengan Al-Qur'an. Jika Allah menjamin pemeliharaannya, maka menjadi kewajiban bagi umat Islam untuk mempelajari, menghafal, mengamalkan, dan menyebarkan ajaran-ajaran yang terkandung di dalamnya. Keaslian sumber hukum utama ini menjamin bahwa pedoman hidup yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW tetap relevan dan valid sepanjang masa.
Janji ini juga menjadi bentuk penghormatan tertinggi Allah kepada wahyu-Nya, membedakannya dari teks-teks kuno lainnya. Dengan jaminan pemeliharaan ini, umat Islam memiliki kepastian mutlak bahwa mereka memegang firman Tuhan yang murni, tidak tersentuh oleh intervensi manusia sejak proses pewahyuan hingga saat ini dan di masa mendatang.
"Kebenaran Al-Qur'an adalah pilar utama akidah, dan janji pemeliharaannya adalah jaminan keabadian risalah Islam."