Surat Az-Zalzalah (Surat ke-99 dalam Al-Qur'an) terdiri dari 8 ayat yang secara gamblang menjelaskan goncangan dahsyat yang akan terjadi pada hari kiamat. Fokus pembahasan kali ini adalah pada ayat kelima, yang memiliki kedalaman makna spiritual dan peringatan yang sangat penting bagi umat manusia.
Ayat kelima ini merupakan klimaks dari penggambaran peristiwa fisik yang ekstrem pada hari kiamat. Jika ayat-ayat sebelumnya (ayat 1-4) menjelaskan bagaimana bumi diguncang dengan hebat hingga mengeluarkan isi dan bebannya, ayat kelima memberikan perspektif baru: Bumi yang tadinya diam dan menjadi saksi bisu kehidupan manusia, tiba-tiba "berbicara" dan "menyampaikan berita".
Apa maksud dari "menyampaikan beritanya" (تُحَدِّثُ أَخْبَارَهَا - tuhadditsu akhbaraha)? Dalam tafsir para ulama, ada beberapa tingkatan pemahaman:
Secara harfiah, bumi akan menjadi saksi atas segala perbuatan yang pernah dilakukan di atas permukaannya. Selama ini, kita hidup di atas bumi, melakukan kebaikan, kemaksiatan, menanam benih, dan membangun peradaban. Semua jejak tersebut tersimpan dalam lapisan-lapisan bumi. Pada hari kiamat, bumi diizinkan oleh Allah SWT untuk mengungkapkan semua informasi tersebut.
Bayangkan sebuah rekaman yang diputar ulang secara akurat. Bumi akan melaporkan, "Di tempat ini, ia melakukan shalat," atau, "Di titik ini, ia melakukan pengkhianatan." Ini adalah pengungkapan yang sangat mengerikan karena tidak ada lagi tempat untuk bersembunyi atau mengelak dari pertanggungjawaban.
Beberapa ahli tafsir menafsirkan bahwa berita yang disampaikan bumi juga meliputi semua peristiwa penting yang pernah terjadi di masa lalu, mulai dari penciptaan hingga akhir zaman, termasuk semua kisah umat-umat terdahulu yang telah dihancurkan karena durhaka. Ini menegaskan bahwa tidak ada satu pun kejadian yang terlewatkan dari catatan ilahi.
Makna ayat ini bukan sekadar peristiwa fisik, tetapi penekanan pada konsep akuntabilitas total. Ketika alam semesta diguncang hebat, hukum alam yang kita kenal runtuh. Namun, keadilan Allah tetap tegak lurus. Bahkan benda mati pun dijadikan saksi untuk memastikan bahwa perhitungan amal perbuatan manusia (seperti yang disebutkan pada ayat 6 dan 7) dilakukan tanpa cela.
Peringatan dalam surat Az-Zalzalah, khususnya ayat 5, berfungsi sebagai cambuk spiritual bagi setiap muslim. Mengapa Allah menekankan bahwa bumi akan bercerita?
Pertama, ini mengajarkan kita untuk selalu hidup dalam kesadaran (muraqabah). Karena setiap tindakan tercatat, bahkan jika manusia lain tidak melihat, Allah melihat, dan kelak, bumi pun akan menjadi saksi. Ini seharusnya mendorong integritas dalam setiap aspek kehidupan, baik saat sendirian maupun di tengah keramaian.
Kedua, ini menepis ilusi bahwa perbuatan jahat akan hilang tanpa jejak. Tidak ada yang namanya "dosa kecil yang terlupakan." Semua perbuatan, sekecil apapun, akan dibangkitkan kembali dalam bentuk laporan yang jelas, seperti yang akan diungkapkan bumi.
Kontras antara goncangan fisik yang mengguncang planet (ayat 1-4) dan kesaksian informasi yang diungkapkan (ayat 5) menunjukkan dua aspek kiamat: kehancuran total dan keadilan yang sempurna. Goncangan itu menghancurkan struktur fisik, sementara kesaksian bumi memastikan bahwa struktur moral dan amal perbuatan akan dipertanggungjawabkan.
Ayat 5 menjadi jembatan penting menuju ayat 6 dan 7, yang menjelaskan bagaimana manusia akan menyadari hasil perbuatannya:
Jika bumi telah menyampaikan beritanya (Ayat 5), maka manusia diperlihatkan rekaman tersebut (Ayat 6 & 7) untuk melihat secara langsung hasil dari apa yang mereka kerjakan di masa hidup mereka. Tidak ada ruang untuk menolak kesaksian bumi karena laporannya adalah kebenaran mutlak dari Sang Pencipta.
Oleh karena itu, memahami arti surat Al Zalzalah ayat 5 adalah memahami bahwa kita hidup di atas panggung saksi yang permanen. Bumi adalah pustaka terbuka yang menunggu waktu yang ditetapkan Allah untuk membuka setiap halamannya di hadapan seluruh umat manusia.
Kesimpulannya, ayat ini adalah pengingat kuat tentang pengawasan ilahi dan kepastian akan hari perhitungan. Alam semesta ini diciptakan dengan sistem pencatatan yang sempurna, dan pada Hari Pembalasan, sistem tersebut akan diaktifkan oleh izin-Nya.