Pertanyaan tentang bagaimana segala sesuatu dimulai adalah salah satu perenungan paling mendasar dalam keberadaan manusia. Para ilmuwan, filsuf, dan teolog telah bergulat dengan misteri ini selama berabad-abad. Dalam konteks kosmologi modern, jawaban yang paling diterima secara luas dan didukung oleh bukti observasional adalah teori Ledakan Besar atau Big Bang. Teori ini menggambarkan bahwa alam semesta kita bermula dari keadaan yang sangat panas, sangat padat, dan sangat kecil—sebuah singularitas—sekitar 13,8 miliar tahun yang lalu.
Penting untuk dipahami bahwa Big Bang bukanlah ledakan dalam ruang yang sudah ada, melainkan dimulainya perluasan ruang itu sendiri. Pada saat 't=0', semua materi dan energi yang kita kenal terkandung dalam volume yang tak terhingga kecilnya. Seketika setelah momen itu, alam semesta mulai mengembang dengan cepat. Dalam pecahan detik pertama, yang dikenal sebagai periode inflasi, alam semesta membesar secara eksponensial, jauh melebihi kecepatan cahaya, meskipun ini tidak melanggar teori relativitas karena ruang itu sendiri yang meregang.
Fase awal ini sangat ekstrem. Energi sangat tinggi sehingga gaya-gaya fundamental alam—gravitasi, elektromagnetisme, dan gaya nuklir kuat dan lemah—diperkirakan menyatu menjadi satu gaya tunggal. Seiring alam semesta terus mengembang, ia menjadi lebih dingin. Pendinginan ini memungkinkan partikel-partikel subatomik dasar seperti kuark dan lepton untuk terbentuk dari energi murni.
Setelah sepersekian detik pertama berlalu, suhu turun cukup drastis sehingga kuark dapat bergabung membentuk proton dan neutron. Ini adalah fondasi dari semua materi biasa. Namun, alam semesta masih terlalu panas bagi proton dan neutron untuk membentuk inti atom yang stabil; mereka berada dalam "sup" plasma yang padat dan buram. Cahaya atau foton terperangkap di antara partikel-partikel bermuatan ini, sehingga alam semesta pada tahap ini tidak tembus pandang.
Perubahan dramatis terjadi sekitar 380.000 tahun setelah Big Bang. Pada titik ini, suhu telah turun menjadi sekitar 3.000 Kelvin. Energi menjadi cukup rendah sehingga elektron dapat ditangkap oleh proton dan inti helium, membentuk atom netral pertama—sebagian besar hidrogen dan helium. Proses ini disebut Rekombinasi. Ketika atom netral terbentuk, foton dilepaskan dan dapat bergerak bebas melintasi ruang untuk pertama kalinya. Cahaya purba inilah yang kita deteksi hari ini sebagai Cosmic Microwave Background (CMB) atau Radiasi Latar Belakang Gelombang Mikro Kosmik. CMB adalah bukti paling kuat yang mendukung teori Big Bang.
Setelah periode Rekombinasi, alam semesta memasuki "Zaman Kegelapan Kosmik," di mana belum ada bintang yang bersinar. Materi masih tersebar merata, didominasi oleh hidrogen, helium, dan materi gelap (dark matter) yang misterius. Materi gelap, yang tidak berinteraksi dengan cahaya tetapi memiliki tarikan gravitasi, memainkan peran krusial dalam membentuk struktur skala besar. Tarikan gravitasinya mulai menarik gumpalan gas hidrogen dan helium menjadi struktur yang lebih padat.
Miliaran tahun kemudian, tekanan dan suhu di pusat gumpalan materi yang memadat ini mencapai titik kritis, memicu fusi nuklir. Inilah kelahiran bintang-bintang generasi pertama—bintang-bintang masif yang hidup cepat dan mati muda, menyebarkan unsur-unsur yang lebih berat (seperti karbon, oksigen, dan besi) ke kosmos melalui supernova. Bintang-bintang inilah yang pada akhirnya menghasilkan semua planet, galaksi, dan kehidupan yang kita saksikan hari ini.
Meskipun model Big Bang sangat sukses menjelaskan evolusi alam semesta sejak sepersekian detik pertama, ia masih meninggalkan pertanyaan mendasar: Apa yang memicu singularitas itu sendiri? Apa yang ada 'sebelum' Big Bang? Karena ruang, waktu, dan fisika seperti yang kita pahami dimulai dengan perluasan itu, konsep "sebelum" mungkin tidak memiliki makna fisik. Sains modern terus mencari teori gravitasi kuantum—sebuah kerangka kerja yang dapat menyatukan mekanika kuantum dan relativitas umum—untuk mencoba memahami momen pling awal tersebut, sebuah pencarian yang menjanjikan pemahaman baru tentang asal-usul kosmos kita.