Ilustrasi visualisasi perintah ilahi.
Surah Al-Hijr, ayat ke-94, merupakan puncak penegasan perintah dari Allah SWT kepada Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam. Ayat ini turun pada periode kerasnya dakwah di Mekkah, di mana tantangan, ejekan, dan ancaman dari kaum musyrikin mencapai puncaknya. Kata kunci dalam ayat ini adalah "فَاصْدَعْ" (Fashda'), yang secara harfiah berarti "pecahkan" atau "belahlah". Dalam konteks perintah kenabian, ini dimaknai sebagai perintah untuk menyampaikan risalah Allah dengan keberanian, ketegasan, dan tanpa rasa takut sedikit pun, seolah-olah membelah keheningan atau memecah kebekuan kesesatan.
Perintah "sampaikanlah apa yang diperintahkan" ini adalah mandat tertinggi. Ia menuntut seorang Nabi (dan secara implisit, umatnya) untuk memprioritaskan wahyu di atas segala pertimbangan duniawi, termasuk keselamatan pribadi atau penerimaan sosial. Ketegasan ini bukan berarti bersikap kasar tanpa hikmah, melainkan menyampaikan kebenaran secara mutlak sebagaimana yang diwahyukan. Tidak ada ruang untuk negosiasi mengenai pokok-pokok akidah.
Ayat ini melanjutkan dengan perintah kedua: "وَأَعْرِضْ عَنِ الْمُشْرِكِينَ" (Wa a'ridh 'anil musyrikin), yaitu berpalinglah dari orang-orang musyrik. Sikap berpaling di sini memiliki beberapa tingkatan makna. Pertama, berpaling dari mendengarkan atau menanggapi ocehan dan cacian mereka yang tidak mendatangkan manfaat. Setelah menyampaikan risalah dengan jelas, jika mereka tetap menolak dan mengejek, maka Nabi diperintahkan untuk tidak lagi membuang energi mental dan emosional untuk membujuk hati yang sudah tertutup.
Kedua, berpaling dalam konteks hukum, yaitu tidak tunduk pada tuntutan atau kompromi yang mereka ajukan, seperti meminta Nabi mengurangi sedikit dari isi risalahnya demi persatuan palsu. Surah Al-Kafirun menjelaskan esensi berpaling ini: "Bagi kalian agama kalian, dan bagiku agamaku." Surah Al-Hijr ayat 94 ini memberikan landasan bahwa tugas utama adalah berdakwah secara tegas, dan jika responnya adalah penolakan keras, langkah selanjutnya adalah menjaga jarak moral dan spiritual dari kekufuran mereka.
Bagi umat Islam yang menjalani dakwah di lingkungan yang mungkin tidak sepenuhnya menerima, ayat ini adalah sumber kekuatan. Ia mengajarkan bahwa keberhasilan dakwah tidak diukur dari jumlah pengikut yang didapat saat itu juga, melainkan dari kesempurnaan menjalankan amanah perintah Allah. Ketegasan dalam menyampaikan hakikat tauhid adalah kewajiban utama.
Prinsip "Fashda' bima tu'mar" (Sampaikanlah apa yang diperintahkan) mengingatkan kita bahwa kita bertanggung jawab atas apa yang kita sampaikan, bukan atas bagaimana orang lain menerimanya. Jika seseorang telah menyampaikan kebenaran dengan cara yang terbaik (hikmah dan mau'idzatul hasanah), namun tetap menghadapi penolakan keras, maka berpaling dari perdebatan sia-sia menjadi langkah yang diperintahkan. Ini adalah strategi ilahi untuk memfokuskan energi pada medan dakwah yang lebih terbuka dan melindungi hati dari kegundahan akibat penolakan yang sudah pasti akan datang dari kaum yang keras kepala.
Secara psikologis, perintah ini membebaskan Nabi dari beban ekspektasi penerimaan manusia. Ketika seseorang merasa telah menunaikan tanggung jawabnya sepenuhnya, rasa cemas atau frustrasi akibat penolakan akan berkurang. Ini adalah bentuk delegasi hasil kepada Allah, sementara usaha dan penyampaian adalah tanggung jawab hamba.
Ayat 94 Surah Al-Hijr adalah pondasi bagi setiap pejuang kebenaran: sampaikanlah tanpa kompromi (seperti membelah), dan setelah itu, lepaskan kekhawatiran akan reaksi mereka yang memilih untuk tetap berada dalam kesyirikan. Ini adalah keseimbangan antara keberanian total dalam beribadah dan ketenangan spiritual dalam menghadapi resistensi duniawi.