Ilustrasi Bertema Kebesaran dan Sejarah.
Surah Al-Hijr, yang merupakan surah ke-15 dalam susunan mushaf Al-Qur'an, membawa pesan-pesan yang sangat kuat mengenai tauhid, ancaman bagi pendusta, serta kisah-kisah teladan bagi umat manusia. Kata "Al-Hijr" sendiri merujuk pada sebuah lembah atau daerah berbatu yang terletak di antara Hijaz dan Syam, yang merupakan tempat tinggal kaum Tsamud, kaum yang dimusnahkan karena kekafiran mereka. Mempelajari ayat-ayat dalam surah ini memberikan perspektif penting tentang kekuasaan Allah SWT dan konsekuensi dari mengingkari petunjuk-Nya.
Salah satu fokus utama dalam Surah Al-Hijr adalah kisah kaum Tsamud. Mereka adalah kaum yang dianugerahi kemakmuran dan kemampuan luar biasa oleh Allah, bahkan mampu memahat rumah di gunung-gunung batu (seperti yang tersirat dalam nama daerah mereka). Namun, karunia ini tidak membuat mereka bersyukur. Sebaliknya, mereka menyombongkan diri dan menolak keras kenabian Nabi Shaleh AS.
Ayat-ayat ini menjadi cermin bagi setiap generasi. Allah menegaskan bahwa sarana untuk memahami kebenaran—yaitu indra dan akal—telah dianugerahkan kepada manusia. Keluhan utama Allah bukanlah ketidakmampuan manusia dalam memahami, melainkan sedikitnya rasa syukur yang mereka tunjukkan setelah menerima nikmat tersebut. Konsekuensi dari kesombongan dan penolakan ini adalah azab yang menimpa kaum Tsamud, sebuah peringatan nyata bahwa kekuasaan materi tidak dapat menahan murka Ilahi.
Selain kisah peringatan, ayat Al Hijr juga dipenuhi dengan perenungan tentang kebesaran penciptaan. Allah mengajak manusia memperhatikan alam semesta, dari bagaimana langit dibangun hingga bagaimana bumi dihamparkan dan gunung-gunung dipancangkan sebagai penopang. Ayat-ayat ini berfungsi untuk mengalihkan fokus manusia dari kesibukan duniawi menuju perenungan tentang Sang Pencipta.
Ayat-ayat tentang penciptaan bintang-bintang (An-Nujum) dan bagaimana Allah mengatur peredaran benda langit adalah bukti nyata bahwa ada Pengatur yang Maha Kuasa di balik keteraturan alam. Keindahan dan keteraturan ini seharusnya mendorong hati manusia untuk tunduk dan beriman, bukan malah mengingkari.
Ayat Al Hijr kembali menyoroti salah satu episode penting dalam sejarah penciptaan, yaitu penolakan Iblis untuk bersujud kepada Nabi Adam AS. Penolakan ini disebabkan oleh kesombongan yang lahir dari anggapan superioritas—bahwa ia diciptakan dari api, sementara Adam dari tanah.
Kisah ini sangat relevan karena menunjukkan akar dari segala keburukan: kesombongan yang didasarkan pada perbandingan yang salah. Iblis gagal memahami esensi ketaatan, yaitu kepatuhan mutlak kepada perintah Allah, tanpa perlu mempertanyakan asal-usul penciptaan. Dosa pertama dalam sejarah adalah dosa kesombongan, dan ini menjadi pelajaran abadi bagi setiap mukmin agar senantiasa rendah hati dalam menerima perintah agama.
Di tengah ancaman, peringatan, dan kisah-kisah umat terdahulu, Surah Al-Hijr diakhiri dengan sebuah penegasan yang menenangkan dan menguatkan bagi Nabi Muhammad SAW serta umatnya. Ayat penutup surah ini memuat janji mulia dari Allah mengenai pemeliharaan Al-Qur'an.
Allah SWT berfirman bahwa Al-Qur'an adalah kitab yang diturunkan dan Dia sendiri yang akan menjaganya dari segala bentuk distorsi, perubahan, atau kehilangan makna. Ini adalah janji ketenangan bagi umat Islam. Di tengah hiruk pikuk penolakan dan perdebatan, umat memiliki sumber hukum dan petunjuk yang otentik dan terpelihara. Janji pemeliharaan ini menegaskan kebenaran risalah Nabi Muhammad SAW dan menjadi benteng spiritual bagi orang-orang yang beriman.
Secara keseluruhan, ayat Al Hijr mengingatkan kita bahwa kekayaan dan kekuatan duniawi adalah ujian, bukan jaminan keselamatan. Keselamatan sejati terletak pada rasa syukur yang tulus, kepatuhan tanpa syarat, dan keimanan teguh pada janji Allah mengenai kebenaran Al-Qur'an.