Ayat keenam dari Surah Al-Maidah merupakan salah satu ayat kunci dalam Al-Qur'an yang membahas tentang tata cara bersuci (thaharah) sebelum melaksanakan salat. Ayat ini menetapkan pedoman rinci mengenai wudu dan tayammum.
"Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan salat, maka basuhlah muka dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki. Dan jika kamu junub, maka mandilah (bersihkan dirimu); dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan, atau kembali dari buang hajat (kakus), atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayamumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah tersebut. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu supaya kamu bersyukur."
Ayat ini memberikan landasan hukum yang sangat jelas mengenai ibadah ritual terpenting dalam Islam, yaitu salat. Ayat ini menguraikan tiga keadaan utama yang menentukan tata cara bersuci:
Bagi orang yang hendak mendirikan salat, wajib hukumnya melakukan wudu jika tidak dalam keadaan junub. Ayat ini secara spesifik menyebutkan anggota tubuh yang harus dibasuh: wajah, tangan hingga siku, mengusap kepala, dan membasuh kaki hingga mata kaki (Al-Kaa'bain).
Jika seseorang dalam keadaan junub (hadas besar) karena bersetubuh atau keluar mani, maka diwajibkan untuk mandi wajib (mandi besar) untuk menyucikan diri secara menyeluruh sebelum salat.
Salah satu rahmat terbesar Allah SWT yang ditekankan dalam ayat ini adalah kemudahan bagi umat-Nya. Ayat ini memberikan solusi ketika air tidak tersedia atau sulit digunakan:
Dalam kondisi tersebut, diperbolehkan melakukan tayamum menggunakan debu atau tanah yang bersih. Tata cara tayamum yang disebutkan adalah mengusap wajah dan kedua tangan. Ini menunjukkan prinsip utama syariat Islam, yaitu menghilangkan kesulitan (laa yurīdu Allāhu liyaj‘ala ‘alaikum min haraj).
Ayat ini diakhiri dengan tujuan mendasar dari seluruh aturan bersuci ini: "Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu supaya kamu bersyukur." Kebersihan lahiriah (badan) mencerminkan kebersihan batiniah (hati), yang merupakan inti dari hubungan seorang hamba dengan Penciptanya.
Ayat Al-Maidah ayat 6 bukan sekadar panduan teknis wudu dan tayamum, melainkan cerminan filosofi Islam yang komprehensif. Ayat ini mengajarkan bahwa ibadah harus dilakukan dengan benar secara fisik, namun fleksibilitas diberikan selama niatnya tulus dan dalam kondisi yang mengharuskan. Ketaatan pada aturan bersuci ini adalah wujud syukur atas nikmat akal, kesempatan hidup, dan nikmat kemudahan yang Allah berikan.