Masjidil Aqsa, yang terletak di Yerusalem, adalah salah satu tempat suci paling penting dalam agama Islam. Disebut juga sebagai Al-Haram Al-Sharif (Tanah Suci), tempat ini memiliki kedudukan istimewa dalam sejarah kenabian dan ajaran Islam. Keagungannya tidak hanya terletak pada arsitekturnya, tetapi juga pada peranannya sebagai kiblat pertama umat Muslim dan tempat Rasulullah SAW melakukan perjalanan Isra Mi'raj.
Gambar representasi simbolis Masjidil Aqsa
Disebutkan dalam Kisah Isra'
Penyebutan paling eksplisit mengenai Masjidil Aqsa dalam Al-Qur'an terdapat dalam konteks peristiwa Isra' Mi'raj, perjalanan malam Rasulullah SAW dari Masjidil Haram di Mekkah ke Masjidil Aqsa, lalu dilanjutkan ke langit.
Ayat ini menjadi landasan utama yang menegaskan status Masjidil Aqsa sebagai destinasi spiritual yang diberkahi Allah SWT. Kata "Al-Aqsa" secara harfiah berarti "yang terjauh", mengisyaratkan batas terjauh perjalanan Rasulullah SAW pada malam itu sebelum naik ke tingkatan surga.
Tanah yang Diberkahi
Selain penyebutan langsung dalam peristiwa Isra', wilayah sekitar Masjidil Aqsa, yaitu Syam (Palestina), juga sering disebut sebagai tanah yang diberkahi. Keberkahan ini mencakup aspek spiritual, keilmuan, dan sumber daya alam.
Meskipun ayat ini merujuk pada kekuasaan Nabi Sulaiman AS secara umum di wilayah kekuasaannya yang meliputi Baitul Maqdis, para mufasir sering mengaitkan wilayah ini dengan tanah yang diberkahi. Keberkahan ini diperkuat dalam konteks kenabian yang berpusat di sana, termasuk tempat Nabi Ibrahim, Nabi Musa, dan Nabi Isa AS berdakwah.
Kiblat Pertama Umat Islam
Sebelum Ka'bah diresmikan sebagai kiblat utama secara permanen, umat Islam awalnya menghadap ke arah Masjidil Aqsa saat melaksanakan salat. Fakta ini menunjukkan kedudukan Masjidil Aqsa yang sentral, menghubungkan masa kenabian terdahulu dengan risalah Islam.
Keutamaan salat di Masjidil Aqsa disebutkan dalam berbagai hadis, meskipun penekanan dalam Al-Qur'an lebih fokus pada lokasi geografis dan spiritualitasnya sebagai tujuan Isra'. Status kiblat pertama ini menegaskan kesinambungan risalah para nabi yang berpusat di wilayah tersebut.
Signifikansi Spiritual Mendalam
Masjidil Aqsa bukan sekadar bangunan; ia adalah bagian integral dari sejarah panjang peradaban monoteistik. Ayat-ayat yang menyebutkan perjalanan suci Nabi Muhammad SAW menegaskan bahwa tempat tersebut dipilih langsung oleh Allah sebagai titik transit antara dua bumi dan langit. Ini memberikan otoritas ilahiah terhadap kesucian dan kehormatan masjid tersebut.
Oleh karena itu, bagi umat Islam, memelihara, menghormati, dan menjaga kesucian Masjidil Aqsa adalah bagian dari ketaatan kepada ajaran suci yang tertuang dalam Al-Qur'an. Pemahaman terhadap ayat-ayat ini memperkaya dimensi spiritual ketika kita merenungkan peran Masjidil Aqsa dalam sejarah Islam dan hubungannya dengan Masjidil Haram dan Masjid Nabawi (dua masjid mulia lainnya).
Mempelajari ayat alquran tentang masjidil aqsa memberikan perspektif bahwa tempat ini adalah saksi bisu perjalanan kenabian dan merupakan titik temu antara bumi dan alam malakut yang agung.