Perjalanan Agung Isra Mi'raj

Representasi Visual Perjalanan Isra Mi'raj SVG sederhana yang menggambarkan perjalanan spiritual dari bumi menuju cahaya langit, merepresentasikan Isra Mi'raj.

(Visualisasi perjalanan spiritual)

Mukjizat Isra Mi'raj dalam Al-Qur'an

Peristiwa Isra Mi'raj merupakan salah satu mukjizat terbesar yang dialami oleh Nabi Muhammad SAW. Perjalanan ini terbagi menjadi dua bagian: Isra, yaitu perjalanan Nabi dari Masjidil Haram di Mekkah menuju Masjidil Aqsa di Yerusalem, dan Mi'raj, yaitu kenaikan Nabi dari Masjidil Aqsa menuju langit ketujuh, bahkan Sidratul Muntaha.

Meskipun detail perjalanan fisik seringkali dijelaskan dalam hadis, dasar utama dan landasan otentisitas peristiwa agung ini termaktub jelas dalam Al-Qur'an, khususnya dalam Surah Al-Isra (Bani Israil).

Ayat Utama Tentang Isra (Perjalanan Malam)

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

(QS. Al-Isra Ayat 1): "Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al-Masjidil Haram ke Al-Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat."

Ayat ini menjadi fondasi utama yang menegaskan kebenaran Isra. Kata 'Asra (أَسْرَىٰ) secara eksplisit berarti 'memperjalankan di malam hari'. Ayat ini menyoroti kebesaran Allah yang mampu melakukan perjalanan luar biasa ini dalam semalam, sekaligus menegaskan bahwa tujuan awal perjalanan adalah untuk menunjukkan sebagian kebesaran Allah kepada Nabi Muhammad SAW.

Konteks dan Makna Ayat

Perjalanan Isra dimulai setelah Nabi SAW mengalami tahun kesedihan ('Amul Huzn), di mana beliau kehilangan dua pilar penopangnya, yaitu istri tercinta Khadijah RA dan pamannya Abu Thalib. Dalam kondisi lemah, Allah SWT menghibur beliau dengan perjalanan kosmik ini.

Makna Isra: Perjalanan dari Mekkah ke Baitul Maqdis (Al-Aqsa) melambangkan transisi kepemimpinan spiritual umat. Masjidil Aqsa adalah kiblat pertama umat Islam sebelum Ka'bah ditetapkan sebagai kiblat utama. Dengan tiba di sana, Nabi menegaskan kesinambungan risalah para nabi sebelumnya.

Makna 'Kami berkahi sekelilingnya': Keberkahan ini merujuk pada banyaknya para nabi yang lahir dan tinggal di wilayah tersebut, serta kesuburan spiritual dan fisik bumi Syam.

Keterkaitan dengan Mi'raj

Meskipun Al-Qur'an secara eksplisit hanya menyebutkan Isra dalam Surah Al-Isra ayat 1, kenaikan Nabi ke langit (Mi'raj) dikuatkan melalui kelanjutan ayat tersebut dan banyak hadis sahih. Ayat berikutnya memperkuat narasi keagungan yang dilihat Nabi SAW:

وَلَقَدْ رَآهُ نَزْلَةً أُخْرَىٰ عِندَ سِدْرَةِ الْمُنتَهَىٰ عِندَهَا جَنَّةُ الْمَأْوَىٰ

(QS. An-Najm Ayat 13-15): "Dan sungguh (Muhammad) telah melihat Jibril dalam perjalanannya yang kedua, di Sidratul Muntaha, di dekatnya ada Surga Ma’wa (tempat tinggal)."

Ayat-ayat dari Surah An-Najm ini memberikan gambaran tentang puncak Mi'raj, yaitu ketika Nabi SAW melihat Jibril dalam wujud aslinya di Sidratul Muntaha. Sidratul Muntaha adalah batas akhir pengetahuan makhluk, sebuah penegasan bahwa Nabi telah mencapai tingkatan kedekatan spiritual tertinggi yang tidak pernah dicapai oleh manusia lain.

Hikmah di Balik Perjalanan

Peristiwa Isra Mi'raj bukan sekadar perjalanan geografis, tetapi sebuah penegasan keilahian dan keunggulan posisi Nabi Muhammad SAW. Beberapa hikmah penting meliputi:

  1. Kewajiban Shalat Lima Waktu: Di sinilah umat Islam diwajibkan melaksanakan shalat lima waktu sehari semalam, menjadikannya tiang agama yang diterima langsung dari Allah SWT.
  2. Penegasan Kenabian: Pengalaman ini menguatkan keyakinan Nabi dan menunjukkan kepada para pengikutnya bahwa beliau benar-benar diangkat oleh Allah.
  3. Penyampaian Pesan Universal: Perjalanan ini menunjukkan bahwa risalah Islam bersifat universal, melampaui batas-batas geografis dunia.

Memahami ayat-ayat yang berkaitan dengan Isra Mi'raj memberikan kedalaman spiritual. Ayat-ayat tersebut berfungsi sebagai jangkar bukti bahwa peristiwa agung ini bukan sekadar dongeng, melainkan sebuah kebenaran yang bersumber langsung dari firman Allah SWT, sebagaimana termaktub dalam Surah Al-Isra ayat 1 dan diperkuat dalam surah lainnya.

🏠 Homepage