Pendahuluan Ayat 55 Surah Al-Isra
Surah Al-Isra, atau dikenal juga sebagai Bani Israil, adalah surah ke-17 dalam Al-Qur'an. Ayat-ayatnya sarat dengan kisah kenabian, hukum, dan peringatan penting bagi umat Islam. Salah satu ayat yang sering menjadi perenungan mendalam adalah ayat ke-55, yang secara ringkas namun padat menjelaskan hakikat tauhid dan kekuasaan Allah SWT.
Ayat ini sering kali dibaca bersamaan dengan ayat-ayat sebelumnya dan sesudahnya, yang semuanya menekankan bahwa Allah adalah satu-satunya yang berhak disembah dan dipertanggungjawabkan atas segala sesuatu di alam semesta. Memahami konteksnya sangat penting untuk menginternalisasi pesan utamanya.
Ilustrasi Kekuasaan Yang Maha Esa
Teks dan Terjemahan Surah Al-Isra Ayat 55
Ayat 55 dari Surah Al-Isra berbunyi:
Penjelasan Inti Ayat: Ujian Klaim Kekuatan
Ayat ini merupakan tantangan langsung dari Allah SWT kepada kaum musyrikin pada masa Nabi Muhammad SAW, dan secara universal berlaku untuk semua bentuk kesyirikan atau ketergantungan berlebihan kepada selain Allah. Allah memerintahkan Rasul-Nya untuk berkata:
- "Serulah mereka yang kamu anggap (sebagai tuhan) selain Dia..." Ini adalah perintah untuk menguji validitas sesembahan-sesembahan lain—baik itu berhala, roh leluhur, wali, atau kekuatan alam—yang disekutukan dengan Allah.
- "...maka (kelak kamu akan ketahui) bahwa mereka tidak memiliki kekuasaan sedikit pun untuk menghilangkan bahaya daripadamu..." Poin krusialnya adalah penolakan mutlak terhadap kemampuan entitas tersebut untuk memberi manfaat atau menghilangkan kesulitan (kasyf adh-dhurr). Dalam keadaan sakit parah, bencana alam, atau krisis eksistensial, sesembahan selain Allah tidak mampu berbuat apa-apa.
- "...dan untuk memindahkannya (kepada orang lain)." Selain tidak bisa menghilangkan masalah, mereka juga tidak punya kuasa untuk memindahkan kesulitan tersebut dari satu individu ke individu lain.
Inti dari ayat ini adalah penegasan bahwa hanya Allah SWT yang memiliki kendali penuh (mulk) atas segala sesuatu. Tidak ada kekuatan, entitas, atau perantara yang memiliki sedikit pun kemampuan untuk mengatur takdir, memberikan kesembuhan, atau menolak bencana tanpa izin-Nya.
Relevansi Kontemporer: Melawan Materialisme dan Takhayul
Di era modern, bentuk kesyirikan mungkin tidak selalu berupa patung batu, namun seringkali termanifestasi dalam bentuk lain. Ayat 55 Surah Al-Isra ini relevan ketika seseorang terlalu bergantung pada:
- Kekuatan Finansial dan Jabatan: Meyakini bahwa uang atau posisi adalah benteng pelindung mutlak, melupakan bahwa semua itu bisa lenyap dalam sekejap oleh kebijakan pemerintah, krisis ekonomi, atau penyakit.
- Ilmu Pengetahuan atau Teknologi Semata: Meskipun ilmu dan teknologi sangat penting, meyakini bahwa ia adalah solusi terakhir tanpa mengakui keterbatasan dan ketergantungan pada izin Allah adalah bentuk penyekutuan.
- Jimat atau Praktik Khurafat: Menggantungkan harapan pada benda-benda atau ritual yang tidak bersumber dari syariat untuk menolak bala atau menarik rezeki.
Ayat ini mengajak umat Islam untuk mengarahkan semua permohonan, ketakutan, dan harapan hanya kepada Al-Khaliq (Sang Pencipta). Ketika kita berdoa, kita tidak sedang berbicara kepada entitas yang memiliki batas kekuasaan; kita berbicara kepada Zat yang menguasai segala dimensi.
Pelajaran Tauhid yang Hakiki
Pelajaran utama dari Surah Al-Isra ayat 55 adalah penegasan sifat Al-Wahhab (Maha Pemberi) dan Al-Qadir (Maha Kuasa) milik Allah. Ketika seorang mukmin menghadapi ujian berat, ayat ini berfungsi sebagai pengingat:
Penderitaan adalah bagian dari ujian hidup. Jika Anda memohon bantuan kepada entitas lain, Anda sedang meminta sesuatu yang mereka sendiri tidak miliki. Kekuatan untuk menghilangkan kesulitan hanya ada pada Dzat yang menciptakan kesulitan itu sendiri. Jika Dia menghendaki kesembuhan, tidak ada dokter yang bisa menghalangi; jika Dia menghendaki bencana, tidak ada kekayaan yang bisa menahannya.
Oleh karena itu, ayat ini mendorong introspeksi mendalam mengenai sumber tempat kita bersandar dalam setiap aspek kehidupan. Penyerahan diri yang total (Islam) berarti menyadari bahwa semua daya dan upaya manusia adalah sarana, sedangkan keberhasilan atau kegagalan hakikatnya berada di Tangan Allah semata.