Mengenal Ayat Isra: Kisah Nabi dan Mukjizat

Ilustrasi Perjalanan Malam Nabi Nabi

Kisah perjalanan malam Nabi Muhammad SAW merupakan salah satu peristiwa agung dan mukjizat yang diabadikan dalam Al-Qur'an dan Hadis. Peristiwa ini dikenal dengan sebutan Ayat Isra dan Mi'raj. Ayat Isra sendiri secara spesifik merujuk pada bagian pertama dari perjalanan tersebut, yaitu perjalanan dari Masjidil Haram di Makkah ke Masjidil Aqsa di Yerusalem.

Latar Belakang dan Keajaiban Perjalanan

Perjalanan Ayat Isra ini terjadi pada periode yang sangat sulit dalam kehidupan Nabi Muhammad SAW, dikenal sebagai 'Amul Huzn (Tahun Kesedihan), setelah wafatnya istri tercinta Khadijah dan pamannya Abu Thalib. Perjalanan ini menjadi peneguhan iman, baik bagi Nabi maupun umatnya.

Menurut sumber-sumber Islam, Nabi dipertemukan dengan Malaikat Jibril dan menunggangi makhluk luar biasa bernama Buraq. Perjalanan yang secara akal manusia membutuhkan waktu berhari-hari, dilakukan hanya dalam satu malam. Hal ini menegaskan sifat kemukjizatan peristiwa tersebut, yang tidak bisa diukur dengan hukum alam biasa.

Dasar Ayat Al-Qur'an

Kisah Ayat Isra ini termaktub secara ringkas namun padat dalam Surat Al-Isra' (juga dikenal sebagai Bani Israil) ayat pertama dalam Al-Qur'an. Ayat ini berbunyi:

"Maha Suci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al-Masjidilharam ke Al-Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat." (QS. Al-Isra' [17]: 1)

Kata kunci dalam ayat ini adalah "memperjalankan hamba-Nya" (Subhanalladzi Asra bi 'abdihi) dan penegasan bahwa Allah yang melakukan perjalanan tersebut. Tujuan dari perjalanan Ayat Isra ini jelas disebutkan: untuk menunjukkan kepada Nabi Muhammad SAW sebagian dari tanda-tanda kebesaran Allah SWT.

Peran Masjidil Aqsa

Titik akhir dari fase Ayat Isra adalah Masjidil Aqsa di Al-Quds (Yerusalem). Masjid ini memiliki kedudukan penting ketiga setelah Masjidil Haram (Makkah) dan Masjid Nabawi (Madinah).

Setibanya di Masjidil Aqsa, Nabi Muhammad SAW diyakini bertemu dengan ruh para nabi sebelum beliau, di mana beliau kemudian mengimami salat bersama mereka. Pertemuan dan salat ini menjadi penegasan bahwa risalah Nabi Muhammad SAW adalah kelanjutan dari risalah para nabi sebelumnya, menyatukan seluruh ajaran tauhid di bawah satu panji kenabian.

Transisi Menuju Mi'raj

Setelah menyelesaikan fase Ayat Isra di bumi, perjalanan dilanjutkan ke tingkatan yang lebih tinggi, yaitu Mi'raj (kenaikan ke langit). Meskipun sering digabungkan, Isra adalah perjalanan horizontal (duniawi), sedangkan Mi'raj adalah perjalanan vertikal (langit).

Selama Mi'raj, Nabi menyaksikan langsung kebesaran alam semesta, bertemu dengan para nabi di tingkatan-tingkatan langit yang berbeda, dan menerima perintah utama syariat Islam, yaitu kewajiban salat lima waktu. Hal ini menguatkan bahwa Ayat Isra hanyalah gerbang menuju pengungkapan hakikat ilahiyah yang lebih mendalam.

Hikmah dan Refleksi

Kisah Ayat Isra dan Mi'raj mengajarkan banyak hal bagi umat Muslim. Pertama, ketenangan di tengah kesulitan; mukjizat ini datang saat Nabi sangat membutuhkan dukungan spiritual. Kedua, pentingnya menjaga kesucian tempat-tempat suci, terutama Masjidil Aqsa. Ketiga, penegasan bahwa batas antara yang mungkin dan yang mustahil bagi kehendak Allah adalah nihil.

Hingga kini, peristiwa Ayat Isra tetap menjadi sumber inspirasi dan bukti nyata bahwa Islam didukung oleh kekuatan ilahi yang melampaui pemahaman sains konvensional. Perjalanan satu malam ini menunjukkan kedudukan istimewa Nabi Muhammad SAW di sisi Allah SWT.

🏠 Homepage