Dalam lembaran sejarah Islam, dua tempat suci memegang peranan sentral yang tak tergantikan: Masjidil Haram di Mekkah dan Masjidil Aqsa di Yerusalem. Kedua masjid ini bukan sekadar bangunan fisik, melainkan titik fokus perjalanan spiritual miliaran umat Muslim, di mana ayat-ayat suci Al-Qur'an sering kali menyinggung signifikansi dan keagungan keduanya. Memahami ayat-ayat yang berkaitan dengan dua kiblat pertama ini memberikan kedalaman pada keyakinan dan sejarah peradaban Islam.
Masjidil Haram: Pusat Kehidupan dan Ibadah
Masjidil Haram adalah tempat Ka'bah, rumah pertama yang dibangun untuk menyembah Allah SWT di muka bumi. Kedudukannya sebagai kiblat utama umat Islam menegaskan pentingnya masjid ini dalam setiap shalat harian. Ayat-ayat yang merujuk pada keagungannya sering kali berkaitan dengan perintah ibadah haji dan umrah, serta kemuliaan yang melekat padanya.
وَاِذۡ جَعَلۡنَا الۡبَيۡتَ مَثَابَةً لِّلنَّاسِ وَاَمۡنًا ۗ وَاتَّخِذُوۡا مِنۡ مَّقَامِ اِبۡرٰهِيۡمَ مُصَلًّى ۗ وَعَهِدۡنَاۤ اِلٰٓى اِبۡرٰهِيۡمَ وَاِسۡمٰعِيۡلَ اَن طَهِّرَا بَيۡتِىَ لِلطَّآئِفِيۡنَ وَالۡعٰكِفِيۡنَ وَالرُّكَّعِ السُّجُوۡدِ
(QS. Al-Baqarah: 125)
Ayat di atas secara eksplisit menyebutkan penetapan Baitullah (Masjidil Haram) sebagai tempat kembali (mathābah) dan keamanan (amn). Hal ini menunjukkan bahwa kesucian dan keamanan di sekitar Ka'bah adalah anugerah ilahi yang berkelanjutan. Ayat-ayat lain, seperti yang terdapat dalam Surah Al-Ma'idah, juga menekankan pentingnya menjaga kehormatan syiar-syiar Allah, yang mana Masjidil Haram adalah manifestasi utamanya.
Masjidil Aqsa: Saksi Isra' dan Mi'raj
Masjidil Aqsa, yang terletak di Al-Quds (Yerusalem), merupakan masjid ketiga yang paling mulia (al-masjid al-aqṣā). Perannya dalam sejarah Islam semakin meninggi karena menjadi titik awal perjalanan agung Nabi Muhammad SAW, Isra’ dan Mi’raj.
سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
(QS. Al-Isra': 1)
Ayat pembuka Surah Al-Isra' ini adalah pilar utama yang mengaitkan kedua masjid suci tersebut dalam satu episode mukjizat. Frasa "Kami perjalankan hamba-Nya di malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang Kami berkahi sekelilingnya" menunjukkan bahwa berkah Allah tidak hanya terletak pada bangunan fisik masjid itu sendiri, tetapi juga melingkupi area sekitarnya. Keberkahan ini, dalam tafsir klasik, meliputi kesuburan bumi dan statusnya sebagai tempat para nabi.
Keterkaitan dan Keagungan Bersama
Meskipun berbeda lokasi geografis, ayat-ayat Al-Qur'an menyatukan status kemuliaan Masjidil Haram dan Masjidil Aqsa. Masjidil Aqsa adalah kiblat pertama umat Islam sebelum akhirnya diperintahkan untuk menghadap ke Masjidil Haram. Keterkaitan ini menegaskan kontinuitas risalah kenabian, dari Nabi Ibrahim AS yang membangun pondasi Baitullah, hingga Nabi Muhammad SAW yang melakukan perjalanan suci dari sana.
Banyak hadis juga memperkuat keutamaan shalat di kedua masjid ini. Sebagai contoh, shalat di Masjidil Haram memiliki keutamaan seratus ribu kali lipat dibandingkan shalat di masjid biasa. Sementara itu, shalat di Masjidil Aqsa memiliki keutamaan lima ratus kali lipat. Keutamaan-keutamaan yang dijelaskan dalam ayat dan sunnah ini memicu kerinduan yang mendalam bagi setiap Muslim untuk dapat mengunjungi dan beribadah di kedua tempat yang diberkahi tersebut.
Secara keseluruhan, ayat-ayat yang berbicara tentang Masjidil Haram dan Masjidil Aqsa berfungsi sebagai pengingat akan sejarah panjang Islam, pusat ketetapan ibadah, dan mukjizat-mukjizat yang menjadi saksi bisu kebenaran ajaran yang dibawa oleh para nabi. Kedua masjid ini adalah warisan abadi yang wajib dijaga kesucian dan penghormatannya.