Ilustrasi Perjalanan Malam Suci
Peristiwa Isra Mi'raj adalah salah satu mukjizat terbesar yang dialami oleh Nabi Muhammad SAW. Isra merujuk pada perjalanan malam Nabi dari Masjidil Haram di Mekkah ke Masjidil Aqsa di Yerusalem. Sedangkan Mi'raj adalah kenaikan beliau dari Masjidil Aqsa menuju langit ketujuh, Sidratul Muntaha, dan mendapatkan perintah salat lima waktu langsung dari Allah SWT.
Meskipun detail perjalanan ini lebih banyak termaktub dalam hadis-hadis sahih, Al-Qur'an memberikan landasan utama yang menguatkan kebenaran peristiwa ini, terutama mengenai perjalanan malam yang luar biasa tersebut.
Ayat yang menjadi landasan utama bagi peristiwa Isra' (perjalanan malam) terdapat dalam Surah Al-Isra' (atau dikenal juga sebagai Surah Bani Israil). Ayat ini secara eksplisit menyebutkan pensucian Allah SWT kepada hamba-Nya dengan membawanya berjalan dari satu masjid ke masjid lain yang jauh.
Ayat ini sangat kaya makna. Kata "Subhaanalladzii" (Maha Suci Allah) menjadi pembuka, menegaskan bahwa perjalanan ini adalah murni kuasa dan kehendak Allah, bukan kemampuan Nabi Muhammad SAW sendiri. Kata "Asraa Bi 'Abdihi" (memperjalankan hamba-Nya) menunjukkan kehormatan besar bagi Nabi Muhammad SAW sebagai 'Abdullah (Hamba Allah). Titik awal dan akhir perjalanan, Al-Masjidil Haram dan Al-Masjidil Aqsa, juga disebutkan secara jelas, mengkonfirmasi dimensi geografis dari perjalanan malam tersebut.
Sementara Surah Al-Isra' secara spesifik membahas Isra', peristiwa Mi'raj (kenaikan ke langit) dijelaskan dalam konteks ayat lain yang berbicara tentang kedekatan Nabi SAW dengan Allah dan penampakan ayat-ayat kebesaran-Nya secara lebih luas.
Dalam Surah An-Najm, Allah SWT menyebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW melihat Jibril dalam wujud aslinya dan berada di dekat Sidratul Muntaha, sebuah batas tertinggi di langit ketujuh.
Ayat-ayat dalam Surah An-Najm ini menunjukkan puncak spiritual Mi'raj. Kehadiran Nabi SAW di Sidratul Muntaha, di mana tidak ada makhluk lain yang bisa melewatinya (batas yang tidak boleh dilampaui), menggarisbawahi keistimewaan wahyu yang diterima. Frasa "pandangannya tidak berpaling dan tidak melampaui batas" menegaskan kesempurnaan fokus dan kepatuhan Nabi SAW saat menghadapi kemuliaan Ilahi yang tak terbayangkan oleh akal manusia biasa.
Peristiwa Isra Mi'raj, sebagaimana diisyaratkan dalam Al-Qur'an, bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan sebuah manifestasi dari otoritas Allah SWT yang mampu melakukan apa pun di luar nalar manusiawi (seperti menempuh jarak kosmik dalam semalam). Perjalanan ini juga menjadi momen penting di mana kewajiban salat lima waktu ditetapkan, menjadi tiang agama Islam yang menghubungkan langit dan bumi.
Oleh karena itu, ayat-ayat dalam Surah Al-Isra' dan An-Najm adalah pilar utama dalam keyakinan umat Islam mengenai kebenaran mukjizat perjalanan suci Nabi Muhammad SAW tersebut.