فَاصْدَعْ بِمَا تُؤْمَرُ Simbol Dakwah Tegas Ilustrasi yang menunjukkan perintah tegas dari atas (simbol Ilahi) yang harus disampaikan dengan jelas oleh hamba.

Memahami Ketegasan Perintah dalam Surat Al-Hijr Ayat 94

Dalam lembaran-lembaran Al-Qur'an, terdapat seruan-seruan ilahi yang memiliki bobot dan implikasi besar bagi kehidupan seorang Muslim. Salah satu ayat yang menyoroti aspek ketegasan dalam menyampaikan perintah Allah adalah Surat Al-Hijr ayat ke-94. Ayat ini bukan sekadar pengulangan perintah, melainkan penegasan pentingnya menjalankan dakwah dan perintah agama tanpa kompromi terhadap kebenaran.

Teks dan Terjemahan Surat Al-Hijr Ayat 94

Surat Al-Hijr, yang merupakan surah ke-15 dalam Al-Qur'an, mengandung banyak pelajaran mengenai kisah umat terdahulu dan sifat-sifat ketuhanan. Ayat 94 secara spesifik ditujukan kepada Nabi Muhammad SAW, namun maknanya meluas menjadi pedoman bagi seluruh umat Islam.

فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنْ شَرِّ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
Maka, mintalah perlindungan kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk.

Secara harfiah, ayat ini merupakan instruksi yang sangat mendasar: "Maka, mintalah perlindungan kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk."

Konteks Pewahyuan dan Makna Mendalam

Ayat 94 ini muncul setelah serangkaian ayat yang membahas tentang kedustaan kaum musyrik terhadap ajaran tauhid dan kenabian Muhammad SAW. Dalam konteks ini, ketika Nabi diperintahkan untuk berdakwah secara terang-terangan (sebagaimana terdapat dalam ayat-ayat sebelumnya, khususnya ayat 90-93 yang membahas tentang azab kaum yang mendustakan), muncul potensi godaan dan gangguan dari sumber kejahatan terbesar, yaitu setan.

Surat Hijr ayat 94 berfungsi sebagai benteng pertahanan spiritual. Allah mengajarkan bahwa dalam setiap usaha menegakkan kebenaran atau melaksanakan perintah besar-Nya, kehadiran gangguan, keraguan, dan godaan adalah keniscayaan. Setan akan berusaha keras membelokkan, melemahkan, atau menggoda para penyeru kebenaran agar mereka berhenti atau mengubah substansi pesannya.

Oleh karena itu, perintah untuk "fa'sta'idz billah" (maka berlindunglah kepada Allah) adalah langkah preventif yang harus dilakukan oleh setiap Muslim, terutama mereka yang memikul tanggung jawab dakwah. Perlindungan ini adalah pengakuan bahwa kekuatan manusia terbatas, dan hanya dengan kekuatan Ilahi, seseorang dapat terhindar dari tipu daya musuh yang kasat mata maupun yang gaib.

Implementasi dalam Kehidupan Modern

Meskipun ayat ini ditujukan secara langsung kepada Rasulullah, relevansinya tidak pernah lekang oleh waktu. Bagi umat Islam masa kini, ayat ini mengajarkan beberapa poin krusial:

  1. Pengakuan Batasan Diri: Ketika menghadapi ujian, godaan hawa nafsu, atau tekanan sosial untuk meninggalkan nilai-nilai Islam, langkah pertama yang benar adalah kembali bersandar penuh kepada Allah (berta'awudz).
  2. Pentingnya Ikhlas: Setan sering menyerang melalui pujian atau kritik. Dengan memohon perlindungan, seorang Muslim menjaga niatnya tetap murni (ikhlas) hanya karena Allah, bukan karena ingin dipuji manusia.
  3. Benteng Spiritual Rutin: Membaca ta'awudz sebelum memulai kegiatan penting, seperti membaca Al-Qur'an, memulai pekerjaan, atau saat merasa was-was, adalah wujud nyata pengamalan ayat ini.

Ketegasan dalam beriman tidak berarti tanpa persiapan spiritual. Sebaliknya, ketegasan itu harus didukung oleh fondasi perlindungan yang kuat dari Sang Pencipta. Surat Al-Hijr ayat 94 mengingatkan kita bahwa medan pertempuran terbesar seringkali terjadi di dalam hati, dan senjata terbaik kita adalah permohonan perlindungan kepada Allah Azza wa Jalla dari segala bentuk keburukan yang digariskan oleh setan yang terkutuk.

Memahami ayat ini adalah kunci untuk mempertahankan konsistensi iman di tengah derasnya arus kehidupan yang penuh tantangan dan godaan materialistik. Dengan berlindung kepada-Nya, kita memastikan langkah kita tetap lurus di jalan yang diridhai-Nya, sebagaimana diperintahkan kepada Rasulullah dahulu kala.

🏠 Homepage