Kedudukan Suci Al-Aqsa: Telaah Ayat-Ayat Al-Qur'an

Ilustrasi Kubah Batu dan Arsitektur Islam Simbol Kesucian Masjid Al-Aqsa

Masjid Al-Aqsa, yang sering disebut dalam konteks kenabian dan sejarah Islam, bukan sekadar bangunan. Ia adalah kiblat pertama umat Islam dan bagian integral dari perjalanan Isra' Mi'raj Nabi Muhammad SAW. Keutamaan dan status kesuciannya telah ditegaskan secara jelas melalui berbagai sumber, terutama Al-Qur'an. Memahami ayat tentang Al Aqsa memberikan perspektif mendalam mengenai signifikansi spiritual dan historis situs suci ini.

Isra' Mi'raj dan Penegasan Kesucian

Ayat paling fundamental yang menghubungkan Al-Aqsa dengan perjalanan spiritual agung adalah kisah Isra' Mi'raj. Ayat ini menegaskan status Al-Aqsa sebagai titik keberangkatan menuju tingkatan langit.

Al-Isra' Ayat 1: "Mahasuci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al-Masjidilharam ke Al-MasjidilAqsa yang telah Kami berkati sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebahagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat."

Frasa "Al-MasjidilAqsa yang telah Kami berkati sekelilingnya" adalah penegasan ilahiah atas kemuliaan kawasan tersebut. Kata "Al-Aqsa" sendiri berarti "yang terjauh," menandakan jarak spiritual dan geografis yang luar biasa dari Ka'bah di Makkah. Ayat ini mengukuhkan bahwa keberkahan (barakah) meliputi seluruh wilayah di sekitar masjid, bukan hanya bangunannya semata.

Al-Aqsa dalam Konteks Tanah yang Diberkati

Selain dalam konteks Isra' Mi'raj, wilayah Syam, termasuk Al-Aqsa, sering kali disandingkan dengan Makkah dan Madinah sebagai tanah yang diberkahi Allah SWT. Beberapa ulama menafsirkan keberkahan ini sebagai tempat turunnya wahyu, tempat para nabi diutus, dan tempat bertumpunya sejarah kenabian.

Meskipun Al-Qur'an tidak selalu menyebut nama "Al-Aqsa" secara eksplisit selain dalam Surat Al-Isra', banyak riwayat sahih (Hadis) yang menjelaskan keutamaan ibadah di sana. Para sahabat dan tabi'in memahami bahwa shalat di Al-Aqsa memiliki nilai pahala yang jauh lebih besar dibandingkan shalat di masjid lain, kecuali Masjidilharam dan Masjid Nabawi.

Konteks Historis dan Kedudukan sebagai Kiblat Pertama

Sebelum Ka'bah ditetapkan sebagai kiblat utama kaum Muslimin, kaum Muslimin diperintahkan untuk menghadap ke arah Masjid Al-Aqsa saat melaksanakan shalat. Periode ini berlangsung selama sekitar 13 tahun di Madinah. Status ini menjadikan Al-Aqsa sebagai kiblat pertama (Al-Qiblatul Ula), sebuah kehormatan yang hanya dimiliki oleh tiga masjid dalam Islam: Al-Haram, Al-Aqsa, dan Masjid Nabawi.

Penjelasan Tafsir: Fungsi Al-Aqsa sebagai kiblat pertama menunjukkan integrasi harmonis antara syariat yang dibawa Nabi Ibrahim AS (yang menjadi dasar Ka'bah) dan syariat yang dibawa Nabi Muhammad SAW, yang secara bertahap menyempurnakan arah ibadah. Perubahan kiblat menegaskan kemandirian risalah Nabi Muhammad SAW, namun tidak menghapus kemuliaan tempat yang telah ditetapkan Allah sebelumnya.

Keutamaan Ibadah di Masjid Al-Aqsa

Untuk melengkapi pemahaman mengenai ayat tentang Al Aqsa, penting merujuk pada hadis yang menjelaskan keutamaan salat di dalamnya. Keutamaan ini menjadi motivasi bagi umat Islam untuk mencintai, menjaga, dan mengunjungi masjid suci ketiga ini.

Keberkahan yang disebutkan dalam Al-Isra' ayat 1 meluas pada nilai pahala amal ibadah. Dalam sebuah riwayat yang sering dikutip, salat di Al-Aqsa setara dengan 500 kali salat di tempat lain. Keutamaan ini menegaskan bahwa Allah SWT telah menempatkan Al-Aqsa sebagai pusat spiritual penting di bumi, di samping dua masjid suci lainnya. Dengan demikian, Al-Aqsa berfungsi sebagai simpul sejarah kenabian, titik awal kenaikan spiritual tertinggi, dan tanah yang disucikan secara abadi oleh firman Allah.

Memahami ayat-ayat dan konteks historis Al-Aqsa adalah bagian dari keimanan. Ia mengingatkan kita bahwa situs ini adalah amanah yang harus dijaga, sebagaimana Allah sendiri telah memberkatinya dalam firman-Nya yang mulia.

🏠 Homepage