Perubahan pada penampilan semen pria, terutama jika sperma terlihat lebih encer daripada biasanya—bahkan menyerupai air—adalah hal yang sering menimbulkan kekhawatiran. Dalam kondisi normal, semen segar biasanya memiliki tekstur yang kental dan berwarna putih keabu-abuan, dan akan mencair dalam waktu 15 hingga 30 menit setelah ejakulasi. Namun, jika konsistensi yang sangat cair atau bening ini terjadi secara konsisten, ada beberapa faktor yang mungkin menjadi penyebabnya.
Semen terdiri dari dua komponen utama: sperma (yang diproduksi di testis) dan cairan seminal (yang diproduksi oleh kelenjar prostat dan vesikula seminalis). Kepadatan dan viskositas semen sangat dipengaruhi oleh keseimbangan cairan dari kelenjar-kelenjar tersebut. Jika komposisi cairan tersebut berubah, penampilan semen pun akan ikut berubah.
Salah satu penyebab paling umum dari semen yang encer adalah frekuensi ejakulasi yang terlalu tinggi. Ketika seorang pria sering melakukan ejakulasi dalam waktu singkat (misalnya, beberapa kali dalam sehari), kelenjar aksesori tidak memiliki cukup waktu untuk mengisi kembali cairan seminal dengan konsentrasi nutrisi dan zat pembentuk gel yang optimal. Akibatnya, ejakulat yang dihasilkan akan lebih banyak mengandung cairan yang berasal langsung dari testis atau cairan prostat yang belum terakumulasi sempurna, sehingga terlihat lebih encer dan jernih.
Kekurangan cairan dalam tubuh (dehidrasi) dapat mempengaruhi volume dan konsistensi cairan tubuh, termasuk cairan seminal. Meskipun bukan penyebab utama, dehidrasi ringan dapat membuat semen terlihat lebih encer karena rasio air yang lebih tinggi dalam ejakulat.
Fungsi kelenjar prostat dan vesikula seminalis adalah menghasilkan sebagian besar volume semen. Jika terdapat gangguan atau disfungsi pada salah satu kelenjar ini—misalnya, peradangan (prostatitis) atau infeksi—produksi cairan seminal bisa terganggu. Hal ini dapat menyebabkan cairan yang dihasilkan kurang kental atau jumlahnya tidak seimbang, yang pada akhirnya membuat semen tampak encer seperti air.
Kualitas dan kuantitas sperma sangat mempengaruhi penampilan semen. Jika hitungan sperma (konsentrasi) sangat rendah, volume cairan yang menyertainya mungkin terlihat lebih dominan, sehingga semen terlihat encer. Namun, dalam kasus ini, masalah utama yang perlu diatasi adalah kesuburan, bukan hanya penampilan cairan.
Varikokel, yaitu pembengkakan pembuluh darah di skrotum, sering dikaitkan dengan peningkatan suhu di area testis. Suhu yang lebih tinggi dapat mengganggu produksi sperma yang sehat dan matang, yang secara tidak langsung bisa memengaruhi konsistensi ejakulat.
Kekhawatiran utama bagi banyak pria ketika mendapati sperma encer adalah dampaknya terhadap kemampuan untuk membuahi sel telur. Sifat kental semen berfungsi untuk melindungi sperma dari lingkungan asam vagina dan membantu sperma bertahan lebih lama. Semen yang terlalu encer mungkin tidak memberikan perlindungan optimal dan dapat mengurangi motilitas atau waktu bertahan sperma.
Namun, penting untuk diingat bahwa kekentalan semen saja tidak selalu menjadi penentu tunggal kesuburan. Sejumlah pria yang memiliki semen tampak encer masih mampu mendapatkan keturunan. Penilaian yang akurat memerlukan analisis sperma laboratorium (spermatogram) untuk mengukur volume, konsentrasi sperma, motilitas (pergerakan), dan morfologi (bentuk).
Meskipun perubahan sesekali mungkin wajar, Anda disarankan untuk mencari evaluasi medis jika Anda mengalami kondisi berikut secara persisten:
Dokter spesialis andrologi atau urologi dapat melakukan pemeriksaan fisik dan menganalisis sampel semen untuk menentukan penyebab mendasar dari perubahan konsistensi tersebut, serta memberikan saran penanganan yang tepat, baik melalui perubahan gaya hidup maupun intervensi medis jika diperlukan.