Surat Al-Ma'idah (المائدة), yang berarti "Hidangan" atau "Jamuan", adalah surat ke-5 dalam urutan mushaf Al-Qur'an. Surat ini tergolong surat Madaniyah dan merupakan salah satu surat terpanjang. Nama surat ini diambil dari kisah mukjizat turunnya hidangan dari langit yang diminta oleh para sahabat Nabi, sebagaimana diceritakan pada ayat 112 hingga 115. Membaca dan memahami isi surat ini sangat dianjurkan karena mengandung berbagai hukum, kisah penting, serta penegasan perjanjian antara Allah dengan para rasul-Nya.
Al-Ma'idah dimulai dengan perintah untuk menepati janji-janji dan mematuhi hukum-hukum syariat yang telah ditetapkan. Ayat-ayat awal secara tegas memerintahkan kaum mukminin untuk menunaikan akad (perjanjian) dan menghalalkan segala jenis binatang ternak, kecuali yang diharamkan secara spesifik, seperti bangkai, darah, daging babi, dan hewan yang disembelih atas nama selain Allah. Hal ini menegaskan pentingnya kepatuhan total terhadap ketentuan Ilahi dalam kehidupan sehari-hari.
Surat ini juga memuat pembahasan mengenai hukum perburuan saat sedang berihram (menjalankan ibadah haji atau umrah). Ketentuan ini menunjukkan bahwa syariat Islam sangat memperhatikan keseimbangan antara kebutuhan hidup dan pelaksanaan ibadah. Selain itu, Al-Ma'idah memuat perintah untuk berlaku adil, bahkan terhadap musuh, sebagaimana tersirat dalam ayat 8: "Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu penegak keadilan karena Allah (ketika) menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorongmu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa." Ayat ini merupakan fondasi moral yang tinggi dalam interaksi sosial dan politik.
Sebagian besar surat ini didedikasikan untuk menguraikan kisah-kisah para nabi terdahulu, khususnya Nabi Musa AS dan Nabi Isa AS. Kisah Nabi Musa AS dihubungkan dengan peristiwa penolakan kaumnya memasuki tanah suci, yang mengakibatkan mereka terusir selama empat puluh tahun. Ini menjadi pelajaran bagi umat Nabi Muhammad SAW tentang bahaya pembangkangan terhadap perintah Allah.
Lebih lanjut, Al-Ma'idah memberikan penjelasan mengenai kedudukan Injil (Al-Kitab) yang diturunkan kepada Nabi Isa AS. Surat ini menegaskan bahwa Injil adalah kebenaran, namun umat yang sebelumnya telah mengalami perubahan (tahrif) terhadap ajaran aslinya. Pada bagian akhir surat ini, terdapat penegasan mengenai keutamaan Nabi Muhammad SAW sebagai penutup para nabi dan pembenar kitab-kitab sebelumnya. Kesempurnaan syariat Islam ditekankan melalui ayat yang menyatakan bahwa agama telah disempurnakan pada saat penurunan ayat-ayat terakhir surat ini.
Membaca Surat Al-Ma'idah bukan sekadar melafalkan teks, tetapi juga melakukan tadabbur atau perenungan mendalam terhadap maknanya. Surat ini mengingatkan umat Islam untuk selalu menjaga konsistensi antara iman yang diucapkan dengan amal perbuatan yang dilakukan. Mulai dari pemenuhan janji, keadilan dalam bermuamalah, hingga kesiapan menerima konsekuensi dari pilihan hidup yang telah diambil. Ayat-ayat tentang hidangan dari langit juga menjadi pengingat bahwa rezeki yang datang dari Allah harus disyukuri dan tidak boleh disalahgunakan. Dengan demikian, Al-Ma'idah berfungsi sebagai manual komprehensif bagi kehidupan seorang Muslim yang berpegang teguh pada tali agama Allah.