Surat Az-Zalzalah, yang namanya diambil dari kata gempa bumi, adalah salah satu surat pendek namun memiliki pesan yang sangat mendalam dan mengerikan tentang hari kiamat. Surat ini terdiri dari delapan ayat dan termasuk dalam golongan surat Madaniyah, meskipun beberapa mufassir menyebutnya Makkiyah. Mempelajari bacaan surat Zalzalah beserta terjemahan dan tafsirnya sangat penting bagi seorang Muslim sebagai pengingat akan kepastian Hari Kebangkitan dan perhitungan amal.
Berikut adalah bacaan lengkap Surat Az-Zalzalah (Al-Zalzalah) ayat demi ayat, beserta transliterasi dan artinya dalam Bahasa Indonesia.
Surat Az-Zalzalah berfungsi sebagai deskripsi yang lugas dan dramatis mengenai peristiwa kiamat. Ayat pertama hingga kelima menggambarkan kengerian fisik di muka bumi. Guncangan hebat yang membuat gunung-gunung berterbangan dan bumi memuntahkan "isi beratnya" (kematian, jenazah, atau harta terpendam) menunjukkan ketidakberdayaan total manusia di hadapan kekuasaan Allah SWT.
Ayat 4, "Pada hari itu bumi menceritakan beritanya," adalah salah satu ayat yang paling memukau. Bumi, yang selama ini menjadi saksi bisu setiap perbuatan manusia—baik amal saleh di taman atau maksiat di lorong sepi—akan diperintahkan oleh Tuhan untuk melaporkan semuanya tanpa ada yang tersembunyi. Ini menegaskan bahwa tidak ada tempat lari dari pertanggungjawaban.
Pesan utama dan kesimpulan dari surat ini terletak pada dua ayat terakhir (7 dan 8). Allah menekankan prinsip keadilan yang sempurna. Kata "mitsqal dzarrah" (seberat zarrah atau partikel terkecil) memberikan perspektif bahwa tidak ada amal, sekecil apa pun, yang akan luput dari perhitungan.
Bagi orang yang beriman, ini adalah kabar gembira. Segala bentuk sedekah tersembunyi, doa yang dipanjatkan dalam sunyi, atau kesabaran yang ditunjukkan saat menahan amarah, sekecil apa pun, akan dibalas dengan kebaikan setimpal. Sebaliknya, bagi mereka yang enggan beramal atau justru melakukan keburukan, ancaman melihat hasil perbuatan buruknya menjadi peringatan keras. Surat ini mengajarkan bahwa hasil akhir kehidupan ditentukan oleh akumulasi amal harian kita.
Meskipun diturunkan ribuan tahun lalu, pesan Az-Zalzalah sangat relevan dengan zaman modern. Di era di mana banyak hal dapat dihapus atau disembunyikan dalam data digital, surat ini mengingatkan bahwa catatan amal di sisi Allah bersifat abadi dan tidak dapat diintervensi atau dimanipulasi. Guncangan bumi hanyalah metafora bagi keterkejutan saat menyadari bahwa seluruh jejak kehidupan kita akan diputar ulang dan dihakimi secara transparan. Oleh karena itu, seorang Muslim didorong untuk senantiasa memperbaiki kualitas amalannya, baik yang terlihat maupun yang tersembunyi, karena pertanggungjawaban sejati akan segera tiba.