Surat Al-Ma'idah (Hidangan) adalah surat Madaniyah yang kaya akan hukum-hukum syariat, kisah-kisah kenabian, dan ajaran akhlak. Ayat 190 dan 191 menutup pembahasan penting mengenai keimanan, larangan prasangka buruk, serta konsekuensi logis dari perbuatan manusia di dunia dan akhirat. Ayat-ayat ini secara tegas menyerukan prinsip keadilan dan kejujuran.
Ilustrasi: Keseimbangan antara perbuatan baik dan buruk.
إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلَّذِينَ يُقَٰتِلُونَ فِى سَبِيلِهِۦ صَفًّا كَأَنَّهُم بُنْيَٰنٌ مَّرْصُوصٌ
"Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang rapat, seakan-akan mereka itu suatu bangunan yang kokoh."
Ayat 190 fokus pada pentingnya persatuan dan kesatuan barisan (shaff) dalam membela kebenaran, yang dalam konteks turunnya ayat seringkali merujuk pada jihad yang tulus. Metafora "bangunan yang kokoh" (bunyanun marshus) menekankan bahwa kekuatan seorang Muslim tidak terletak pada jumlahnya semata, melainkan pada eratnya jalinan ukhuwah dan komitmen mereka terhadap satu tujuan. Kekuatan sejati muncul ketika individu-individu mengesampingkan perbedaan kecil demi tujuan besar agama. Ini adalah seruan untuk disiplin, integritas kolektif, dan keberanian yang terorganisir.
وَلَا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلْءَاخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ وَلَوْ كَانُوا۟ ءَابَآءَهُمْ أَوْ أَبْنَآءَهُمْ أَوْ إِخْوَٰنَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ كَتَبَ فِى قُلُوبِهِمُ ٱلْإِيمَٰنَ وَأَيَّدَهُم بِرُوحٍ مِّنْهُ ۖ وَيُدْخِلُهُمْ جَنَّٰتٍ تَجْرِى مِن تَحْتِهَا ٱلْأَنْهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَا ۚ رَضِىَ ٱللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا۟ عَنْهُ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ حِزْبُ ٱللَّهِ ۚ أَلَآ إِنَّ حِزْبَ ٱللَّهِ هُمُ ٱلْمُفْلِحُونَ
"Engkau tidak akan mendapati suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun (yang ditentang itu) adalah bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, ataupun kaum kerabat mereka. Orang-orang yang demikian itu telah tertanamkan keimanan dalam hati mereka, dan Allah menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang dari-Nya. Dan Allah memasukkan mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepada-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, sesungguhnya golongan Allah itulah golongan yang beruntung."
Ayat 191 adalah penegasan yang sangat fundamental mengenai hakikat keimanan sejati. Iman yang kokoh menuntut loyalitas mutlak kepada Allah dan Rasul-Nya, yang secara otomatis berarti memutuskan segala bentuk kecintaan dan dukungan kepada mereka yang memusuhi kebenaran ilahi. Keimanan sejati bahkan menuntut keberanian untuk berbeda sikap dengan kerabat terdekat jika mereka berada dalam barisan penentang kebenaran.
Allah menjanjikan kedudukan istimewa bagi mereka yang memegang prinsip ini: iman tertanam kuat di hati, diperkuat dengan ruh (pertolongan) dari-Nya, dan balasan akhir berupa Surga yang kekal. Mereka disebut "Ḥizbullah" (Golongan Allah), kelompok yang pasti meraih keberuntungan hakiki (al-mufliḥūn), bukan hanya keberuntungan duniawi sesaat.
Ayat 190 dan 191 Al-Ma'idah memberikan dua pilar utama bagi seorang Muslim:
Kombinasi antara kekuatan kolektif yang terstruktur dan kejernihan spiritual dalam loyalitas inilah yang mendefinisikan "Golongan Allah" yang dijamin keberuntungan oleh-Nya.