Di pesisir barat daya Pulau Sulawesi, terbentang sebuah peradaban kaya yang dikenal dengan semangat maritimnya, masyarakat Bugis-Makassar. Jauh sebelum aksara Latin mendominasi, kekayaan intelektual dan sejarah mereka terabadikan dalam sebuah sistem penulisan unik yang disebut Lontarak. Bahasa Lontarak, lebih dari sekadar aksara, adalah denyut nadi kebudayaan, cerminan kebijaksanaan leluhur, dan warisan berharga yang hingga kini masih dijaga kelestariannya.
Secara etimologis, kata "Lontarak" berasal dari bahasa Sanskerta "lontar" yang merujuk pada daun lontar (Borassus flabellifer), bahan utama yang digunakan untuk menulis naskah-naskah kuno sebelum ditemukannya kertas. Daun lontar ini diolah sedemikian rupa hingga lentur dan tahan lama, lalu ditulis menggunakan semacam pisau khusus yang disebut "panggai" atau "pencik". Bentuk aksara Lontarak yang khas, dengan garis-garis melengkung dan tegas, serta penempatan titik-titik sebagai penanda vokal, memberikan kesan estetis tersendiri yang mencerminkan keindahan dan kekayaan visual budaya Bugis-Makassar.
Ilustrasi aksara Lontarak (representasi artistik).
Kekayaan Konten dalam Lontarak
Naskah-naskah Lontarak menyimpan beragam genre pengetahuan. Terdapat karya-karya sastra epik seperti "I La Galigo", yang merupakan salah satu sastra terpanjang di dunia, menceritakan kisah para dewa dan raja di dunia purba. Selain itu, Lontarak juga mencatat lontara sejarah (sejarah kerajaan), lontara pangngololi (pengetahuan tentang kehidupan sehari-hari, termasuk pertanian, pelayaran, dan hukum adat), lontara panisi (ramalan dan astrologi), serta lontara pangubati (ilmu pengobatan tradisional). Keberagaman ini menunjukkan betapa komprehensifnya pengetahuan yang dimiliki oleh masyarakat Bugis-Makassar pada masa lalu, yang mampu mendokumentasikan berbagai aspek kehidupan mereka.
Bahasa yang digunakan dalam naskah Lontarak adalah bahasa Bugis dan bahasa Makassar kuno. Meskipun memiliki kemiripan, kedua bahasa ini memiliki ciri khasnya masing-masing. Kemampuan membaca dan memahami Lontarak memerlukan keahlian khusus, karena tidak hanya berkaitan dengan pengenalan aksara, tetapi juga pemahaman terhadap struktur bahasa kuno, kosakata, dan konteks budaya yang menyertainya. Para ahli Lontarak, yang sering disebut sebagai "pattunru" atau "pakkaluppi", memegang peran penting dalam menjaga agar warisan ini tidak punah.
Peran Lontarak di Masa Kini
Di era digital ini, aksara Lontarak mungkin terlihat kuno. Namun, peran dan relevansinya justru semakin penting sebagai penanda identitas budaya yang kuat. Upaya revitalisasi terus dilakukan melalui berbagai kegiatan, seperti workshop penulisan Lontarak, lomba membaca, dan publikasi naskah-naskah kuno dalam format yang lebih modern. Universitas dan lembaga kebudayaan berperan aktif dalam penelitian dan penyebarluasan pengetahuan tentang Lontarak.
Lebih dari sekadar mata pelajaran sejarah, memahami Bahasa Lontarak berarti membuka jendela ke masa lalu yang kaya akan kearifan lokal, nilai-nilai luhur, dan cara pandang dunia yang unik. Ia mengajarkan tentang pentingnya menjaga warisan leluhur, menghargai sejarah, dan bagaimana sebuah peradaban mampu mencatat dan mewariskan pengetahuannya melalui media yang sederhana namun sarat makna. Bahasa Lontarak adalah bukti hidup bahwa kekayaan budaya dapat terwujud dalam berbagai bentuk, dan tugas kita bersama adalah untuk terus melestarikan serta mengajarkan warisan berharga ini kepada generasi mendatang agar jati diri bangsa tetap kokoh tertanam.