Sperma yang keluar bercampur darah, atau dalam istilah medis disebut hematospermia, adalah kondisi yang bisa menimbulkan kekhawatiran bagi banyak pria. Meskipun seringkali tidak berbahaya dan hilang dengan sendirinya, kondisi ini tetap memerlukan perhatian serius karena bisa menjadi gejala dari kondisi medis yang lebih mendasar. Penting untuk dipahami bahwa hematospermia jarang sekali merupakan tanda kanker.
Representasi visual dari kondisi yang memerlukan pemeriksaan.
Apa yang Menyebabkan Sperma Keluar Darah?
Hematospermia biasanya terjadi karena robeknya pembuluh darah kecil di sepanjang saluran reproduksi pria, mulai dari testis, epididimis, vas deferens, kelenjar prostat, hingga kandung kemih seminal. Penyebabnya sangat bervariasi, mulai dari hal sepele hingga kondisi yang memerlukan penanganan medis intensif.
1. Trauma atau Cedera Fisik
Salah satu penyebab paling umum adalah cedera fisik langsung pada area panggul atau alat kelamin. Ini bisa terjadi akibat aktivitas seksual yang terlalu kasar, masturbasi yang berlebihan, atau cedera akibat olahraga.
2. Infeksi dan Peradangan
Peradangan pada saluran reproduksi sangat sering dikaitkan dengan hematospermia. Beberapa kondisi infeksi yang mungkin terlibat antara lain:
- Epididimitis: Peradangan pada epididimis (saluran tempat sperma matang).
- Prostatitis: Peradangan pada kelenjar prostat.
- Uretritis: Peradangan pada uretra (saluran kencing).
Infeksi ini seringkali disebabkan oleh bakteri menular seksual (PMS) seperti klamidia atau gonore, meskipun tidak selalu demikian.
3. Masalah pada Kelenjar Prostat
Kelenjar prostat memainkan peran penting dalam produksi cairan mani. Kondisi seperti pembesaran prostat jinak (Benign Prostatic Hyperplasia/BPH) atau radang prostat dapat menyebabkan pembuluh darah di area tersebut menjadi rapuh dan mudah pecah.
4. Sumbatan Saluran
Adanya kista atau batu (kalkulus) di saluran ejakulasi dapat menyebabkan iritasi kronis atau sumbatan, yang memicu pendarahan saat ejakulasi.
5. Kondisi Vaskular
Pada kasus yang lebih jarang, masalah pada pembuluh darah seperti varikokel (pembengkakan vena di skrotum) atau kelainan pembuluh darah kongenital juga bisa menjadi pemicu.
6. Kanker (Jarang Terjadi)
Meskipun sangat jarang, hematospermia bisa menjadi gejala awal dari kanker testis, prostat, atau kandung kemih seminal. Oleh karena itu, penting untuk tidak mengabaikan gejala ini, terutama jika disertai gejala lain seperti nyeri atau pembengkakan yang persisten.
Kapan Harus Segera ke Dokter?
Meskipun hematospermia seringkali bersifat sementara, pemeriksaan medis sangat disarankan. Segera cari pertolongan profesional jika Anda mengalami:
- Darah dalam sperma berlangsung lebih dari dua minggu atau sering kambuh.
- Darah terlihat sangat pekat atau jumlahnya banyak.
- Disertai demam, nyeri hebat saat ejakulasi atau buang air kecil.
- Adanya benjolan atau pembengkakan di testis atau area selangkangan.
- Usia Anda di atas 40 tahun, karena risiko kondisi prostat meningkat.
Diagnosis dan Penanganan
Dokter biasanya akan memulai dengan menanyakan riwayat kesehatan seksual Anda dan melakukan pemeriksaan fisik. Tes yang mungkin diperlukan meliputi:
- Analisis Urin: Untuk mendeteksi infeksi atau darah dalam urine.
- Tes Darah: Untuk memeriksa tanda-tanda infeksi atau penanda kanker prostat (PSA).
- Pemeriksaan Prostat Rektal Digital (PRD): Untuk merasakan ukuran dan tekstur prostat.
- USG (Ultrasonografi): Untuk melihat struktur internal testis, prostat, dan kandung kemih seminal.
- Uretroskopi atau Sistoskopi: Pemasukan kamera kecil untuk melihat bagian dalam uretra dan kandung kemih.
Penanganan sangat bergantung pada penyebabnya. Jika disebabkan oleh infeksi, antibiotik akan diresepkan. Jika disebabkan oleh trauma ringan, dokter mungkin hanya menyarankan istirahat seksual sementara waktu. Untuk kasus yang lebih kompleks, penanganan spesifik terhadap kondisi prostat atau vaskular akan dilakukan.
Kesimpulannya, jangan panik jika Anda mengalami hematospermia, namun jangan pula mengabaikannya. Diagnosis dini adalah kunci untuk memastikan kesehatan sistem reproduksi Anda tetap terjaga.