Surah Al-Waqi'ah adalah salah satu surah yang paling sering dibaca dan dipelajari dalam tradisi Islam, terutama karena keutamaannya yang sangat terkenal terkait rezeki dan kekayaan spiritual. Namun, di tengah fokus pada keutamaan tersebut, seringkali muncul pertanyaan mendasar: berapa sebenarnya jumlah ayat yang terkandung dalam Surah Al-Waqi'ah?
Artikel ini akan menjawab pertanyaan tersebut secara pasti, sekaligus membawa kita pada perjalanan mendalam menelusuri pesan utama surah yang diwahyukan di Mekkah ini—sebuah gambaran yang rinci dan menakutkan tentang Hari Kiamat, pembalasan, dan pembagian manusia menjadi tiga golongan abadi.
Visualisasi Surah Al-Waqi'ah yang menggarisbawahi tiga golongan manusia di Hari Pembalasan.
Surah Al-Waqi'ah (سورة الواقعة), yang artinya 'Hari Kiamat' atau 'Kejadian yang Pasti', adalah surah ke-56 dalam urutan mushaf Utsmani. Surah ini termasuk golongan surah Makkiyah, yang berarti sebagian besar ayatnya diwahyukan sebelum Nabi Muhammad ﷺ hijrah ke Madinah, fokus pada tauhid (keesaan Allah) dan ancaman Hari Kebangkitan.
Berdasarkan konsensus para ulama tafsir dan Qira'at (pembacaan Al-Qur'an), termasuk madzhab Kufah yang menjadi standar umum dalam mushaf di banyak negara, jumlah ayat Surah Al-Waqi'ah adalah:
Jumlah 96 ayat ini terbagi dalam Juz ke-27 dari Al-Qur'an. Meskipun beberapa riwayat kuno mungkin memiliki sedikit perbedaan angka, perbedaan tersebut biasanya hanya terletak pada cara penghitungan (misalnya, apakah basmalah dihitung sebagai ayat pertama atau tidak, meskipun dalam kasus Al-Waqi'ah, perbedaan ini minim). Jumlah 96 ayat adalah angka yang diterima secara universal dalam mushaf standar saat ini.
Surah Al-Waqi'ah merupakan kelanjutan tematik dari Surah Ar-Rahman (surah sebelumnya). Jika Ar-Rahman berfokus pada nikmat Allah di dunia dan akhirat serta menyentuh dualitas surga dan neraka, Al-Waqi'ah secara eksklusif menggambarkan kengerian dan kepastian Kiamat, serta pemisahan total manusia ke dalam tiga kelompok berdasarkan amal perbuatannya.
Karena diwahyukan di Mekkah, tema utamanya sangat kental dengan penegasan akidah, terutama penegasan terhadap:
Untuk benar-benar menghayati surah ini, kita perlu membedah struktur naratifnya. Surah Al-Waqi'ah terbagi menjadi empat bagian utama yang sangat terstruktur, memimpin pembaca dari gambaran umum Kiamat hingga detail pahala dan siksa, dan diakhiri dengan penegasan kekuasaan Ilahi.
Surah dibuka dengan pernyataan yang tegas tentang kepastian Hari Kiamat. Allah SWT menggunakan nama ‘Al-Waqi’ah’ (Kejadian yang Pasti) untuk menekankan bahwa peristiwa ini bukan spekulasi, melainkan janji yang tak terhindarkan. Pada permulaan surah ini, dijelaskan bahwa Kiamat akan terjadi tanpa keraguan sedikit pun, dan kedatangannya akan meratakan segalanya.
(Terjemah Ayat 1-3): Apabila terjadi Hari Kiamat, tidak ada yang dapat mendustakan kejadiannya. (Kejadian itu) merendahkan (satu golongan) dan meninggikan (golongan yang lain).
Ayat-ayat awal ini menjelaskan efek ganda Kiamat: ia akan merendahkan orang-orang yang sombong di dunia dan meninggikan derajat orang-orang yang rendah hati dan beriman. Dunia fisik juga akan mengalami transformasi drastis:
Setelah kehancuran total ini, manusia akan dibagi menjadi tiga kelompok besar, sebuah struktur tripartit yang menjadi inti dari seluruh surah ini (Ayat 7-10).
Ayat 7 hingga 56 merupakan bagian terpanjang dan paling rinci, menggambarkan kondisi, pahala, dan siksaan bagi masing-masing kelompok secara bergantian. Tiga kelompok tersebut adalah:
Ini adalah golongan tertinggi, mereka yang bergegas melakukan kebaikan dan ketaatan tanpa ragu. Mereka adalah yang 'paling dahulu' dalam beriman dan beramal saleh. Kelompok ini jumlahnya sedikit dari umat terdahulu tetapi lebih sedikit lagi dari umat Nabi Muhammad ﷺ.
Pahala Mereka (Ayat 12-26):
Kehidupan Muqarrabun digambarkan sebagai kemewahan spiritual dan fisik yang tak terbayangkan, disediakan bagi mereka yang mencapai tingkat Ihsan (beribadah seolah melihat Allah).
Golongan Kanan adalah mayoritas umat Islam yang beriman, melakukan kewajiban, dan menjauhi larangan. Mereka adalah orang-orang yang menerima catatan amal dengan tangan kanan sebagai tanda keberuntungan dan keselamatan. Mereka tidak 'berlari kencang' seperti Muqarrabun, tetapi mereka konsisten dalam ketaatan.
Pahala Mereka (Ayat 27-40):
Deskripsi Surga untuk Ashab Al-Maimana lebih rinci dan fokus pada elemen alam yang menenangkan, kontras dengan deskripsi Muqarrabun yang fokus pada kemewahan dan pelayan:
Surah ini menegaskan bahwa kelompok kanan ini terdiri dari sebagian besar umat terdahulu dan sebagian besar umat akhir zaman.
Ini adalah golongan celaka, orang-orang yang mendustakan kebenaran dan Hari Kiamat. Mereka adalah orang-orang kafir dan pendosa besar yang tidak bertaubat, yang menerima catatan amal dengan tangan kiri.
Siksaan Mereka (Ayat 41-56):
Kondisi mereka di Neraka digambarkan sebagai penderitaan fisik yang ekstrem:
Kontras yang tajam antara deskripsi ketiga golongan ini berfungsi sebagai pengingat moral yang kuat bagi para pendengar Mekkah yang saat itu meragukan kebangkitan.
Setelah menggambarkan hasil akhir (akhirat), Surah Al-Waqi'ah beralih ke argumen logis untuk membuktikan bahwa Allah yang mampu menciptakan kehidupan dari ketiadaan, pasti mampu menghidupkan kembali manusia setelah kematian. Bagian ini menggunakan fenomena alamiah yang dilihat sehari-hari sebagai bukti.
Allah menanyakan kepada manusia: "Tidakkah kamu perhatikan nutfah (air mani) yang kamu pancarkan?" (Ayat 58). Allah menantang manusia: "Apakah kamu yang menciptakannya atau Kami yang menciptakannya?" Karena Allah yang memulai penciptaan, Dia pasti mampu mengulangnya. Ayat 61 secara indah menegaskan bahwa Allah dapat mengganti umat manusia dengan yang lain dan mengubah bentuk mereka menjadi bentuk yang tidak diketahui manusia saat ini.
Allah meminta manusia merenungkan benih yang mereka tanam. Jika Allah berkehendak, Dia bisa membuat tanaman itu kering dan hancur sebelum sempat berbuah, sehingga manusia hanya bisa menyesal dan berteriak, "Sesungguhnya kami benar-benar merugi, bahkan kami tidak mendapat hasil apa-apa." Ini adalah argumen atas kontrol total Allah terhadap rezeki dan kehidupan.
Air yang kita minum, yang menjadi sumber kehidupan, diturunkan oleh Allah. Manusia tidak memiliki kekuatan untuk menurunkan air hujan dari awan. Jika Allah berkehendak, Dia bisa menjadikannya asin atau pahit. Ini adalah pengingat harian akan kebergantungan total kita kepada Sang Pencipta.
Api yang kita gunakan untuk memasak dan menghangatkan diri berasal dari kayu. Manusia ditantang untuk merenungkan pohon yang menghasilkan api. Ayat ini menghubungkan api duniawi (yang berasal dari pohon) dengan api Neraka (yang digambarkan sebelumnya), menempatkan api sebagai peringatan dan kenikmatan sekaligus.
Bagian penutup ini berfungsi sebagai klimaks, di mana Allah bersumpah dengan sumpah yang agung untuk menegaskan kemuliaan Al-Qur'an dan mengakhiri surah dengan deskripsi nasib manusia di ambang kematian.
Allah bersumpah demi tempat-tempat terbenam dan terbitnya bintang-bintang (Mawaqi’in Nujum). Para mufassir menjelaskan bahwa sumpah ini sangat besar karena lokasi peredaran bintang-bintang adalah hal yang luar biasa dalam keagungan kosmik. Sumpah ini digunakan untuk menegaskan:
إِنَّهُ لَقُرْآنٌ كَرِيمٌ (77) فِي كِتَابٍ مَّكْنُونٍ (78)
Terjemah: Sesungguhnya (Al-Qur'an) ini benar-benar bacaan yang mulia, dalam Kitab yang terpelihara (Lauhul Mahfuzh).
Ayat-ayat ini menolak klaim kaum kafir Mekkah bahwa Al-Qur'an hanyalah syair atau sihir. Ini adalah kitab yang diturunkan dari sumber yang tertinggi dan paling suci.
Surah beralih ke momen paling menentukan dalam hidup manusia: sakaratul maut (kematian). Allah menantang manusia untuk mengembalikan ruh yang telah sampai di tenggorokan (Hulqum). Manusia tidak berdaya saat kematian datang, meskipun saat itu orang-orang terdekat mungkin ada di sekitarnya. Ayat 85 menyatakan: "Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada kamu, tetapi kamu tidak melihat." Ini menekankan kehadiran Allah dan Malaikat Maut yang tak terlihat.
Nasib manusia di saat kematian ditentukan oleh amal perbuatannya di dunia, dan surah ini merangkum nasib ketiga golongan tersebut sekali lagi, sebagai penutup:
Surah diakhiri dengan perintah untuk bertasbih (mensucikan) nama Tuhan Yang Maha Besar, sebagai respons yang pantas atas semua kebenaran dan janji yang telah disampaikan.
فَسَبِّحْ بِاسْمِ رَبِّكَ الْعَظِيمِ (96)
Selain kedalaman teologisnya, Surah Al-Waqi'ah sangat dikenal dalam masyarakat Muslim karena keutamaan yang dikaitkan dengannya, terutama dalam hal menjaga rezeki dan menjauhkan kemiskinan. Hadis yang paling populer mengenai keutamaan ini berbunyi:
Diriwayatkan dari Ibnu Mas'ud, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Barangsiapa membaca Surah Al-Waqi'ah setiap malam, ia tidak akan ditimpa kefakiran selama-lamanya." (HR. Al-Baihaqi dalam Syu'abul Iman)
Keutamaan ini telah lama menjadi tradisi yang dijaga oleh umat Islam, meskipun para ulama hadis memiliki pandangan berbeda mengenai status sanad hadis tersebut (sebagian menganggapnya dha'if jiddan/sangat lemah karena ada perawi yang bermasalah). Namun, mayoritas ulama tafsir dan fadhailul a'mal (keutamaan amal) sepakat bahwa isi dari hadis tersebut dapat diamalkan, dan keutamaan ini diterima secara luas karena:
Inti dari surah ini, sebagaimana disinggung pada Bagian III (Ayat 57-74), adalah penegasan kekuasaan Allah atas segala aspek kehidupan, termasuk air, api, tanaman, dan penciptaan manusia. Membaca Al-Waqi'ah setiap malam adalah bentuk pengakuan total atas tauhid rububiyah (pengakuan Allah sebagai Pengatur) dan keyakinan bahwa rezeki mutlak berada di tangan-Nya.
Ketika seseorang rutin merenungkan ayat-ayat seperti:
Hal ini menumbuhkan sikap tawakkal (bergantung sepenuhnya) dan qana'ah (merasa cukup). Keyakinan ini secara spiritual menghilangkan rasa fakir (kemiskinan hati), yang merupakan kunci dari kekayaan sejati, bahkan jika secara materi seseorang hidup sederhana.
Fakir yang dimaksud dalam hadis bisa jadi bukan hanya fakir materi, melainkan fakir spiritual. Ketika seseorang secara rutin membaca dan merenungkan janji-janji surga yang tak terbayangkan bagi Muqarrabun dan Ashab Al-Maimana, serta kengerian Neraka bagi Ashab Al-Mash'ama, fokus hidupnya akan bergeser.
Seseorang yang fokus pada kehidupan abadi tidak akan mudah terserang penyakit hati berupa kerakusan (tamak) terhadap harta duniawi. Dengan demikian, ia merasa 'kaya' karena hatinya terisi oleh kepastian janji akhirat, dan kekhawatiran terhadap rezeki duniawi menjadi hilang.
Terlepas dari status sanadnya, mengamalkan pembacaan Al-Qur'an secara rutin—terutama surah yang menguatkan akidah—adalah amal saleh yang sangat dianjurkan. Allah SWT menjanjikan kebaikan bagi mereka yang mendekat kepada-Nya. Jika seseorang rutin membaca 96 ayat ini setiap malam, ia pasti mendapatkan pahala yang melimpah dan berkah dalam kehidupannya.
Kajian mendalam terhadap Surah Al-Waqi'ah menunjukkan kehebatan retorika Al-Qur'an, terutama dalam struktur paralelisme dan kontrasnya. Surah ini menggunakan teknik yang disebut Iltifat (perubahan gaya bahasa) untuk menarik perhatian pembaca dan pendengar.
Struktur surah ini adalah contoh sempurna dari muqabalah (kontras). Deskripsi kenikmatan surga dan siksaan neraka dihadapkan secara berurutan, seringkali dengan jumlah ayat yang seimbang, untuk memperkuat dampak peringatan:
Perbedaan kecil dalam jumlah ayat menunjukkan bahwa deskripsi penderitaan dan penyesalan kaum yang merugi cenderung membutuhkan penjelasan yang lebih detail untuk menggambarkan keparahan hukuman mereka.
Bagian III yang membuktikan kekuasaan Allah (Ayat 57-74) hampir seluruhnya terdiri dari serangkaian pertanyaan retoris yang menantang akal manusia. Penggunaan kata "Afara'aytum" (tidakkah kamu perhatikan/telahkah kamu melihat?) diulang beberapa kali. Ini bukan pertanyaan yang membutuhkan jawaban verbal, melainkan undangan untuk merenungkan kelemahan diri sendiri dan keagungan Allah dalam hal-hal yang paling dasar: kelahiran, pertanian, air, dan api.
Contoh: "Afara’aytum ma tahruśuun?" (Tidakkah kamu perhatikan benih yang kamu tanam?) – Pertanyaan ini memaksa pendengar mengakui bahwa proses pertumbuhan benih di luar kendali mereka, dan bahwa mereka sepenuhnya bergantung pada kehendak Allah untuk mendapatkan hasil panen.
Sumpah demi "tempat-tempat terbenamnya bintang" (Mawaqi’in Nujum) dianggap oleh banyak mufassir sebagai sumpah kosmik yang paling menakjubkan dalam Al-Qur'an. Bintang-bintang yang kita lihat saat ini mungkin telah mati jutaan tahun yang lalu, dan yang kita lihat hanyalah posisi masa lalu (mawaqi').
Para ulama kontemporer menafsirkan sumpah ini sebagai isyarat ilmu astronomi dan kebesaran ruang waktu, yang jauh melampaui pemahaman manusia Mekkah abad ke-7. Sumpah sekuat ini hanya digunakan untuk menegaskan kebenaran yang paling fundamental: bahwa Al-Qur'an adalah Kitab yang Mulia, datang dari Allah.
Membaca 96 ayat Surah Al-Waqi'ah seharusnya tidak hanya menjadi rutinitas mencari rezeki, tetapi sebuah latihan spiritual (tadabbur) yang mendalam. Berikut adalah poin-poin kontemplasi yang dapat diambil dari surah ini:
Muqarrabun digambarkan sebagai mereka yang 'As-Sabiqun' (yang paling dahulu). Ini memotivasi mukmin untuk tidak menunda amal kebaikan. Tadabbur terhadap bagian ini mendorong introspeksi: apakah saya hanya melakukan kewajiban (seperti Ashab Al-Maimana) atau saya berlomba-lomba dalam kebaikan (seperti Muqarrabun) dengan shalat sunnah, puasa sunnah, dan sedekah tersembunyi?
Ayat 68-70 tentang air minum sangat relevan dalam kehidupan sehari-hari. Kita sering menganggap remeh air tawar. Surah ini mengajarkan bahwa air tawar adalah anugerah murni dari Allah. Jika kita merenungkan bagaimana Allah bisa dengan mudah menjadikannya air yang tidak dapat diminum (asin), maka setiap tegukan air menjadi alasan untuk bersyukur. Rasa syukur (syukr) yang mendalam adalah benteng terkuat melawan kemiskinan hati.
Bagi mereka yang masih bimbang tentang kebangkitan atau akhirat, Bagian III (Ayat 57-74) berfungsi sebagai penguatan akidah yang luar biasa. Jika tubuh kita terurai menjadi debu, kita harus ingat: Allah yang mampu menyusun kehidupan dari setetes cairan hina (nutfah), pasti mampu menyusunnya kembali. Kematian hanyalah proses perubahan bentuk, bukan akhir dari keberadaan.
Al-Qur'an memiliki banyak surah yang membahas Hari Kiamat (misalnya, Al-Qari'ah, Al-Zalzalah, An-Naba', Al-Ghashiyah). Namun, Al-Waqi'ah menempati posisi unik karena fokusnya pada tripartit pembagian manusia.
Struktur rinci pembalasan di Al-Waqi'ah menjadikannya salah satu teks fundamental dalam eskatologi Islam, memberikan gambaran visual yang nyata tentang masa depan abadi setiap individu.
Ayat-ayat Surah Al-Waqi'ah memberikan deskripsi yang mendalam tentang kenikmatan yang bersifat interpersonal di surga, khususnya mengenai bidadari (Hurrun 'In) dan pelayan muda yang kekal (Wildanun Mukhalladun).
Ayat 17 dan 35 menyebutkan "anak-anak muda yang kekal" yang melayani penghuni surga. Mufassir menjelaskan bahwa mereka adalah makhluk ciptaan Allah yang ditugaskan khusus untuk melayani. Mereka ‘kekal’ (mukhalladun) dalam arti mereka tidak akan pernah tua, bosan, atau mati. Mereka membawa cawan berisi minuman tanpa menimbulkan keributan atau perkataan sia-sia, menunjukkan kesempurnaan pelayanan di surga, kontras dengan pelayanan yang seringkali tidak sempurna di dunia.
Deskripsi bidadari dalam surah ini sangat puitis:
Ayat-ayat ini memastikan bahwa kenikmatan surga tidak hanya terbatas pada makanan dan minuman, tetapi juga melibatkan keharmonisan dan keindahan interpersonal yang sempurna, bebas dari konflik duniawi.
Surah Al-Waqi'ah mengandung 96 ayat yang padat makna, terbagi menjadi empat bagian utama yang menyusun argumen yang kokoh tentang kepastian Hari Kiamat dan keadilan pembalasan Ilahi. Surah ini bukan sekadar bacaan rutin untuk menarik rezeki, melainkan peta jalan spiritual yang mengajarkan umat manusia tentang ketergantungan total kepada Allah SWT (tawakkal) dan pentingnya persiapan abadi.
Dengan merenungkan bagaimana 96 ayat ini merinci nasib Muqarrabun, Ashab Al-Maimana, dan Ashab Al-Mash'ama, seorang mukmin didorong untuk mengevaluasi posisi dirinya, meninggalkan sifat tamak yang menjadi akar kefakiran, dan berlomba-lomba dalam amal saleh agar termasuk dalam golongan yang berbahagia. Membaca Al-Waqi'ah adalah pengingat harian bahwa kejadian besar (Al-Waqi'ah) pasti akan datang, dan hanya kesiapan amal yang akan menjadi penentu nasib kekal kita.
Maka, mari kita jadikan Surah Al-Waqi'ah, dengan segala kedalaman tafsir dan keutamaannya, sebagai bagian tak terpisahkan dari ibadah harian, menguatkan hati dari keraguan, dan mengisi jiwa dengan keyakinan akan hari pembalasan yang pasti.