Berapa Jumlah Ayat di Dalam Al-Quran? Analisis Komprehensif

Ikon Kitab Suci Al-Quran

Pertanyaan mengenai berapa jumlah pasti ayat di dalam Al-Quran adalah salah satu pertanyaan fundamental yang sering diajukan oleh umat Islam maupun non-Muslim yang mendalami studi Islam. Jawaban terhadap pertanyaan ini, meskipun pada dasarnya tunggal, justru mengungkap kompleksitas sejarah kodifikasi, tradisi transmisi, dan keragaman metodologi ilmiah Islam yang dikenal sebagai ilmu Qira’at. Secara umum, sebagian besar umat Islam kontemporer, terutama yang menggunakan mushaf cetakan standar, akan menjawab dengan angka yang telah ditetapkan, namun angka ini bukanlah satu-satunya hitungan yang sah di sepanjang sejarah Islam.

Al-Quran, sebagai kitab suci yang diyakini sebagai wahyu Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad ﷺ, terdiri dari 114 surah. Meskipun jumlah surah bersifat mutlak dan tidak diperdebatkan, penetapan batas-batas akhir dan awal dari setiap ayat (yang dalam bahasa Arab disebut al-Fawasil) telah menjadi subjek pembahasan para ulama sejak masa sahabat. Perbedaan dalam penghitungan ayat ini sama sekali tidak memengaruhi isi, huruf, atau kata-kata yang terkandung dalam mushaf; perbedaan ini murni terletak pada konvensi penandaan titik henti (fasilah) yang digunakan oleh sekolah-sekolah Qira’at yang berbeda.

Secara ringkas, jumlah ayat Al-Quran yang paling umum diterima dan digunakan di seluruh dunia, khususnya dalam Mushaf standar cetakan Madinah dan Kairo (yang mengikuti riwayat Hafsh ‘an Ashim dari Qira’at Kufi), adalah 6236 ayat. Namun, angka ini adalah hasil dari satu tradisi hitungan di antara lima tradisi hitungan utama lainnya.

I. Fondasi Historis dan Ilmu Adad al-Ayat

Untuk memahami variasi jumlah ayat, kita harus terlebih dahulu menyelami ilmu Adad al-Ayat (Ilmu Penghitungan Ayat). Ilmu ini merupakan cabang dari ilmu Qira’at yang fokus pada penentuan titik henti ayat. Penetapan titik henti ini diyakini bersifat Tauqifi, artinya berdasarkan ajaran langsung dari Nabi Muhammad ﷺ. Rasulullah sendiri yang memberikan tanda kepada para sahabat di mana ayat itu berakhir, meskipun mungkin beliau tidak secara eksplisit menghitung jumlah totalnya.

A. Masa Sahabat dan Tabiat Penandaan Ayat

Pada masa awal Islam, mushaf-mushaf yang ditulis oleh para sahabat seperti Ubay bin Ka’ab, Abdullah bin Mas’ud, dan Zaid bin Tsabit, seringkali tidak mencantumkan tanda titik atau harakat sebagaimana mushaf modern. Meskipun demikian, mereka mengetahui batas-batas ayat karena mereka mendengarkan langsung pembacaan dan pengajaran dari Nabi Muhammad ﷺ. Ketika Nabi berhenti membaca dan memulai kembali dengan ayat baru, sahabat mencatat lokasi berhenti tersebut.

Ketika mushaf distandardisasi pada masa Khalifah Utsman bin Affan (Mushaf Utsmani), fokus utama adalah kesamaan huruf dan kata, yang memastikan keotentikan teks. Namun, masalah penentuan titik henti ayat masih terbuka untuk interpretasi berdasarkan riwayat lisan yang berbeda dari para Qari (pembaca) terkemuka di berbagai pusat ilmu Islam.

B. Lima Sekolah Utama Penghitungan (Adad al-Mudun)

Perbedaan dalam riwayat lisan tentang titik berhenti yang diajarkan Nabi Muhammad ﷺ kepada murid-muridnya di berbagai wilayah (Madinah, Mekkah, Kufah, Basrah, dan Syam) menghasilkan lima tradisi penghitungan utama. Masing-masing tradisi ini dinamakan berdasarkan kota atau pusat keilmuan tempat riwayat tersebut berakar.

Pusat Qira’at Imam Utama Riwayat Jumlah Ayat Status Kontemporer
Adad al-Madani Awwal (Madinah Pertama) Abu Ja'far Yazid bin al-Qa'qa' 6217 Digunakan oleh beberapa riwayat Madani.
Adad al-Madani Akhir (Madinah Kedua) Nafi’ bin Abi Nu’aim 6214 atau 6219 Riwayat terkenal, namun jarang digunakan sebagai standar.
Adad al-Makki (Mekkah) Abdullah bin Katsir 6210 Jarang dipakai sebagai standar global.
Adad al-Kufi (Kufah) Ashim bin Abi an-Najud (Melalui Hafsh) 6236 Standar Internasional (Mushaf Utsmani modern).
Adad al-Bashri (Basrah) Abu Amr bin al-Ala 6204 Jumlah terendah, karena penggabungan ayat yang lebih banyak.
Adad al-Syami (Syam/Damaskus) Abdullah bin Amir 6226 Digunakan di beberapa wilayah Timur Tengah.

Angka 6236 (Adad al-Kufi) menjadi dominan karena riwayat Qira’at yang mendasarinya, yaitu Qira’at Ashim riwayat Hafsh, merupakan riwayat yang paling banyak tersebar dan diajarkan di dunia Islam sejak berabad-abad, menjadikannya standar de facto untuk penomoran dan penghafalan.

II. Sumber Utama Perbedaan Penghitungan

Meskipun perbedaan angka total terkesan signifikan, penyebabnya dapat dikelompokkan menjadi beberapa poin kunci yang melibatkan bagaimana para Qari di berbagai pusat ilmu memperlakukan bagian-bagian tertentu dari Surah. Memahami poin-poin ini adalah kunci untuk mengapresiasi keilmuan di balik Adad al-Ayat.

Ikon Tanda Hitungan dan Perbedaan

A. Kontroversi Basmalah (Bismillahir-Rahmanir-Rahim)

Ini adalah penyebab perbedaan penghitungan yang paling besar dan terkenal. Terdapat dua pandangan utama mengenai status Basmalah (kecuali Basmalah di Surah An-Naml, ayat 30, yang disepakati sebagai bagian dari ayat):

1. Basmalah sebagai Ayat Tersendiri

Menurut sekolah Kufi (yang menghasilkan hitungan 6236) dan Mekkah, Basmalah di awal Surah Al-Fatihah dianggap sebagai ayat pertama (Ayat 1). Dengan demikian, Surah Al-Fatihah dihitung sebagai 7 ayat. Selain itu, Basmalah di awal setiap surah (kecuali At-Taubah) juga dihitung sebagai ayat tersendiri oleh beberapa mazhab, meskipun ini lebih jarang. Penghitungan Kufi memasukkan Basmalah pada Al-Fatihah sebagai ayat 1, dan memasukkan Basmalah pada surah-surah lainnya sebagai penanda pemisah, tetapi tidak sebagai ayat bernomor, kecuali dalam beberapa kasus yang mengakibatkan perbedaan total.

2. Basmalah sebagai Pemisah/Tabarruk

Menurut sekolah Madani, Bashri, dan Syami, Basmalah di awal Surah Al-Fatihah tidak dihitung sebagai ayat pertama. Ayat pertama Al-Fatihah dimulai dari "Alhamdulillahi Rabbil 'Alamin." Untuk mencapai jumlah 7 ayat, kelompok ini biasanya menggabungkan ayat terakhir Al-Fatihah, yaitu "Shirathalladzina an'amta 'alaihim ghairil maghdhubi 'alaihim waladh-dhallin" menjadi dua ayat terpisah, atau menganggap gabungan dua bagian terakhir sebagai dua ayat. Perbedaan ini menunjukkan bagaimana penomoran ayat bergeser untuk menjaga jumlah total 7 ayat yang disepakati (karena riwayat Nabi menyebut Al-Fatihah sebagai "As-Sab'ul Matsani" - tujuh ayat yang diulang).

B. Huruf Muqatta’at (Huruf-Huruf Terputus)

Huruf Muqatta’at adalah gabungan huruf yang muncul di awal 29 surah dalam Al-Quran (misalnya Alif Lam Mim, Ha Mim, Kaf Ha Ya Ain Shad). Perbedaan utama timbul dalam cara memperlakukan huruf-huruf ini: apakah ia dihitung sebagai ayat penuh tersendiri atau sebagai bagian dari ayat berikutnya.

Karena ada 29 tempat di mana Huruf Muqatta’at muncul, cara memperlakukannya menyumbang sekitar 20-30 perbedaan dalam hitungan total antar mazhab. Misalnya, di Surah Al-Baqarah, perbedaan ini sudah menghasilkan satu ayat ekstra dalam hitungan Kufi dibandingkan hitungan Bashri.

C. Titik Henti pada Ayat yang Panjang

Beberapa ayat dalam Al-Quran sangat panjang. Dalam tradisi lisan, Nabi Muhammad ﷺ terkadang berhenti di tengah ayat untuk menarik napas atau untuk menekankan makna, meskipun Beliau kemudian melanjutkan tanpa mengulang Basmalah. Para ulama berbeda pendapat apakah titik henti ini harus dihitung sebagai akhir ayat.

Contoh paling mencolok adalah Ayat Ad-Dain (Ayat Hutang), Surah Al-Baqarah ayat 282, yang merupakan ayat terpanjang dalam Al-Quran. Beberapa sekolah (terutama Bashri) cenderung menggabungkan beberapa kalimat panjang menjadi satu ayat, sementara sekolah Kufi dan Syami cenderung memisahkannya menjadi dua atau lebih ayat.

Perbedaan ini juga terlihat pada akhir Surah (seperti di Surah Al-Ma'idah, An-Nisa, atau An-Nahl) di mana terjadi pemisahan kata kerja atau sifat menjadi ayat yang berdiri sendiri oleh beberapa Qari, sementara yang lain menganggapnya sebagai pelengkap kalimat sebelumnya. Penekanan pada rima akhir (fasila) juga memainkan peran besar dalam penentuan titik henti ini.

III. Analisis Mendalam: Mengapa 6236 Menjadi Standar Global?

Jika ada lima hingga enam hitungan yang sah secara historis, mengapa hitungan Kufi (6236) yang mendominasi hampir seluruh mushaf yang beredar saat ini, dari Asia Tenggara hingga Afrika Utara dan Eropa?

A. Peran Imam Ashim dan Riwayat Hafsh

Hitungan 6236 berasal dari Imam Abu Abdurrahman Abdullah bin Habib As-Sulami, yang merupakan guru dari Imam Ashim bin Abi an-Najud, tokoh sentral dalam Qira’at Kufi. Tradisi ini kemudian disebarkan secara luas melalui murid Ashim, yaitu Hafsh bin Sulaiman.

Keunggulan riwayat Hafsh 'an Ashim terletak pada dua faktor utama: sanad (rantai transmisi) yang sangat kuat dan kemudahan dalam pengajaran. Sanad Qira’at Kufi dianggap salah satu yang paling otentik dan paling banyak diikuti di masa-masa keemasan Islam. Ketika industri percetakan mushaf mulai masif di Kairo pada abad ke-20, ulama di sana memutuskan untuk mengadopsi tradisi Kufi (Hafsh) sebagai standar karena jangkauannya yang sudah global dan penerimaannya yang luas di Mesir, yang saat itu menjadi pusat percetakan kitab-kitab Islam.

B. Konsensus di Balik Perbedaan

Sangat penting untuk ditekankan bahwa semua ulama sepakat bahwa perbedaan dalam penghitungan ayat adalah masalah variasi penomoran, bukan variasi teks. Semua versi hitungan tersebut (6204, 6219, 6236, dll.) masih berasal dari Mushaf Utsmani yang sama. Tidak ada satu huruf pun yang berbeda.

Perbedaan ini dapat diilustrasikan sebagai berikut: jika sebuah teks terdiri dari 100 kalimat, seorang penyunting mungkin memisahkannya menjadi 5 paragraf, sementara penyunting lain memisahkannya menjadi 7 paragraf. Teksnya tetap sama, tetapi jumlah unit hitungnya berbeda. Dalam konteks Al-Quran, unit-unit ini adalah Ayat.

C. Perbandingan Hitungan Ayat (Contoh Surah)

Untuk memberikan pemahaman yang lebih konkret tentang bagaimana perbedaan ini terjadi, mari kita lihat perbandingan penghitungan ayat untuk beberapa surah penting menurut Adad al-Kufi (6236) dan Adad al-Madani (6219):

Surah Adad al-Kufi (6236) Adad al-Madani (6219) Penyebab Perbedaan
Al-Fatihah 7 7 Kufi menghitung Basmalah. Madani tidak menghitung Basmalah tetapi membagi ayat terakhir (Shirothol...).
Al-Baqarah 286 285 Kufi menghitung "Alif Lam Mim" sebagai ayat 1. Madani menggabungkannya dengan ayat berikutnya.
Yusuf 111 110 Perbedaan pada titik henti di beberapa kalimat panjang.
An-Nahl 128 129 Kasus unik di mana Madani memisahkan lebih banyak titik henti daripada Kufi.
An-Naml 93 93 Disepakati, karena Basmalah di tengah Surah (ayat 30) dihitung sebagai ayat oleh semua mazhab.

Jumlah perbedaan total antar mazhab adalah hasil akumulasi dari puluhan titik perbedaan seperti yang dicontohkan di atas, tersebar di berbagai surah. Total akumulasi ini menghasilkan selisih sekitar 17 hingga 32 ayat antara hitungan tertinggi dan terendah.

IV. Perdebatan Ilmiah Mengenai Fawasil (Titik Henti Ayat)

Konsep Fawasil (bentuk jamak dari fasilah, yang berarti pemisah atau tanda akhir ayat) adalah inti dari ilmu Adad al-Ayat. Para ulama berbeda pendapat mengenai dasar penetapan Fawasil ini: apakah ia sepenuhnya tauqifi (mutlak dari Nabi) ataukah ada unsur ijtihadi (hasil interpretasi ulama).

A. Pandangan Tauqifi Murni

Mayoritas ulama, termasuk yang berafiliasi dengan tradisi Kufi dan Madani, berpegang pada pandangan bahwa penentuan titik henti ayat sepenuhnya bersifat tauqifi. Ini didasarkan pada riwayat-riwayat yang menyebutkan bahwa Nabi Muhammad ﷺ sendiri yang memberikan indikasi kepada sahabat tentang akhir sebuah ayat.

Mereka berargumen bahwa penandaan Fawasil bukanlah masalah tata bahasa atau makna semata, melainkan bagian dari wahyu itu sendiri. Ketika Nabi membaca dan berhenti, itu adalah petunjuk yang harus diikuti. Perbedaan yang muncul hanya karena riwayat lisan yang disampaikan kepada para Qari di berbagai kota memiliki sedikit variasi dalam ingatan dan penekanan mereka terhadap titik-titik berhenti tertentu yang dilakukan Nabi.

B. Pandangan Ijtihadi (Elemen Interpretasi)

Sebagian ulama mengakui adanya elemen ijtihad, terutama pada ayat-ayat yang sangat panjang. Mereka berpendapat bahwa meskipun prinsip dasar Fawasil adalah tauqifi, dalam beberapa kasus, jika terdapat perbedaan riwayat yang setara kekuatannya, ulama terdahulu (seperti para Sahabat) mungkin memilih penandaan yang lebih sesuai dengan kaidah bahasa Arab atau ritme bacaan (rima).

Argumentasi ini seringkali terkait dengan upaya mempertahankan jumlah ayat yang genap atau sesuai dengan nilai numerik tertentu, meskipun ini adalah pandangan minoritas. Secara umum, konsensus tetap bahwa dasar utama penentuan Fawasil adalah riwayat dari Rasulullah, menjadikannya bagian dari tradisi lisan yang diwariskan dengan ketat.

V. Implikasi Praktis dari Perbedaan Jumlah Ayat

Mengingat adanya variasi dalam jumlah ayat, apakah hal ini memiliki dampak signifikan pada praktik keagamaan sehari-hari umat Islam?

A. Shalat dan Pembacaan (Qira’ah)

Dalam konteks shalat, perbedaan penomoran hampir tidak relevan. Ayat-ayat dibaca sesuai dengan teks yang ada. Seorang imam dari Mesir yang menggunakan penomoran Kufi akan membaca teks yang sama persis dengan imam dari Maroko yang mungkin menggunakan tradisi penomoran Madani. Perbedaan hanya muncul jika mereka secara eksplisit menyebutkan nomor ayat saat merujuk pada teks. Selama teksnya sama, shalat tetap sah.

B. Hafalan (Hifzh) dan Pendidikan

Dalam bidang hafalan Al-Quran, perbedaan penomoran Ayat Adad al-Kufi (6236) dan Adad al-Madani (6219) menjadi sangat penting. Penghafal harus berpegangan pada satu tradisi penomoran agar dapat merujuk secara akurat kepada gurunya atau teman-temannya. Inilah sebabnya mengapa standarisasi mushaf Kufi sangat membantu dalam sistem pendidikan modern. Ketika seorang penghafal mengatakan "Ayat 281 Surah Al-Baqarah", semua orang yang menggunakan mushaf standar akan merujuk pada ayat yang sama.

Jika seorang penghafal menggunakan mushaf dengan hitungan Madani, dan seorang lainnya menggunakan mushaf Kufi, maka nomor ayat mereka untuk bagian tengah surah (misalnya, Surah An-Nisa) bisa berbeda 1 atau 2 angka, meskipun mereka merujuk pada baris teks yang sama.

C. Tafsir dan Hukum

Dalam ilmu tafsir dan penetapan hukum (fiqih), para ulama sering kali merujuk pada ayat tertentu. Meskipun penomoran berbeda, ulama biasanya mengidentifikasi ayat dengan menyebutkan kata-kata kunci di awal ayat, sehingga menghilangkan kebingungan yang disebabkan oleh variasi penomoran. Jadi, dampaknya pada interpretasi teologis dan fiqih sangatlah minimal. Ayat tetap berfungsi sebagai unit makna yang koheren, terlepas dari di mana garis akhir ditarik.

VI. Membedah Detail Hitungan 6236 (Adad al-Kufi)

Karena hitungan 6236 adalah standar yang paling dominan, penting untuk merincikan bagaimana angka ini dicapai, terutama dalam konteks perdebatan Basmalah dan Huruf Muqatta’at.

A. Basmalah dalam Hitungan Kufi

Dalam Adad al-Kufi:

Dengan memasukkan Basmalah di Al-Fatihah sebagai ayat ke-7, penghitungan total meningkat satu angka dibandingkan jika Basmalah tidak dihitung. Untuk menjaga keseragaman, mazhab Kufi kemudian harus mengurangi satu ayat di tempat lain agar totalnya tetap konsisten, atau sebaliknya. Penghitungan 6236 ini adalah hasil kompromi dari seluruh variasi yang ada.

B. Huruf Muqatta’at dalam Hitungan Kufi

Kufi menganggap 14 dari 29 Huruf Muqatta’at sebagai ayat tersendiri. Misalnya:

Dengan menghitung 14 rangkaian Huruf Muqatta’at ini sebagai ayat mandiri, hitungan Kufi secara otomatis bertambah 14 angka dibandingkan mazhab yang tidak menghitungnya. Inilah penyumbang utama perbedaan antara Kufi dan Bashri (6204).

Untuk memberikan perspektif tentang seberapa jauh perbedaan ini dapat mencapai 5000 kata, kita perlu memperdalam analisis spesifik per surah yang menjadi titik kontroversi, menunjukkan betapa rumitnya proses penghitungan ini dilakukan oleh para ulama terdahulu.

VII. Rincian Surah Kontroversial dan Variasi Fawasil

Tidak semua surah memiliki perbedaan hitungan ayat. Banyak surah pendek dan Surah Makkiyah awal memiliki jumlah ayat yang disepakati oleh semua Qari. Namun, sebagian besar perbedaan terkonsentrasi pada surah-surah yang panjang atau surah yang mengandung Huruf Muqatta’at.

A. Surah Al-Ma'idah (120 Ayat – Kufi vs. 121 Ayat – Syami)

Surah Al-Ma'idah menunjukkan perbedaan kecil namun signifikan. Mayoritas perbedaan hitungan dalam Surah Al-Ma'idah terpusat pada bagaimana para Qari memisahkan kalimat yang berisi deskripsi hukum atau narasi sejarah. Misalnya, Syami cenderung memisahkan sebuah frasa menjadi dua ayat di mana Kufi menggabungkannya.

Perbedaan yang menonjol adalah pada bagian akhir ayat yang panjang, di mana Kufi dan Madani terkadang berhenti di tengah frasa deskriptif, sementara Syami dan Bashri menunggu hingga frasa tersebut selesai. Hal ini menunjukkan bahwa tradisi di Syam (Adad al-Syami) mungkin lebih menekankan pada kesatuan sintaksis kalimat daripada sekadar ritme lisan (fasila) yang ditunjukkan oleh Nabi.

B. Surah An-Nisa (176 Ayat – Kufi vs. 175 Ayat – Madani)

Perbedaan di Surah An-Nisa seringkali terletak pada perlakuan terhadap penutup ayat (khawatim al-ayat). Surah ini dipenuhi dengan hukum waris dan keluarga, yang seringkali diakhiri dengan frasa pujian atau peringatan kepada Allah.

Contoh spesifik: bagian di mana Kufi memisahkan "Wa kana Allahu ‘Aliman Hakiman" (Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana) sebagai ayat tersendiri, sementara Madani menganggapnya sebagai bagian penutup dari ayat hukum sebelumnya. Karena frasa seperti ini sering diulang dalam surah-surah Madaniyah yang panjang, akumulasi perbedaan ini cepat bertambah. Madani melihat bahwa pujian tersebut melengkapi hukum sebelumnya, sementara Kufi melihatnya sebagai tanda berhenti yang otentik dari Nabi.

C. Surah Al-Hajj (78 Ayat – Kufi vs. 73 Ayat – Bashri)

Perbedaan sebanyak 5 ayat dalam satu surah ini adalah salah satu yang terbesar. Perbedaan yang ekstrem antara Kufi dan Bashri dalam Surah Al-Hajj menggambarkan filosofi hitungan yang berbeda.

Perbedaan ini mencerminkan fokus geografis tradisi: Kufah, sebagai pusat perawi yang sangat menekankan hafalan lisan yang presisi, menghasilkan hitungan yang lebih tinggi. Basrah, dengan fokus yang mungkin lebih akademis dan linguistik, menghasilkan hitungan yang lebih konservatif dan rendah.

VIII. Makna Teologis Ayat (Tanda)

Mengakhiri pembahasan tentang jumlah ayat, penting untuk menggeser fokus dari angka numerik ke makna filosofis dari kata ‘Ayat’ itu sendiri. Dalam bahasa Arab, kata ‘Ayat’ berarti tanda, mukjizat, atau bukti.

A. Ayat Sebagai Bukti Keilahian

Setiap unit ayat, terlepas dari di mana tepatnya batasnya ditarik, adalah sebuah tanda yang menunjukkan keberadaan dan keagungan Allah.

Para ulama menekankan bahwa seluruh Al-Quran, bahkan perbedaannya, adalah mukjizat. Fakta bahwa berbagai komunitas Islam di seluruh dunia dapat mempertahankan teks yang sama persis (huruf dan kata) selama lebih dari 14 abad, meskipun ada sedikit variasi dalam penomoran titik henti, adalah bukti kuat akan kebenaran janji ilahi untuk menjaga kitab suci ini.

B. Konsensus tentang Ayat al-Karimah

Terlepas dari hitungan total, ada beberapa ayat yang memiliki kepentingan khusus dan statusnya sebagai ayat disepakati mutlak oleh semua mazhab Qira’at.

Konsensus pada ayat-ayat kunci ini menunjukkan bahwa, meskipun ada perbedaan teknis dalam penandaan fasilah, esensi dan integritas wahyu tetap terjaga sempurna dan utuh.

IX. Menghitung Total Ayat: Mitos dan Angka Historis Lainnya

Selain lima hitungan utama yang disebutkan, dalam sejarah terdapat beberapa riwayat yang mencatat angka-angka yang sangat jauh berbeda, meskipun riwayat ini umumnya dianggap lemah (dha'if) atau hanya merupakan catatan awal sebelum standarisasi ilmu Adad al-Ayat.

Misalnya, riwayat dari Humaid bin Qais yang mencatat 6218 ayat, atau riwayat yang sangat tua dari Makkah yang mencatat 6216 ayat. Ada pula yang menyebut angka 6666 ayat, sebuah angka yang populer di kalangan masyarakat awam tetapi sama sekali tidak didukung oleh riwayat Qira’at yang sahih.

Angka 6666 ini diperkirakan muncul dari upaya penghitungan yang memasukkan Basmalah di setiap awal Surah (113 Basmalah) ditambah Basmalah di An-Naml, ditambah pula Huruf Muqatta’at, dan beberapa penghitungan yang salah lainnya. Umat Islam harus berhati-hati dan hanya merujuk pada lima hitungan utama yang telah diverifikasi dan memiliki sanad yang kuat, yaitu yang berkisar antara 6204 hingga 6236.

Kesimpulan Akhir: Jika Anda memegang mushaf standar yang dicetak di Arab Saudi, Mesir, atau Indonesia, Anda memegang mushaf yang menggunakan hitungan Adad al-Kufi sebanyak 6236 ayat. Jumlah ini adalah hasil dari transmisi lisan yang cermat dan standar yang diakui secara global. Perbedaan yang ada hanya membuktikan kekayaan dan kedalaman tradisi keilmuan Islam dalam menjaga setiap detail dari firman suci, tanpa mengubah satu huruf pun.

Pemahaman historis ini menegaskan bahwa Al-Quran adalah kitab yang dijaga keasliannya dari segi teks, dan variasi penomoran adalah manifestasi dari bagaimana tradisi lisan Rasulullah direkam dan distandarisasi oleh para ulama besar di pusat-pusat ilmu Islam yang berbeda. Semua tradisi ini diterima dan dihormati, meskipun satu tradisi telah menjadi standar global untuk kemudahan administrasi dan pendidikan.

X. Struktur Internal dan Pembagian Teks dalam Al-Quran

Untuk lebih mendalami mengapa ayat-ayat dapat diperdebatkan batasnya, kita perlu meninjau struktur Al-Quran melampaui sekadar surah dan ayat. Terdapat pembagian lain yang digunakan dalam tradisi Islam yang membantu pemahaman dan hafalan. Pembagian ini, meskipun tidak memengaruhi jumlah ayat, memberikan konteks tentang bagaimana unit teks dibaca dan dipelajari.

A. Juz (Bagian) dan Manzil (Tempat Berhenti)

Al-Quran secara konvensional dibagi menjadi 30 Juz (bagian) yang sama panjangnya, terutama untuk mempermudah pembacaan selama bulan Ramadan (satu juz per malam). Pembagian Juz adalah ijtihadi murni, artinya ditetapkan oleh ulama dan penerbit di kemudian hari, dan tidak memiliki kaitan langsung dengan wahyu atau penomoran ayat. Sebagai contoh, batas Juz ke-18 seringkali jatuh di tengah Surah Al-Mu'minun.

Selain itu, terdapat pembagian 7 Manzil (tempat berhenti), yang digunakan oleh beberapa komunitas untuk menyelesaikan seluruh Al-Quran dalam seminggu. Pembagian ini juga ijtihadi dan berfungsi sebagai alat bantu saja.

B. Ayat, Fasilah, dan Saj' (Rima)

Sebagian besar perbedaan dalam Adad al-Ayat didasarkan pada penentuan fasilah (titik henti). Dalam bahasa Arab, teks Al-Quran memiliki ritme dan rima (disebut Saj'). Ketika Nabi Muhammad ﷺ membacakan wahyu, jeda alaminya seringkali bertepatan dengan perubahan rima ini.

Ketika Surah-surah Makkiyah yang pendek dibacakan, rima (Saj') sangat jelas dan pendek, yang memudahkan penetapan Ayat. Oleh karena itu, Surah-surah pendek Makkiyah biasanya memiliki konsensus tinggi dalam jumlah ayat. Sebaliknya, Surah-surah Madaniyah yang panjang, yang seringkali berisi hukum dan narasi, memiliki rima yang lebih panjang atau terputus-putus. Di sinilah jeda lisan Nabi (karena beliau sedang menjelaskan hukum yang kompleks) terkadang disalahpahami oleh beberapa perawi, menyebabkan perbedaan minoritas dalam penetapan fasilah.

C. Peran Para Qurra' di Setiap Kota

Untuk menghargai variasi jumlah ayat, kita harus mengakui peran para Qurra' yang menjadi acuan di setiap kota, yang riwayatnya menelurkan Adad al-Ayat.

Setiap pusat keilmuan ini mengembangkan metodologi penghitungan yang konsisten berdasarkan riwayat lokal mereka, yang pada akhirnya menghasilkan lima angka yang berbeda namun otentik.

XI. Studi Kasus: Surah Al-Fatihah dan Angka Tujuh yang Mutlak

Kasus Surah Al-Fatihah (Pembukaan) adalah contoh sempurna dari bagaimana perbedaan hitungan muncul namun tetap mencapai hasil akhir yang sama (7 ayat), yang merupakan ketetapan ilahi (As-Sab'ul Matsani).

A. Metode Kufi (Hafsh)

1. Bismillahir-Rahmanir-Rahim (Ayat 1) 2. Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamin (Ayat 2) 3. Ar-Rahmanir-Rahim (Ayat 3) 4. Maliki Yawmiddin (Ayat 4) 5. Iyyaka na'budu wa iyyaka nasta'in (Ayat 5) 6. Ihdinash-Shirathal Mustaqim (Ayat 6) 7. Shirathalladzina an'amta ‘alaihim ghairil maghdhubi ‘alaihim waladh-dhallin (Ayat 7)

Total: 7 ayat. Disini, ayat terakhir dianggap sebagai satu kesatuan.

B. Metode Madani dan Syami

1. Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamin (Ayat 1) 2. Ar-Rahmanir-Rahim (Ayat 2) 3. Maliki Yawmiddin (Ayat 3) 4. Iyyaka na'budu wa iyyaka nasta'in (Ayat 4) 5. Ihdinash-Shirathal Mustaqim (Ayat 5) 6. Shirathalladzina an'amta ‘alaihim (Ayat 6) 7. Ghairil maghdhubi ‘alaihim waladh-dhallin (Ayat 7)

Total: 7 ayat. Disini, Basmalah tidak dihitung, tetapi ayat terakhir dibagi menjadi dua untuk tetap mendapatkan angka 7.

Kasus ini memperkuat pandangan bahwa tujuan ulama adalah mempertahankan jumlah ayat yang diwahyukan (7), dan penentuan batas fasilah menjadi ijtihad berdasarkan riwayat yang mereka terima tentang di mana Nabi berhenti membaca. Perbedaan ini adalah hasil dari komitmen terhadap detail, bukan perselisihan tentang teks.

XII. Signifikansi Numerik dari Ayat Al-Quran

Dalam beberapa tahun terakhir, muncul studi tentang keajaiban numerik dalam Al-Quran (I'jaz al-Adadi). Meskipun ilmu ini menarik, para ulama tradisional selalu menekankan bahwa keajaiban utama Al-Quran adalah dalam bahasanya, maknanya, dan otentisitas transmisinya, bukan dalam hitungan numerik yang didasarkan pada angka yang bervariasi (6236, 6219, dll.).

Jika jumlah ayat disepakati mutlak 6236, maka studi numerik akan lebih kuat. Namun, karena variasi historis Adad al-Ayat, para ahli tafsir mengingatkan agar tidak terlalu bergantung pada angka total ayat sebagai bukti keajaiban numerik, karena angka itu sendiri adalah hasil dari konvensi manusia (ijtihad) berdasarkan riwayat, bukan ketetapan ilahi yang diwahyukan secara eksplisit.

Keunikan Al-Quran terletak pada jaminan bahwa, terlepas dari perbedaan penomoran, kata-kata dan hurufnya tidak pernah berubah, sebuah fakta yang jauh lebih menakjubkan daripada angka total ayat itu sendiri.

XIII. Penutup: Presisi dan Konsistensi Teks

Artikel ini menyimpulkan bahwa meskipun jawaban yang paling umum dan praktis untuk pertanyaan "berapa ayat di dalam Al-Quran" adalah 6236, pemahaman yang lebih dalam memerlukan apresiasi terhadap ilmu Adad al-Ayat. Angka ini adalah kemenangan bagi tradisi Qira’at Kufi, yang kini menjadi standar di seluruh dunia.

Perbedaan antara 6204, 6219, 6226, dan 6236 mencerminkan presisi keilmuan para ulama Islam yang secara cermat mencatat dan meneruskan setiap variasi lisan kecil yang dilakukan oleh Nabi Muhammad ﷺ. Ini adalah warisan metodologis yang memastikan keaslian teks Al-Quran tetap utuh, dari huruf pertama hingga huruf terakhir. Keberadaan variasi ini, alih-alih menimbulkan keraguan, justru memperkuat bukti bahwa teks Al-Quran telah dijaga dengan ketelitian yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah kitab suci manapun.

Dengan demikian, umat Islam modern harus merasa yakin bahwa teks yang mereka baca di mushaf mereka adalah teks yang sama persis dengan yang diturunkan 14 abad lalu, dan penomoran 6236 hanya melayani fungsi standarisasi ilmiah dan kemudahan referensi.

🏠 Homepage