Berapa Ayat dalam Al-Qur'an? Membongkar Sejarah dan Ragam Perhitungan Ulama

Representasi Hitungan Ayat Al-Qur'an Diagram visual yang menampilkan buku terbuka (Al-Qur'an) dengan angka 6236, menunjukkan jumlah ayat yang diterima secara luas. 6236 Jumlah Ayat Kufi

I. Mengapa Pertanyaan Jumlah Ayat Menjadi Penting?

Pertanyaan mengenai berapa jumlah ayat dalam Al-Qur'an adalah salah satu pertanyaan mendasar yang sering muncul, baik di kalangan akademisi maupun umat Muslim awam. Secara sepintas, jawabannya mungkin terkesan sederhana, namun ketika ditelusuri lebih dalam, muncul nuansa historis dan metodologis yang kompleks. Jumlah ayat bukanlah sekadar angka statistik, melainkan mencerminkan bagaimana para ulama terdahulu, yang dikenal sebagai ahli Qira'at (pembacaan) dan 'Addul Ayi (penghitungan ayat), menetapkan batas-batas (fawasil) firman Allah yang diwahyukan.

Al-Qur'an, sebagai mukjizat abadi dan sumber hukum utama dalam Islam, dibagi menjadi 114 surah. Meskipun jumlah surah ini disepakati secara mutlak oleh seluruh mazhab dan sekte Muslim, penetapan batas-batas ayat (di mana satu ayat berakhir dan ayat berikutnya dimulai) ternyata mengalami variasi ringan di antara berbagai pusat keilmuan Islam pada abad-abad awal.

Variasi ini tidak pernah mengindikasikan adanya perbedaan dalam teks (huruf dan kata-kata) Al-Qur'an itu sendiri. Setiap huruf (harf) dan setiap kata (kalimah) dalam Mushaf Utsmani (standar yang dikumpulkan pada masa Khalifah Utsman bin Affan) disepakati dan dihafal. Perbedaan hanya terletak pada cara pengelompokan kalimat-kalimat tersebut menjadi unit-unit yang disebut 'ayat'.

Signifikansi perhitungan ayat ('Addul Ayi) terletak pada: Pertama, penetapan tata cara salat, terutama dalam salat Tarawih, di mana hafalan harus sesuai dengan batas ayat. Kedua, dalam kajian tafsir dan retorika Al-Qur'an (Balaghah), penentuan batas ayat dapat memengaruhi pemahaman terhadap makna dan penekanan linguistik pada suatu frasa.

Kesepakatan dan Perbedaan Umum

Secara umum, terdapat dua angka yang paling sering disebut ketika membahas jumlah ayat Al-Qur'an:

  1. 6236 Ayat: Ini adalah hitungan yang paling otoritatif dan digunakan secara luas di mayoritas Mushaf cetak modern, terutama Mushaf yang mengikuti standar Kufi (Irak).
  2. 6666 Ayat: Angka ini populer di kalangan awam karena alasan numerologi dan kemudahan mengingat, meskipun tidak didukung oleh satu pun dari Tujuh Sekolah Perhitungan Ayat (Madzahib Al-'Addi) yang diakui secara historis. Angka ini sering muncul sebagai generalisasi kasar yang menggabungkan semua surah, termasuk Basmalah pada setiap surah.

Untuk memahami mengapa angka-angka ini ada dan bagaimana ulama bisa berbeda pendapat padahal sumbernya sama, kita harus menyelami sejarah 'Addul Ayi.

II. Akar Historis Perhitungan Ayat (Ilmu 'Addul Ayi)

Penghitungan ayat adalah sebuah disiplin ilmu yang dikenal sebagai 'Ilm Al-'Addul Ayi. Ilmu ini berfokus pada titik-titik henti (fawasil) dan pemisah ayat (ra'sul ayi). Secara tradisi, penentuan batas ayat didasarkan pada cara Rasulullah ﷺ berhenti saat membaca Al-Qur'an.

Transmisi Penentuan Ayat

Penentuan batas ayat (fasilah) bersifat tauqifi, artinya bersumber langsung dari Nabi Muhammad ﷺ. Ketika Jibril mengajarkan wahyu kepada Nabi, Jibril tidak hanya menyampaikan kata-kata, tetapi juga urutan kata-kata yang membentuk ayat, serta urutan ayat-ayat yang membentuk surah. Para Sahabat kemudian mencontoh persis bagaimana Nabi berhenti saat membaca.

Namun, Nabi terkadang berhenti di suatu tempat untuk tujuan bernapas atau mengajar, padahal itu bukan akhir ayat yang sebenarnya. Di lain waktu, beliau berhenti di akhir ayat. Hal ini menciptakan sedikit ambiguitas transmisi di kalangan Sahabat. Misalnya, ketika Nabi membaca ayat yang panjang, beliau mungkin berhenti di beberapa frasa yang indah (Saj'ul Qur'an) yang secara linguistik terlihat seperti akhir kalimat, namun secara otoritatif (tauqifi) belum tentu dianggap sebagai akhir ayat.

Munculnya Sekolah-Sekolah Penghitungan

Setelah wafatnya Nabi, para Sahabat yang tersebar di berbagai pusat kekhalifahan mengajarkan Al-Qur'an kepada generasi Tabi'in (pengikut). Karena sedikitnya variasi dalam penentuan titik henti yang mereka ajarkan, lahirlah enam hingga tujuh sekolah utama penghitungan ayat yang dikenal luas:

  1. Madinah (Awal): Berdasarkan riwayat Sahabat di Madinah.
  2. Madinah (Akhir): Revisi di Madinah.
  3. Makkah (Makki): Berdasarkan riwayat dari Abdullah bin Abbas (ra.).
  4. Kufah (Kufi): Berdasarkan riwayat dari Ali bin Abi Thalib dan Abdullah bin Mas'ud (ra.).
  5. Basrah (Bashri): Sekolah di Basrah.
  6. Syam (Syami): Sekolah di Damaskus/Syria.
  7. Homs: Sekolah minoritas yang kadang disertakan.

Masing-masing sekolah ini memiliki Imam 'Addul Ayi yang diakui dan rantai sanad (transmisi) yang kembali kepada Sahabat tertentu, yang pada gilirannya kembali kepada Nabi ﷺ. Perbedaan angka total yang mereka hasilkan sangat kecil, hanya berkisar antara 6204 hingga 6236 ayat, kecuali perhitungan yang memasukkan Basmalah pada setiap awal surah.

III. Analisis Detail Sekolah-Sekolah Perhitungan Ayat

Untuk mencapai pemahaman yang komprehensif mengenai total jumlah ayat, kita harus memeriksa angka spesifik dari madzhab-madzhab penghitungan yang diakui. Sumber utama dalam ilmu 'Addul Ayi adalah Imam Ad-Dani dalam kitab Al-Bayan dan Imam Asy-Syathibi.

Sekolah Perhitungan (Madzhab Al-'Addi) Jumlah Ayat Total Imam yang Mendasari Wilayah Pengaruh
Madinah (Awal) 6217 Ayat Abu Ja'far Yazid bin Al-Qa'qa' Yaman, sebagian Maroko
Madinah (Akhir) 6214 Ayat Ismail bin Ja'far Sebagian kecil Afrika Utara
Makkah (Makki) 6210 Ayat Abdullah bin Katsir Haramain (Makkah/Madinah Tua)
Kufah (Kufi) 6236 Ayat Abu Abdurrahman As-Sulami (melalui Ali bin Abi Thalib) Irak, Persia, Indonesia, Turki (Standar Modern)
Basrah (Bashri) 6204 Ayat Ashim bin Al-Hajjaj Sebagian kecil Timur Tengah
Syam (Syami) 6226 Ayat Abdullah bin 'Amir Syam (Syria, Yordania, Palestina)

Mengapa Standar Kufi (6236) Menjadi Paling Dominan?

Saat ini, Mushaf standar yang digunakan di hampir seluruh dunia Islam, termasuk yang dicetak oleh Kompleks Percetakan Mushaf Raja Fahd di Madinah (Mushaf Madinah), menggunakan hitungan Kufi, yaitu 6236 ayat. Keunggulan hitungan Kufi terletak pada sanadnya yang kuat, yang bersumber dari Ali bin Abi Thalib, dan kematangannya dalam kodifikasi oleh ulama Kufi seperti Imam Hamzah dan Al-Kisa'i.

Angka 6236 inilah yang harus dianggap sebagai jawaban yang paling akurat secara akademis untuk pertanyaan "berapa ayat dalam Al-Qur'an?"

Menganalisis Angka Populer (6666)

Angka 6666 adalah produk dari perhitungan yang disederhanakan dan sering kali salah kaprah. Angka ini berasal dari hitungan total ayat Kufi (6236) ditambah asumsi bahwa Bismillah ar-Rahman ar-Rahim harus dihitung sebagai ayat yang berdiri sendiri di awal setiap surah, kecuali Surah At-Taubah. Karena ada 114 surah, dan At-Taubah tidak memiliki Basmalah di awal, maka 113 Basmalah ditambahkan.

Perhitungan 6666 (yang tidak sahih):
6236 (Ayat Kufi yang dihitung) + 113 (Basmalah di awal surah) + 317 (Ayat tambahan hipotetis untuk mencapai 6666) = 6666.

Namun, dalam ilmu 'Addul Ayi, Basmalah sudah diperhitungkan secara berbeda oleh setiap madzhab. Madzhab Kufi, misalnya, sudah memasukkan Basmalah sebagai ayat pertama Surah Al-Fatihah, dan mereka juga menghitung Basmalah pada permulaan surah lainnya, namun tidak sebagai ayat mandiri, melainkan sebagai penanda pemisah. Oleh karena itu, angka 6666 tidak mencerminkan metodologi perhitungan ayat yang sah dan telah lama ditinggalkan oleh para ulama Qira'at.

IV. Penyebab Utama Variasi Hitungan Ayat (Ikhtilaf Al-'Add)

Variasi antara 6204 hingga 6236 ayat muncul karena empat faktor utama yang menyebabkan perbedaan pandangan ulama mengenai di mana Nabi ﷺ mengakhiri bacaan ayat:

1. Status Basmalah (Bismillah ar-Rahman ar-Rahim)

Ini adalah perbedaan yang paling signifikan. Apakah Basmalah di awal setiap surah (kecuali At-Taubah) adalah ayat yang berdiri sendiri atau hanya penanda pemisah? Madzhab Kufi dan Makki cenderung menganggap Basmalah sebagai ayat pertama Surah Al-Fatihah. Namun, mereka berbeda dalam status Basmalah di surah-surah lain:

Perbedaan perlakuan ini menyumbang mayoritas disparitas total angka antar madzhab.

2. Memecah atau Menggabungkan Ayat Panjang (At-Ta'wil wal Idrāj)

Beberapa ayat sangat panjang, seperti Ayat Kursi (Al-Baqarah: 255) atau ayat utang (Al-Baqarah: 282). Dalam beberapa riwayat, Nabi ﷺ terlihat berhenti di tengah ayat panjang tersebut, memberikan ulama interpretasi apakah henti tersebut adalah henti nafas (waqf lazim) atau henti ayat (ra'sul ayi).

Contohnya adalah ayat-ayat sumpah di awal Surah Ash-Shaffat. Beberapa madzhab memecah serangkaian sumpah tersebut menjadi ayat-ayat terpisah (menghasilkan jumlah ayat lebih banyak), sementara madzhab lain menganggapnya sebagai satu kesatuan ayat karena kesamaan tema gramatikal.

3. Huruf Muqatta'ah (Huruf Pembuka Surah)

Huruf-huruf seperti Alif Lam Mim (الم), Ha Mim (حم), atau Ya Sin (يس) yang muncul di awal 29 surah juga menimbulkan perbedaan. Madzhab Kufi dan Basrah cenderung menghitung huruf-huruf ini sebagai satu ayat yang berdiri sendiri. Sementara Madzhab Madinah dan Syam sering menggabungkannya dengan kalimat berikutnya sebagai permulaan ayat.

Misalnya, dalam Surah Yasin (يس), hitungan Kufi menganggap "يس" sebagai Ayat 1 dan "والقرآن الحكيم" sebagai Ayat 2. Namun, hitungan Syami mungkin menggabungkan keduanya menjadi Ayat 1.

4. Pengulangan Kata atau Frasa

Dalam surah-surah seperti Ar-Rahman, terdapat pengulangan frasa "فبأي آلاء ربكما تكذبان" (Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?). Semua madzhab sepakat bahwa frasa yang diulang ini adalah akhir ayat. Namun, ada kasus-kasus lain di mana frasa yang serupa dalam surah yang berbeda (atau bahkan dalam surah yang sama) dihitung sebagai ayat oleh satu madzhab, tetapi dianggap bagian dari ayat yang lebih besar oleh madzhab lain.

V. Studi Kasus Perbedaan Signifikan

Untuk mengilustrasikan perbedaan metodologi penghitungan, mari kita telaah beberapa surah kunci yang menjadi fokus utama divergensi antara madzhab Kufi (standar modern) dan Madzhab Madinah atau Syam.

Kasus 1: Surah Al-Fatihah (7 Ayat)

Semua sepakat bahwa Al-Fatihah memiliki 7 ayat. Namun, bagaimana 7 ayat ini dihitung berbeda:

Dalam praktik modern (Kufi), Basmalah adalah ayat pertama Al-Fatihah, memastikan total tujuh ayat terpenuhi tanpa perlu memecah ayat terakhir.

Kasus 2: Surah Al-Baqarah

Jumlah ayat Surah Al-Baqarah yang merupakan surah terpanjang juga menjadi sumber perbedaan utama, meskipun total ayatnya hampir sama (sekitar 285 atau 286).

Madzhab Kufi menetapkan Al-Baqarah memiliki 286 ayat, yang dimulai dengan Alif Lam Mim (الم) sebagai Ayat 1. Madzhab lain mungkin tidak menghitung Alif Lam Mim sebagai ayat, tetapi memecah ayat yang sangat panjang di akhir surah menjadi dua, sehingga totalnya tetap sama.

Kasus 3: Surat Qaf dan Surat Lain dengan Muqatta'ah

Dalam Surah Qaf, hitungan Kufi menganggap huruf Qaf (ق) sebagai Ayat 1, dan Wal Qur’anil Majid sebagai Ayat 2. Madzhab Syami (yang menghasilkan 6226 total ayat) menggabungkan keduanya menjadi satu ayat.

Karena terdapat 29 surah yang diawali dengan Huruf Muqatta'ah, perbedaan perlakuan terhadap ke-29 pembuka ini menyumbang secara signifikan terhadap perbedaan total, bahkan jika setiap madzhab hanya berbeda pada 1-2 surah saja.

Penting untuk ditekankan kembali: Perbedaan ini TIDAK PERNAH memengaruhi isi teks Al-Qur'an. Kata-kata, urutan, dan jumlah hurufnya tetap sama. Perbedaan hanya pada penandaan titik henti yang dipelajari dari transmisi lisan Nabi ﷺ.

VI. Membedah Implikasi Perbedaan Hitungan Ayat

Apakah perbedaan angka total ini memiliki implikasi teologis atau hukum yang besar? Jawabannya, secara umum, adalah tidak. Perbedaan dalam 'Addul Ayi lebih merupakan masalah teknis dalam ilmu Qira'at dan Tajwid (ilmu pembacaan) daripada masalah akidah (keyakinan) atau syariah (hukum).

Implikasi pada Hukum Fiqh (Mazhab Fiqh)

Dalam mazhab Syafi'i, misalnya, Basmalah dianggap sebagai ayat dari Surah Al-Fatihah dan wajib dibaca dalam salat. Pendapat ini sejalan dengan hitungan Kufi dan Makki. Namun, mazhab Maliki, yang mengikuti hitungan Madinah, tidak menganggap Basmalah sebagai ayat Al-Fatihah dan cenderung tidak membacanya dalam salat wajib secara keras.

Perbedaan fiqh ini muncul dari penentuan ayat, bukan perbedaan dalam ketaatan terhadap teks suci. Kedua mazhab mengakui keabsahan Basmalah, tetapi mereka berbeda dalam status hukumnya berdasarkan riwayat mana yang mereka ikuti mengenai batas ayat.

Implikasi pada Hafalan dan Tajwid

Implikasi yang paling nyata dirasakan oleh para penghafal Al-Qur'an (Huffaz) dan ahli Tajwid. Seorang penghafal harus mengikuti batas ayat sesuai dengan Mushaf yang mereka gunakan (misalnya, Mushaf Kufi/Madinah). Jika batas ayat berbeda, maka titik di mana mereka harus berhenti untuk bernapas, atau titik di mana mereka harus melanjutkan hafalan dalam ujian, juga akan berbeda.

Jika seseorang menghafal menggunakan Mushaf Madinah (Kufi/6236) dan kemudian membaca dalam konteks yang menggunakan hitungan Syami (6226), dia mungkin berhenti di tengah ayat, yang meskipun tidak membatalkan salat, dianggap kurang sempurna dalam kaidah Tajwid.

Konsensus pada Keseluruhan Teks

Poin yang paling penting adalah konsensus universal mengenai integritas Al-Qur'an. Semua ulama sepakat bahwa:

  1. Setiap huruf (harf) yang diwahyukan ada dalam Mushaf.
  2. Urutan surah dan ayat dalam setiap surah (tartib) adalah final, sebagaimana ditetapkan oleh Nabi ﷺ.
  3. Perbedaan hitungan hanya berkisar pada penandaan (ra'sul ayi) dan tidak pernah menyangkut pengurangan atau penambahan teks ilahi.

Para ulama seperti Ad-Dani telah menjelaskan bahwa perbedaan 'Addul Ayi adalah variasi yang diperbolehkan (Ikhtilaf Tanawwu') yang berfungsi untuk memperkaya cara baca dan pemahaman linguistik tanpa mengganggu keotentikan wahyu.

VII. Mendalami Struktur Ayat dan Jumlah Huruf

Untuk memberikan konteks yang lebih dalam tentang betapa besarnya teks Al-Qur'an, kita tidak hanya berbicara tentang jumlah ayat, tetapi juga jumlah kata dan hurufnya. Meskipun jumlah huruf juga memiliki sedikit variasi berdasarkan jenis tulisan dan riwayat bacaan, angkanya jauh lebih disepakati daripada jumlah ayat.

Jumlah Kata (Kalimah) dan Huruf (Harf)

Menurut riwayat klasik dari Ibnu Abbas dan riwayat Kufi yang dianut oleh ahli hitungan modern:

Jika Al-Qur'an memiliki lebih dari 320 ribu huruf, dan hanya 6236 ayat, ini menunjukkan bahwa rata-rata panjang sebuah ayat cukup substansial, bukan sekadar frasa pendek. Ini juga menjelaskan mengapa variasi dalam penentuan batas ayat menjadi isu, terutama pada ayat-ayat yang sangat panjang.

Hubungan Ayat dengan Juz dan Hizb

Struktur Al-Qur'an tidak hanya dibagi berdasarkan ayat dan surah, tetapi juga berdasarkan pembagian praktis untuk keperluan pembacaan mingguan dan harian:

Al-Qur'an dibagi menjadi 30 Juz (bagian), yang memungkinkan pembacaan keseluruhan dalam satu bulan. Setiap Juz selanjutnya dibagi menjadi 2 Hizb (kelompok), sehingga total terdapat 60 Hizb.

Pembagian Juz dan Hizb ini murni ijtihad ulama dan tidak bersifat tauqifi (tidak bersumber langsung dari Nabi). Oleh karena itu, batasan Juz dan Hizb kadang-kadang memotong ayat di tengah, karena tujuan pembagian ini adalah untuk memastikan pembagian halaman atau jumlah kata yang merata untuk rutinitas pembacaan, terlepas dari batas-batas ayat yang teologis.

Meskipun demikian, perhitungan ayat Kufi (6236) adalah dasar yang digunakan dalam semua Mushaf modern untuk menandai di mana setiap Juz dimulai dan berakhir, sehingga memastikan konsistensi struktural bagi umat Muslim di seluruh dunia.

VIII. Penelusuran Historis Lebih Jauh: Peran Tabi'in

Setelah era Sahabat, peran kodifikasi perhitungan ayat diemban oleh generasi Tabi'in. Mereka adalah para murid yang menyebarkan dan memformalkan riwayat dari Sahabat di berbagai kota metropolitan Islam.

Pusat Keilmuan dan Perintisnya

1. Madinah: Dua tokoh utama muncul di Madinah. Abu Ja'far Yazid bin Al-Qa'qa' mewarisi pengetahuan dari Sahabat seperti Abu Hurairah dan Ibnu Umar. Riwayat ini mengarah pada hitungan Madinah Awal (6217). Belakangan, Syaibah bin Nashah memimpin revisi yang mengarah ke Madinah Akhir (6214). Hitungan Madinah memiliki kecenderungan tidak memasukkan Basmalah dalam hitungannya.

2. Makkah: Abdullah bin Katsir, seorang Imam Qira'at, menjadi basis bagi perhitungan Makki (6210). Makkah juga menerima Basmalah sebagai Ayat 1 Al-Fatihah, tetapi perbedaan muncul pada cara mereka memecah beberapa ayat di akhir surah-surah panjang dibandingkan Kufah.

3. Kufah: Inilah pusat yang paling berpengaruh. Para ulama Kufah, terutama Imam Hamzah dan Imam Al-Kisa'i, didasarkan pada transmisi dari Ali bin Abi Thalib dan Abdullah bin Mas'ud. Penghitungan Kufi (6236) dikenal karena metodologinya yang rinci dalam memasukkan Huruf Muqatta'ah dan Basmalah Al-Fatihah secara konsisten, membuatnya memiliki total ayat tertinggi di antara semua madzhab besar.

4. Basrah: Hitungan Bashri (6204) adalah yang paling sedikit jumlahnya. Mereka sangat ketat dalam penentuan ra'sul ayi dan cenderung menggabungkan frasa-frasa yang oleh Kufah dipecah menjadi ayat terpisah. Ini mencerminkan kehati-hatian dalam menentukan mana yang benar-benar merupakan akhir ayat yang tauqifi dan mana yang hanya henti nafas Nabi ﷺ.

Pembakuan oleh Ilmuwan Klasik

Kodifikasi final dari semua riwayat ini dilakukan oleh ulama-ulama berikutnya, yang paling terkenal adalah Abu Amru Ad-Dani (w. 444 H). Karyanya menjadi referensi standar, memastikan bahwa meskipun ada tujuh variasi, semuanya tercatat dan dilestarikan. Ad-Dani menjelaskan bahwa meskipun terdapat perbedaan angka, variasi tersebut hanyalah sejumlah kecil ayat (tidak lebih dari 32 ayat yang diperdebatkan) yang batasnya bergeser.

Konsolidasi Madzhab Kufi sebagai standar global terjadi relatif belakangan, terutama karena keunggulan sanad riwayat Qira'at 'Ashim dari Kufah, yang merupakan standar bacaan utama di dunia Islam modern (melalui jalur Hafs 'an 'Ashim). Karena perhitungan ayat sering kali mengikuti riwayat Qira'at yang dominan, maka hitungan Kufi (6236) pun ikut menjadi dominan.

IX. Kesalahpahaman Mengenai Numerologi dan Angka 6666

Angka 6666 memiliki daya tarik numerologis yang kuat di kalangan awam dan beberapa kelompok yang tertarik pada mistisisme angka (Hisab Al-Jummal). Namun, dalam konteks akademik Islam, angka ini tidak memiliki dasar yang kuat dan harus dihindari sebagai jawaban yang sah terhadap jumlah ayat Al-Qur'an.

Asal-Usul Angka Mitos

Anggapan bahwa Al-Qur'an memiliki 6666 ayat muncul mungkin dari keinginan untuk memiliki angka yang mudah diingat atau karena teori bahwa setiap ayat harus dimulai dengan Basmalah (yang kemudian dikoreksi oleh pengecualian Surah At-Taubah).

Jika kita menerima hitungan Kufi 6236, dan secara keliru menambahkan 113 Basmalah (untuk 113 surah selain At-Taubah), totalnya menjadi 6349. Angka 6666 masih jauh dari angka ini. Selisih 317 ayat harus "ditemukan" dengan memecah ayat-ayat yang sudah disepakati, suatu praktik yang melanggar metodologi 'Addul Ayi yang bersumber dari Nabi ﷺ.

Konsistensi Ilmiah

Para ulama Qira'at telah berulang kali menegaskan bahwa hitungan ayat harus didasarkan pada transmisi (naql), bukan pada logika atau perhitungan matematis yang dibuat-buat (numerologi). Tugas mereka adalah mencatat, bukan menciptakan angka. Oleh karena itu, ketika mereka menemukan bahwa batas ayat bergeser, mereka mencatatnya dan mempertahankan variasi tersebut (misalnya, Kufi 6236 vs. Syami 6226).

Tidak ada madzhab penghitungan ayat klasik yang menghasilkan angka 6666. Angka ini murni folklore keagamaan dan tidak mewakili realitas tekstual Al-Qur'an yang dikodifikasi secara ketat.

X. Kesimpulan: Angka yang Paling Otoritatif

Setelah menelusuri sejarah, metodologi, dan variasi dalam ilmu 'Addul Ayi, kesimpulan mengenai berapa ayat dalam Al-Qur'an dapat dirangkum secara jelas:

1. Konsensus Total Ayat: Jumlah ayat Al-Qur'an disepakati oleh semua madzhab ulama berada dalam kisaran yang sangat sempit, yaitu antara 6204 (Basrah) hingga 6236 (Kufah) ayat. Semua variasi ini hanya mencakup perbedaan pada sekitar 32 tempat pemisahan ayat.

2. Standar Global Modern: Angka yang paling akurat, otoritatif, dan digunakan secara universal dalam Mushaf cetak modern, termasuk Mushaf Madinah dan Mushaf Indonesia, adalah perhitungan dari Sekolah Kufah: 6236 Ayat.

3. Keutuhan Wahyu: Penting untuk mengingat bahwa perbedaan hitungan ini tidak mengurangi sedikit pun dari keutuhan dan kesempurnaan wahyu ilahi. Al-Qur'an, dalam setiap kata dan hurufnya, tetap merupakan firman Allah yang terpelihara, dan perbedaan dalam penentuan batas ayat hanyalah refleksi dari kekayaan riwayat transmisi lisan Nabi Muhammad ﷺ.

Memahami ragam perhitungan ini mengajarkan kita tentang ketelitian luar biasa yang diterapkan oleh generasi awal Muslim dalam menjaga dan menyalin kitab suci, memastikan bahwa setiap detail—bahkan titik henti kecil—dicatat dan dilestarikan untuk umat di masa depan.

🏠 Homepage