Berapa Ayat Sajdah Dalam Al-Qur'an? Kajian Komprehensif Sujud Tilawah

Ilustrasi Sujud (Prostrasi) Visualisasi sederhana posisi sujud dalam shalat atau tilawah.

Ilustrasi Sujud Tilawah

Pertanyaan mengenai berapa ayat sajdah dalam Al-Qur'an merupakan topik fundamental yang sering muncul dalam studi ilmu Al-Qur'an dan fikih ibadah. Ayat-ayat Sajdah, atau dikenal sebagai ayat-ayat prostrasi, adalah bagian spesifik dari wahyu Ilahi yang, ketika dibaca atau didengar, dianjurkan bagi seorang Muslim untuk melakukan sujud (prostrasi) tunggal, yang disebut Sujud Tilawah.

Pemahaman mengenai jumlah pasti ayat-ayat ini tidak hanya penting untuk memenuhi tuntutan syariat, tetapi juga untuk memahami kedalaman makna dan pentingnya ketundukan total kepada Allah SWT yang terkandung dalam firman-Nya. Perbedaan pendapat minor yang mungkin timbul mengenai satu atau dua ayat tidak mengurangi konsensus mayoritas ulama yang menetapkan sebuah angka baku yang akan kita bahas tuntas di sini.

Secara umum, mayoritas ulama dari berbagai mazhab fikih—Hanafi, Maliki, Syafi'i, dan Hanbali—telah menyepakati bahwa jumlah total ayat sajdah dalam Al-Qur'an adalah lima belas (15) ayat. Jumlah ini didukung oleh riwayat-riwayat yang kuat dari para Sahabat Nabi Muhammad SAW, termasuk riwayat dari Imam Ali, Ibnu Abbas, dan Abu Darda'.

Daftar Lengkap 15 Ayat Sajdah Dalam Al-Qur'an

Berikut adalah rincian lengkap 15 ayat yang disepakati sebagai ayat-ayat prostrasi (Sujud Tilawah), diurutkan berdasarkan urutan mushaf Utsmani. Setiap ayat ini mengandung perintah, pujian, atau deskripsi tentang makhluk Allah yang tunduk dan bersujud kepada-Nya, sehingga memicu pembaca atau pendengar untuk meniru ketundukan tersebut.

  1. Surah Al-A'raf (7): Ayat 206
  2. Surah Ar-Ra'd (13): Ayat 15
  3. Surah An-Nahl (16): Ayat 49
  4. Surah Al-Isra' (17): Ayat 107–109 (Sajdah pada ayat 109)
  5. Surah Maryam (19): Ayat 58
  6. Surah Al-Hajj (22): Ayat 18
  7. Surah Al-Hajj (22): Ayat 77 (Ayat ke-15 yang sering diperdebatkan, namun diakui kuat)
  8. Surah Al-Furqan (25): Ayat 60
  9. Surah An-Naml (27): Ayat 26
  10. Surah As-Sajdah (32): Ayat 15
  11. Surah Fussilat (41): Ayat 37
  12. Surah An-Najm (53): Ayat 62
  13. Surah Al-Insyiqaq (84): Ayat 21
  14. Surah Al-'Alaq (96): Ayat 19
  15. Surah Shaad (38): Ayat 24 (Ini adalah Sajdah Syukur, namun termasuk dalam daftar Tilawah menurut Mazhab Hanafi dan Hanbali)

Penting untuk dicatat bahwa dalam Mazhab Syafi'i dan Maliki, sajdah pada Surah Shaad (38:24) sering diklasifikasikan sebagai Sajdah Syukur (sujud terima kasih) atau Sajdah Tilawah yang tidak diwajibkan, sehingga jumlah ayat sajdah yang ‘muakkad’ (sangat dianjurkan) dalam pandangan mereka sering disebut 14. Namun, ketika membahas total ayat yang mengandung perintah sujud, angka 15 adalah jawaban yang paling komprehensif.

Analisis Mendalam 15 Posisi Sajdah dan Konteks Wahyu

Untuk memahami mengapa ayat-ayat ini secara khusus menuntut prostrasi, kita harus menelaah konteks tematiknya. Semua ayat sajdah memiliki benang merah, yaitu menggambarkan keagungan Allah dan ketundukan seluruh alam semesta, baik yang berakal maupun yang tidak berakal, di hadapan Pencipta.

1. Surah Al-A'raf, Ayat 206: Ketundukan Malaikat

إِنَّ الَّذِينَ عِندَ رَبِّكَ لَا يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِهِ وَيُسَبِّحُونَهُ وَلَهُ يَسْجُدُونَ ۩

Ayat ini menutup Surah Al-A'raf, dan merupakan sajdah pertama dalam Al-Qur'an. Ia berbicara tentang malaikat yang berada di sisi Tuhan. Mereka tidak pernah sombong (istakbara) untuk beribadah, senantiasa bertasbih, dan kepada-Nya mereka bersujud. Ketika kita membaca ayat ini, kita diajak untuk bergabung dengan barisan makhluk suci yang taat tanpa cela, menolak kesombongan Iblis yang merupakan tema utama surah ini.

Konteksnya adalah kontras sempurna antara kesombongan Iblis yang menolak sujud kepada Adam, dan ketaatan abadi para malaikat. Sujud di sini berfungsi sebagai penolakan terhadap sifat Iblis dan penegasan total akan ketundukan kita kepada perintah Ilahi.

2. Surah Ar-Ra'd, Ayat 15: Kepatuhan Bayangan dan Segala Sesuatu

وَلِلَّهِ يَسْجُدُ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ طَوْعًا وَكَرْهًا وَظِلَالُهُم بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ ۩

Ayat ini adalah salah satu yang paling kuat dalam menggambarkan sujud kosmik. Segala sesuatu yang ada di langit dan di bumi bersujud kepada Allah, baik secara sukarela (manusia beriman) maupun terpaksa (makhluk lain atau orang kafir yang tunduk pada hukum alam). Bahkan bayangan (zillaluhum) mereka bersujud di pagi dan petang, bergerak seiring peredaran matahari.

Sujud kita di sini adalah realisasi sadar dari kondisi kosmik yang tak terhindarkan. Jika bayangan kita saja tunduk pada hukum fisik Allah, betapa seharusnya kita, sebagai makhluk yang berakal, melakukan ketundukan spiritual.

3. Surah An-Nahl, Ayat 49: Kepatuhan Seluruh Makhluk Hidup

وَلِلَّهِ يَسْجُدُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ مِن دَابَّةٍ وَالْمَلَائِكَةُ وَهُمْ لَا يَسْتَكْبِرُونَ ۩

Ayat ini menegaskan kembali sujud universal. Bukan hanya malaikat, tetapi "setiap makhluk melata (dābbah)" di bumi dan semua makhluk di langit bersujud kepada Allah. Ini mencakup setiap hewan, serangga, dan makhluk hidup lainnya. Keunikan ayat ini adalah penekanan pada 'dābbah', menunjukkan bahwa setiap gerakan, setiap napas, adalah bentuk sujud yang terstruktur dalam Penciptaan.

Tindakan sujud kita di sini memperkuat posisi kita sebagai bagian integral dari sistem ketaatan kosmik yang sempurna, mengingatkan kita bahwa kita bukanlah entitas yang berdiri sendiri, melainkan bagian dari sebuah orkestra ketundukan agung.

4. Surah Al-Isra', Ayat 109: Peningkatan Kekhusyukan

وَيَخِرُّونَ لِلْأَذْقَانِ يَسْجُدُونَ وَيَزِيدُهُمْ خُشُوعًا ۩

Ayat ini muncul setelah deskripsi tentang keagungan Al-Qur'an dan respons orang-orang yang diberikan ilmu (Ahli Kitab yang beriman) ketika mendengarnya dibacakan. Mereka tersungkur atas dagu mereka, bersujud, dan sujud itu menambah kekhusyukan (khushū'an) mereka.

Sujud di sini adalah respons emosional dan spiritual yang mendalam terhadap kebenaran wahyu. Ini adalah sujud yang dihasilkan oleh peningkatan iman dan pemahaman, bukan sekadar kewajiban ritual. Ini mengajarkan bahwa Sujud Tilawah harus meningkatkan kualitas hati kita, bukan hanya gerakan fisik.

5. Surah Maryam, Ayat 58: Ketaatan Para Nabi dan Kekuatan Ayatullah

إِذَا تُتْلَىٰ عَلَيْهِمْ آيَاتُ الرَّحْمَٰنِ خَرُّوا سُجَّدًا وَبُكِيًّا ۩

Ayat ini menyebutkan nama-nama besar para nabi seperti Adam, Nuh, Ibrahim, Musa, dan Isa. Ketika ayat-ayat Ar-Rahman (Yang Maha Pengasih) dibacakan kepada mereka, mereka tersungkur bersujud sambil menangis (bukiyyan). Ini menunjukkan betapa kuatnya pengaruh wahyu terhadap hati para utusan Allah.

Sujud ini adalah warisan dari tradisi ketundukan para nabi. Tangisan (bukiyyan) menunjukkan kerendahan hati yang ekstrem, pengakuan atas kelemahan diri di hadapan keagungan Sang Pencipta. Sujud Tilawah kita meniru respons spiritual dari generasi terbaik umat manusia.

6. Surah Al-Hajj, Ayat 18: Sujud Totalitas Alam Semesta (Sajdah Pertama Al-Hajj)

أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يَسْجُدُ لَهُ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَمَن فِي الْأَرْضِ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ وَالنُّجُومُ وَالْجِبَالُ وَالشَّجَرُ وَالدَّوَابُّ وَكَثِيرٌ مِّنَ النَّاسِ ۖ وَكَثِيرٌ حَقَّ عَلَيْهِ الْعَذَابُ ۗ وَمَن يُهِنِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِن مُّكْرِمٍ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَفْعَلُ مَا يَشَاءُ ۩

Ayat ini adalah salah satu ayat sajdah paling eksplisit dan detail. Ia menyebutkan secara spesifik: matahari (ash-shams), bulan (al-qamar), bintang-bintang (an-nujūm), gunung-gunung (al-jibāl), pepohonan (ash-shajar), hewan-hewan melata (ad-dawāb), dan sebagian besar manusia. Ini adalah deskripsi Sajdah Akbar, sujud seluruh ciptaan.

Ayat ini juga memuat peringatan keras: sebagian besar manusia bersujud, tetapi sebagian lainnya (kafir) berhak mendapatkan siksa. Sujud yang kita lakukan di sini adalah deklarasi bahwa kita memilih berada di kelompok yang tunduk, bukan kelompok yang sombong dan menolak. Ayat ini sangat penting karena mencantumkan hampir semua entitas fisik yang kita kenal.

7. Surah Al-Hajj, Ayat 77: Sajdah Kedua dan Poin Perdebatan (Sajdah Kedua Al-Hajj)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ارْكَعُوا وَاسْجُدُوا وَاعْبُدُوا رَبَّكُمْ وَافْعَلُوا الْخَيْرَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ ۩

Ayat ke-77 dari Surah Al-Hajj adalah ayat ke-15 yang sering kali menjadi pembeda jumlah. Sebagian besar ulama Syafi'i menganggap hanya ada 14 ayat sajdah yang disepakati, tetapi Mazhab Hanafi, dan mayoritas Hanbali, serta pendapat yang kuat dalam Maliki, mengakui bahwa ini adalah sajdah ke-15. Alasannya, ayat ini secara eksplisit memerintahkan ruku' (membungkuk) dan sujud (prostrasi).

Keunikan surah Al-Hajj adalah bahwa ia satu-satunya surah dalam Al-Qur'an yang memiliki dua ayat sajdah. Ayat 18 berbicara tentang sujud kosmik, sementara ayat 77 adalah perintah langsung kepada orang-orang beriman untuk rukuk, sujud, dan beribadah, sebagai kunci keberhasilan (tufliḥūn).

Pengakuan terhadap sajdah ini menegaskan bahwa perintah sujud, meskipun diletakkan di akhir surah sebagai perintah umum ibadah, tetap memiliki kekuatan spesifik yang menuntut reaksi ritual ketika dibacakan dalam konteks tilawah.

8. Surah Al-Furqan, Ayat 60: Penolakan Musyrikin dan Tuntutan Iman

وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اسْجُدُوا لِلرَّحْمَٰنِ قَالُوا وَمَا الرَّحْمَٰنُ أَنَسْجُدُ لِمَا تَأْمُرُنَا وَزَادَهُمْ نُفُورًا ۩

Ayat ini menceritakan tentang reaksi orang-orang musyrik ketika diperintahkan untuk bersujud kepada Ar-Rahman (Yang Maha Pengasih). Mereka menjawab dengan sombong, "Apa itu Ar-Rahman? Apakah kami harus bersujud kepada apa yang kamu perintahkan?" dan hal itu hanya menambah kebencian mereka terhadap kebenaran.

Sujud kita di sini adalah respons langsung yang kontras dengan penolakan kaum musyrikin. Ketika mereka menolak, kita segera bersujud. Ini adalah pembeda yang jelas antara ketundukan orang beriman dan kesombongan orang kafir. Sujud kita adalah bukti iman dan pengakuan kita terhadap semua nama dan sifat Allah, termasuk Ar-Rahman.

9. Surah An-Naml, Ayat 26: Sujud yang Layak untuk Allah

اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ يَسْجُدُونَ ۩

Ayat ini muncul dalam kisah Nabi Sulaiman dan Ratu Balqis, khususnya dalam konteks Burung Hud-Hud yang melaporkan adanya kaum yang menyembah matahari. Hud-Hud menyatakan bahwa hanya Allah, Tuhan 'Arsy (Singgasana) yang Agung, yang layak disembah dan disujudi.

Sujud di sini menggarisbawahi keesaan Allah (Tauhid) dan keagungan-Nya sebagai Rabbul 'Arsy. Sujud kita berfungsi sebagai pemurnian niat dan penolakan terhadap segala bentuk syirik (penyekutuan), termasuk penyembahan benda langit seperti yang dilakukan kaum Balqis.

10. Surah As-Sajdah, Ayat 15: Ciri Khas Orang Beriman Sejati

إِنَّمَا يُؤْمِنُ بِآيَاتِنَا الَّذِينَ إِذَا ذُكِّرُوا بِهَا خَرُّوا سُجَّدًا وَسَبَّحُوا بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَهُمْ لَا يَسْتَكْبِرُونَ ۩

Surah ini dinamai As-Sajdah (Sujud), dan ayat ini mendefinisikan siapa sebenarnya orang-orang yang beriman pada ayat-ayat Allah. Mereka adalah orang-orang yang, ketika diingatkan dengan ayat-ayat Allah, segera tersungkur bersujud, bertasbih memuji Tuhan mereka, dan tidak menyombongkan diri.

Ayat ini adalah inti dari filosofi Sujud Tilawah. Sujud adalah tanda keimanan yang sejati, merupakan tindakan spontan yang lahir dari kesadaran spiritual, dan merupakan antitesis dari kesombongan. Ini adalah pengakuan bahwa iman harus diiringi dengan tindakan fisik kerendahan hati.

11. Surah Fussilat, Ayat 37: Peringatan Melawan Penyembahan Ciptaan

وَمِنْ آيَاتِهِ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ ۚ لَا تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ وَاسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَهُنَّ إِن كُنتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ ۩

Ayat ini secara eksplisit melarang penyembahan matahari dan bulan (praktik politeistik yang lazim) dan memerintahkan sujud hanya kepada Allah yang menciptakan keduanya. Ini adalah salah satu ayat sajdah yang perintahnya paling tegas.

Tindakan sujud kita di sini adalah penegasan murni Tauhid Uluhiyyah (pengesaan Allah dalam peribadatan). Kita bersujud bukan kepada keindahan ciptaan, tetapi kepada keagungan Penciptanya, mengukuhkan janji kita untuk hanya beribadah kepada-Nya.

12. Surah An-Najm, Ayat 62: Panggilan untuk Beribadah dan Merendahkan Diri

فَاسْجُدُوا لِلَّهِ وَاعْبُدُوا ۩

Ayat ini merupakan kesimpulan dramatis dari Surah An-Najm yang dimulai dengan sumpah Allah pada bintang ketika menjelaskan kebenaran wahyu yang diterima Nabi Muhammad SAW. Setelah menjelaskan kebenaran keras tentang hari kiamat dan nasib orang yang menolak, surah ditutup dengan perintah yang singkat namun padat: "Maka bersujudlah kepada Allah dan sembahlah (Dia)."

Kesederhanaan perintah ini menekankan urgensi tindakan. Setelah semua bukti disajikan, tidak ada alasan lagi untuk menunda ketundukan total. Sujud di sini adalah respons akhir terhadap serangkaian peringatan dan janji Ilahi.

13. Surah Al-Insyiqaq, Ayat 21: Kerendahan Hati di Akhir Zaman

وَإِذَا قُرِئَ عَلَيْهِمُ الْقُرْآنُ لَا يَسْجُدُونَ ۩

Ayat ini datang di tengah deskripsi mengerikan tentang Hari Kiamat. Surah Al-Insyiqaq (Terbelah) membahas bagaimana orang-orang kafir dan munafik masih tidak mau bersujud meskipun mereka telah melihat tanda-tanda kebesaran Allah. Kalimat tersebut berbunyi: "Dan apabila Al-Qur'an dibacakan kepada mereka, mereka tidak mau bersujud."

Sujud kita di sini adalah tindakan pencegahan spiritual, kita membuktikan bahwa kita tidak termasuk dalam kelompok yang dikritik oleh ayat ini. Kita bersujud sekarang, sebelum terlambat, sebelum kita menyaksikan kengerian yang membuat orang kafir menyesal tidak pernah sujud.

14. Surah Al-'Alaq, Ayat 19: Penolakan Keras Terhadap Sifat Zalim

كَلَّا لَا تُطِعْهُ وَاسْجُدْ وَاقْتَرِب ۩

Ini adalah ayat sajdah terakhir dalam urutan mushaf, muncul dalam Surah Al-'Alaq, yang merupakan wahyu pertama yang diturunkan. Ayat ini secara spesifik memerintahkan Nabi Muhammad SAW untuk tidak menaati orang yang melarang beliau shalat (diriwayatkan sebagai Abu Jahal). Sebaliknya, perintahnya adalah: "Janganlah kamu ikuti dia; dan bersujudlah dan dekatkanlah (dirimu kepada Tuhan)."

Sujud di sini memiliki makna strategis: sujud adalah alat perlawanan spiritual terhadap kezaliman. Setiap kali kita sujud, kita menolak otoritas manusia yang zalim dan menegaskan bahwa hanya Allah yang memiliki kekuasaan tertinggi. Frasa "waqtarib" (mendekatlah) menunjukkan bahwa sujud adalah puncak kedekatan hamba dengan Tuhannya.

15. Surah Shaad, Ayat 24: Sajdah Tobat dan Syukur

فَاسْتَغْفَرَ رَبَّهُ وَخَرَّ رَاكِعًا وَأَنَابَ ۩

Ayat ini berada dalam kisah Nabi Daud AS yang melakukan kesalahan penghakiman. Ketika menyadari kesalahannya, Daud segera memohon ampunan Tuhannya, tersungkur rukuk (dalam konteks ini ditafsirkan sebagai sujud atau posisi yang mengarah pada sujud), dan bertaubat. Ayat ini disebut Sajdah Syukur atau Sajdah Tobat.

Meskipun Mazhab Syafi'i tidak mewajibkannya sebagai Sujud Tilawah ritual, Mazhab Hanafi dan Hanbali memasukkannya dalam daftar 15 sajdah wajib. Mereka berargumen bahwa tindakan para nabi adalah contoh utama bagi umatnya. Sujud ini mengajarkan bahwa respons terhadap dosa dan kesalahan seharusnya adalah kerendahan hati dan pertobatan yang mendalam.

Hukum Fikih Mengenai Sujud Tilawah: Tinjauan Mazhab

Meskipun jumlah ayat sajdah sudah disepakati secara luas (dengan sedikit perbedaan pada Shaad dan Al-Hajj 77), hukum pelaksanaan Sujud Tilawah ketika ayat tersebut dibaca atau didengar bervariasi antara empat mazhab utama fikih Islam. Perbedaan ini bergantung pada interpretasi mereka terhadap perintah dalam hadits Nabi SAW.

Mazhab Hanafi: Kewajiban (Wajib)

Mazhab Hanafi memandang Sujud Tilawah sebagai wajib (wājib), meskipun level kewajibannya sedikit di bawah fardhu (rukun). Bagi mereka, jika seseorang membaca atau mendengar ayat sajdah, ia wajib segera bersujud. Kegagalan melakukannya dianggap berdosa, meskipun dosa tersebut bisa ditutupi dengan sujud qada (pengganti) di lain waktu.

Pandangan Hanafi didasarkan pada Hadits yang menunjukkan kontinuitas praktik sujud oleh Nabi SAW dan para sahabat, serta penafsiran tegas terhadap perintah sujud dalam ayat-ayat itu sendiri.

Mazhab Syafi'i: Sunnah Muakkadah (Sangat Dianjurkan)

Mazhab Syafi'i berpendapat bahwa Sujud Tilawah adalah Sunnah Muakkadah, yaitu sangat dianjurkan dan rugi jika ditinggalkan, tetapi tidak wajib. Jika seseorang meninggalkannya, ia tidak berdosa. Ini adalah pandangan yang paling umum diamalkan di Asia Tenggara.

Dasar hukum Syafi'i adalah Hadits dari Umar bin Khattab RA yang pernah membaca ayat sajdah dari atas mimbar pada hari Jumat, lalu turun dan bersujud, namun pada Jumat berikutnya beliau membaca ayat yang sama dan berkata: "Wahai manusia, kita tidak diwajibkan sujud. Barangsiapa sujud, ia mendapat pahala, dan barangsiapa tidak sujud, ia tidak berdosa." Hal ini menunjukkan sifat anjuran, bukan kewajiban mutlak.

Mazhab Maliki: Sunnah Muakkadah (Sangat Dianjurkan)

Mirip dengan Syafi'i, Mazhab Maliki juga menggolongkannya sebagai Sunnah Muakkadah. Namun, mereka memiliki persyaratan yang sedikit berbeda dan batasan pada waktu pelaksanaan.

Mazhab Hanbali: Sunnah (Dianjurkan)

Mazhab Hanbali menganggap Sujud Tilawah sebagai Sunnah (dianjurkan). Mereka cenderung menyetujui jumlah 15 ayat sajdah, termasuk Surah Shaad, karena mereka melihat sujud itu sebagai bentuk ketaatan yang diteladani dari Nabi Daud AS.

Kesimpulannya, meskipun terdapat perbedaan nuansa hukum (wajib vs. sunnah muakkadah), semua mazhab menyepakati bahwa melakukan Sujud Tilawah adalah tindakan yang sangat terpuji dan mendapatkan pahala besar, dan hampir semua mengakui 15 posisi di mana sujud tersebut relevan, terutama jika kita memasukkan konteks sajdah syukur dan taubat.

Tata Cara Pelaksanaan Sujud Tilawah

Pelaksanaan Sujud Tilawah dapat terjadi dalam dua kondisi utama: di dalam shalat (ketika menjadi imam, makmum, atau shalat sendiri) dan di luar shalat (ketika membaca Al-Qur'an secara mandiri).

1. Sujud Tilawah di Luar Shalat

Jika seseorang sedang membaca Al-Qur'an dan sampai pada salah satu dari 15 ayat sajdah, tata caranya adalah sebagai berikut (berdasarkan pandangan yang paling umum):

  1. Syarat Kesucian: Lakukan wudu dan pastikan aurat tertutup, serta menghadap kiblat (syarat ini dipegang oleh mayoritas ulama, meskipun ada pendapat lain yang membolehkan tanpa wudu karena sujud tilawah dianggap bukan shalat).
  2. Niat: Niatkan dalam hati untuk melakukan Sujud Tilawah.
  3. Takbir (Masuk): Mengucapkan takbir ("Allahu Akbar") tanpa mengangkat tangan (menurut Syafi'i) atau mengangkat tangan (menurut Hanbali).
  4. Sujud: Segera turun ke posisi sujud.
  5. Bacaan Sujud: Membaca doa sujud yang sama seperti dalam shalat, seperti:
    سُبْحَانَ رَبِّيَ الْأَعْلَى
    (Subhānahā Rabbīyal A'lā), atau doa khusus:
    سَجَدَ وَجْهِيَ لِلَّذِي خَلَقَهُ وَصَوَّرَهُ وَشَقَّ سَمْعَهُ وَبَصَرَهُ بِحَوْلِهِ وَقُوَّتِهِ
    (Sajada wajhīya lilladhī khalaqahu wa shawwarahu wa shaqqa sam‘ahu wa baṣarahu bi-ḥawlihi wa quwwatih - Wajahku bersujud kepada Yang menciptakannya, membentuknya, dan membelah pendengaran serta penglihatannya dengan daya dan kekuatan-Nya).
  6. Bangkit: Mengangkat kepala dari sujud.
  7. Salam atau Takbir (Keluar): Ada perbedaan pendapat. Mazhab Syafi'i menganjurkan takbir dan salam setelah bangkit. Mazhab Hanafi hanya menganjurkan takbir tanpa salam.

Sujud ini adalah sujud tunggal. Tidak ada tasyahhud setelahnya, dan dilakukan tanpa duduk istirahat.

2. Sujud Tilawah di Dalam Shalat

Jika ayat sajdah dibaca saat seseorang sedang shalat, tata caranya lebih ringkas:

  1. Sujud Langsung: Setelah menyelesaikan ayat sajdah, imam atau orang yang shalat sendiri langsung turun untuk sujud. Tidak perlu ada rukuk.
  2. Tanpa Takbiratul Ihram: Karena sudah berada dalam shalat, tidak perlu takbiratul ihram lagi.
  3. Prosedur: Ucapkan takbir intiqal (takbir perpindahan) sambil turun, sujud satu kali dengan bacaan khusus, dan mengucapkan takbir lagi sambil bangkit.
  4. Lanjutan Bacaan: Setelah bangkit dari sujud, ia kembali berdiri dan melanjutkan bacaan Al-Qur'an atau langsung rukuk jika itu adalah akhir dari qiyam (berdiri) sebelum rukuk.

Jika seorang makmum mendengar imam membaca ayat sajdah, ia wajib mengikuti imam. Jika imam tidak bersujud, makmum tidak boleh bersujud sendirian (kecuali dalam Mazhab tertentu yang membolehkan, tetapi disarankan mengikuti imam untuk menjaga kesatuan shalat).

Jika ayat sajdah dibaca dalam shalat yang sifatnya rahasia (sirri), seperti shalat Zuhur dan Ashar, umumnya imam tidak dianjurkan bersujud, untuk menghindari kebingungan makmum.

Hikmah dan Filosofi Ayat Sajdah

Mengapa Allah SWT menyisipkan perintah sujud di tengah-tengah tilawah Al-Qur'an? Hikmahnya sangat mendalam, melampaui sekadar kepatuhan ritual. Sujud Tilawah adalah terapi spiritual yang kuat.

1. Penghapusan Kesombongan (Istikbar)

Mayoritas ayat sajdah (seperti Al-A'raf 206, As-Sajdah 15) menekankan kontras antara ketaatan sempurna para malaikat/alam semesta, dengan kesombongan Iblis atau orang-orang kafir. Posisi sujud—di mana bagian tubuh tertinggi (dahi/kepala) diletakkan serendah mungkin di tanah—adalah manifestasi fisik dari kerendahan hati mutlak (tawāḍu'). Setiap sujud adalah penolakan terhadap bibit kesombongan dalam hati manusia.

2. Kesatuan Kosmik (Sujud Universal)

Ayat-ayat seperti Ar-Ra'd 15 dan Al-Hajj 18 menggambarkan bahwa seluruh ciptaan, dari matahari hingga bayangan, tunduk kepada Allah. Ketika kita bersujud, kita menyelaraskan diri dengan irama ketaatan kosmik. Kita menempatkan diri kita, sebagai makhluk yang berakal dan memiliki kebebasan memilih, dalam barisan makhluk yang taat secara fisik dan spiritual. Ini adalah pengakuan bahwa kemauan bebas kita memilih ketaatan yang telah dilakukan oleh seluruh jagad raya tanpa pilihan.

3. Peningkatan Kekhusyukan (Ziyādah Khushū')

Sebagaimana disebutkan dalam Surah Al-Isra' 109, sujud tilawah bertujuan untuk menambah kekhusyukan. Ketika makna ayat tentang keagungan Allah menembus hati, respons yang paling alami bukanlah pemikiran abstrak, melainkan tindakan fisik yang membumi. Sujud membantu mengubah pengetahuan kognitif (tahu) menjadi pengalaman emosional (merasa) dan tindakan fisik (melakukan).

4. Kedekatan dengan Allah (Iqtarib)

Perintah dalam Al-'Alaq 19, "wasjud waqtarib" (bersujudlah dan dekatkanlah dirimu), menunjukkan bahwa sujud adalah jalan tercepat menuju kedekatan spiritual. Dalam hadits sahih, Nabi SAW bersabda: "Keadaan yang paling dekat seorang hamba dengan Tuhannya adalah ketika ia sedang sujud. Maka perbanyaklah doa di dalamnya." Sujud tilawah, yang merupakan sujud spontan terhadap wahyu, menjadi momen intensif untuk meraih kedekatan tersebut.

Mengatasi Keraguan Mengenai Jumlah Ayat Sajdah

Perbedaan jumlah yang muncul (14 vs 15) adalah masalah ijtihad yang dihormati dan dapat dijelaskan dengan mudah. Perbedaan ini terutama berpusat pada dua ayat:

A. Surah Shaad (38:24)

Ayat ini adalah kasus yang paling jelas mengenai Sajdah Syukur (sujud terima kasih) atau Sajdah Tobat. Imam Syafi'i tidak menghitungnya sebagai sujud tilawah wajib karena konteksnya adalah kisah pertobatan Nabi Daud, bukan perintah sujud umum bagi pendengar wahyu. Namun, ulama yang menghitungnya (Hanafi, Hanbali) berpegangan pada hadits yang mengatakan bahwa Nabi Muhammad SAW sendiri bersujud saat membaca ayat tersebut, dan menganggap bahwa sujud Daud adalah contoh yang harus diteladani umatnya ketika mendengarkan kisah tersebut.

B. Surah Al-Hajj (22:77)

Perdebatan di sini adalah apakah perintah umum untuk rukuk dan sujud di akhir surah merupakan sajdah tilawah spesifik. Mayoritas ulama menyimpulkan bahwa ia termasuk sajdah. Dengan memasukkan ayat 77 dari Al-Hajj, kita mendapatkan 15 ayat sajdah, yang merupakan jumlah paling aman dan komprehensif untuk diikuti, terutama bagi mereka yang ingin memastikan mereka memenuhi semua posisi sujud yang mungkin.

Oleh karena itu, jawaban yang paling akurat dan mencakup pandangan mayoritas ulama dan riwayat yang ada, adalah lima belas (15) ayat sajdah, meskipun dalam praktik sehari-hari mazhab tertentu mungkin hanya mewajibkan 14 atau bahkan 11.

Konsekuensi dan Keutamaan Sujud Tilawah

Sujud Tilawah memiliki keutamaan yang luar biasa, menjadikannya praktik yang sangat dianjurkan, terlepas dari hukum fikihnya (wajib atau sunnah muakkadah).

1. Mendapat Rumah di Surga

Nabi Muhammad SAW bersabda: "Jika anak Adam membaca ayat sajdah, lalu ia bersujud, maka setan menyingkir sambil menangis. Ia berkata, 'Celakalah aku. Anak Adam diperintahkan bersujud, lalu ia sujud, maka baginya surga. Sedangkan aku diperintahkan bersujud, lalu aku menolak, maka bagiku neraka.'" (HR Muslim). Keutamaan ini menunjukkan bahwa setiap sujud tilawah adalah kemenangan kecil atas bisikan setan dan investasi langsung menuju Surga.

2. Meneladani Ketaatan Para Nabi

Saat kita bersujud pada ayat seperti Surah Maryam 58, kita secara langsung meneladani tindakan para nabi agung yang tersungkur menangis saat mendengarkan ayat-ayat Allah. Ini adalah tindakan penyelarasan spiritual dengan generasi terbaik umat manusia.

3. Penghinaan terhadap Setan

Sujud adalah tindakan yang paling dibenci Iblis. Ketika Iblis menolak bersujud kepada Adam karena kesombongan, ia dikutuk. Oleh karena itu, setiap kali seorang Muslim bersujud karena ketaatan, ia secara simbolis menginjak-injak kesombongan Iblis dan menegaskan kembali posisinya sebagai hamba yang tunduk.

Pengulangan Mendalam: Mengapa 15 Ayat Ini Begitu Penting?

Pentingnya 15 ayat sajdah ini tidak hanya terletak pada kuantitasnya, tetapi pada penempatan strategisnya dalam Al-Qur'an. Ayat-ayat ini tersebar secara merata di surah-surah yang berbeda, mulai dari Al-A'raf di awal juz 9 hingga Al-'Alaq di juz 30.

Penyebaran ini memastikan bahwa tidak peduli di mana seorang Muslim membuka Al-Qur'an dan mulai membaca, ia akan secara berkala diingatkan tentang tuntutan mendasar dari agama: totalitas ketundukan. Ini berfungsi sebagai pemeriksaan spiritual internal yang berkelanjutan. Setiap kali kita bertemu dengan tanda sajdah (۩), kita dihentikan dari bacaan biasa untuk melakukan refleksi fisik dan spiritual yang mendalam.

Jika kita membandingkan ayat sajdah dengan ayat-ayat perintah lain, kita melihat bahwa sujud adalah puncak dari aksi pengakuan. Ayat-ayat tentang puasa menuntut menahan diri, ayat-ayat tentang zakat menuntut pengorbanan harta. Namun, ayat sajdah menuntut pengorbanan yang paling mendasar: ego dan kesombongan diri. Sujud adalah manifestasi termurni dari kerendahan hati.

Mari kita ulas lagi konteks Sajdah Kedua Al-Hajj (22:77). Ayat ini merupakan penutup yang kuat, memerintahkan:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ارْكَعُوا وَاسْجُدُوا وَاعْبُدُوا رَبَّكُمْ وَافْعَلُوا الْخَيْرَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Perintah 'rukuk' (membungkuk) dan 'sujud' (tersungkur) diletakkan berdampingan dengan perintah 'ibadah' (menyembah) dan 'berbuat kebaikan'. Ini menyiratkan bahwa ibadah formal kita—yang diwakili oleh rukuk dan sujud—harus selalu diterjemahkan menjadi tindakan praktis berupa 'berbuat kebaikan' (al-khayr) agar kita mencapai keberhasilan sejati (al-falah). Sujud Tilawah pada ayat ini adalah pengingat bahwa ibadah ritual harus memberi dampak positif pada moralitas dan perilaku sosial kita.

Demikian pula, Sajdah dalam Surah An-Nahl (16:49) mengingatkan kita bahwa bahkan makhluk hidup yang paling sederhana pun bersujud. Ketika manusia enggan sujud, ia jatuh ke tingkat yang lebih rendah daripada makhluk-makhluk yang tidak berakal. Sujud Tilawah adalah sarana untuk mengangkat harkat manusia kembali ke posisi mulianya, yaitu sebagai khalifah yang sadar dan taat.

Kesimpulan Akhir Mengenai Angka Mutlak

Bagi pembaca Al-Qur'an yang mencari jawaban pasti mengenai berapa ayat sajdah dalam Al-Qur'an, sangat disarankan untuk berpegang pada jumlah 15. Mengikuti angka 15 memastikan bahwa seseorang telah mencakup pandangan mayoritas ulama dan telah menyertakan semua posisi sujud yang disebutkan dalam riwayat-riwayat kuat, termasuk yang bersifat taubat dan syukur.

Praktik yang paling utama adalah, kapan pun Anda membaca atau mendengar ayat-ayat berikut, persiapkan diri Anda untuk melakukan Sujud Tilawah, untuk meraih keutamaan dan menghindari kerugian spiritual:

  1. Al-A'raf (7:206)
  2. Ar-Ra'd (13:15)
  3. An-Nahl (16:49)
  4. Al-Isra' (17:109)
  5. Maryam (19:58)
  6. Al-Hajj (22:18)
  7. Al-Hajj (22:77)
  8. Al-Furqan (25:60)
  9. An-Naml (27:26)
  10. As-Sajdah (32:15)
  11. Shaad (38:24)
  12. Fussilat (41:37)
  13. An-Najm (53:62)
  14. Al-Insyiqaq (84:21)
  15. Al-'Alaq (96:19)

Pemahaman mendalam tentang setiap ayat ini memperkuat kesadaran akan keagungan Allah SWT, mendorong kita untuk senantiasa rendah hati, dan menyadari bahwa ibadah (khususnya sujud) adalah jembatan terdekat menuju keridaan dan kasih sayang Ilahi. Sujud Tilawah bukanlah sekadar formalitas, melainkan respons hati yang tulus terhadap panggilan kebenaran dari Kitab Suci.

Setiap sujud adalah pengingat harian bahwa hidup kita harus dihiasi dengan ketundukan total, meneladani ketaatan malaikat, nabi, dan seluruh alam semesta. Ini adalah inti dari pesan yang dibawa oleh setiap ayat sajdah yang tersebar di lembaran-lembaran Al-Qur'an yang mulia.

Oleh karena itu, mari kita jadikan setiap pertemuan dengan ayat sajdah sebagai momen introspeksi, di mana kita menanggalkan kesombongan dunia dan memperbarui ikrar kita sebagai hamba yang senantiasa bersujud dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta semesta alam, karena hanya dengan sujudlah kita meraih martabat tertinggi di sisi-Nya.

Kajian yang komprehensif ini mengajak setiap pembaca Al-Qur'an untuk tidak hanya menghitung berapa jumlah ayat sajdah, tetapi untuk menghayati kedalaman spiritual yang terkandung dalam setiap posisi prostrasi, memastikan bahwa sujud kita bukan hanya gerakan, melainkan pembaruan janji tauhid yang abadi.

Refleksi ini harus senantiasa hidup, karena Al-Qur'an adalah petunjuk yang dinamis. Ketika kita merespons ayat sajdah, kita mengambil bagian dalam dialog abadi antara Tuhan dan hamba-Nya. Kita menyahut panggilan-Nya dengan tindakan paling rendah hati yang mampu kita lakukan, yaitu meletakkan dahi di tanah, tempat asal kita, dan tempat kita akan kembali.

Perintah sujud ini tidak pernah terpisahkan dari konteksnya. Ketika Surah Maryam 58 memerintahkan sujud sambil menangis, itu adalah undangan untuk merasakan kelembutan Ar-Rahman. Ketika Al-'Alaq 19 memerintahkan sujud dan mendekat, itu adalah strategi untuk menghadapi tekanan dan tantangan kehidupan dengan iman yang kuat.

Dengan demikian, lima belas ayat sajdah ini berfungsi sebagai lima belas stasiun spiritual, lima belas titik henti di mana kita harus memperbaharui komitmen kita. Memahami jumlahnya adalah langkah pertama; menghidupkan maknanya adalah perjalanan seumur hidup. Jumlah yang pasti tersebut adalah 15, sebuah angka yang mencakup semua pelajaran tentang kerendahan hati, ketaatan, dan keagungan Allah yang termaktub dalam Kitab Suci.

Ini adalah pedoman yang jelas bagi setiap Muslim yang ingin menyempurnakan interaksinya dengan kalam Ilahi. Jadikan sujud tilawah sebagai kebiasaan, dan saksikan bagaimana kerendahan hati Anda di hadapan ayat-ayat Allah akan mengangkat derajat Anda di dunia dan di akhirat. Setiap sujud adalah deklarasi yang tegas: segala puji hanya bagi Allah, Rabb semesta alam.

Keputusan untuk melaksanakan sujud tilawah secara konsisten, bahkan jika hanya dianggap sunnah muakkadah, merupakan indikator tingkat kepekaan spiritual seseorang terhadap Al-Qur'an. Mereka yang mengabaikannya telah kehilangan kesempatan besar untuk mendapatkan pahala dan kedekatan, sementara mereka yang melakukannya telah menjadikan diri mereka sebagai bagian dari barisan orang-orang yang beriman sejati yang disanjung dalam Surah As-Sajdah, ayat 15.

Demikianlah penjelasan mendalam mengenai jumlah 15 ayat sajdah dalam Al-Qur'an, lengkap dengan tinjauan fikih dan makna spiritualnya yang mendalam. Semoga panduan ini memberikan kejelasan dan dorongan untuk mengamalkan sujud tilawah dalam setiap kesempatan.

🏠 Homepage