Visualisasi representatif tentang sistem reproduksi pria.
Dalam sistem reproduksi pria, air mani (semen) adalah cairan yang paling dikenal, terutama karena perannya dalam reproduksi. Namun, ada beberapa jenis cairan lain yang secara alami bisa keluar dari kemaluan pria (uretra) sepanjang hari. Memahami perbedaan dan fungsi cairan-cairan ini sangat penting untuk menjaga kesehatan seksual dan mengenali potensi masalah.
Cairan pra-ejakulasi, sering disebut sebagai 'pre-cum', adalah cairan bening dan licin yang diproduksi oleh kelenjar Cowper (bulbourethral glands). Cairan ini keluar ketika seorang pria terangsang secara seksual, bahkan sebelum ejakulasi terjadi.
Fungsi utama cairan pra-ejakulasi adalah melumasi uretra, menciptakan jalur yang lebih aman dan nyaman bagi air mani saat ejakulasi. Selain itu, cairan ini juga membantu menetralkan sisa keasaman di saluran kemih yang mungkin ditinggalkan oleh urine, sehingga meningkatkan viabilitas sperma. Penting untuk diketahui bahwa meskipun cairan ini tidak mengandung sperma dalam jumlah tinggi seperti air mani, keberadaan sperma di dalamnya sangat mungkin terjadi, terutama jika ada ejakulasi baru-baru ini.
Urine adalah cairan sisa metabolisme yang dikeluarkan oleh sistem kemih. Meskipun fungsi utamanya adalah membuang limbah dari tubuh, urine keluar melalui saluran yang sama (uretra) dengan air mani dan cairan lainnya. Secara normal, tubuh memiliki mekanisme katup yang mencegah urine keluar bersamaan dengan ejakulasi, dan sebaliknya.
Perubahan pada warna, bau, atau frekuensi buang air kecil bisa menjadi indikator adanya masalah kesehatan, seperti infeksi saluran kemih (ISK) atau masalah prostat. Urine yang sehat umumnya berwarna kuning pucat dan tidak berbau menyengat.
Terkadang, cairan yang keluar dari penis bukanlah cairan yang bersifat fisiologis normal (seperti pre-cum atau urine), melainkan merupakan tanda adanya infeksi menular seksual (IMS) atau kondisi medis lainnya.
Beberapa IMS dapat menyebabkan keluarnya cairan abnormal dari uretra. Misalnya, gonore atau klamidia sering ditandai dengan keluarnya cairan yang kental, berwarna kuning kehijauan, atau putih keruh (disebut juga sebagai duhuretra). Cairan ini biasanya disertai dengan rasa sakit saat buang air kecil (disuria) atau rasa gatal. Jika Anda mengamati adanya perubahan warna dan konsistensi cairan yang signifikan, pemeriksaan medis sangat disarankan.
Iritasi pada kepala penis (glans) atau kulup (pada pria yang tidak disunat), yang dikenal sebagai balanitis, juga dapat menyebabkan keluarnya cairan yang tampak seperti nanah atau lendir yang bercampur dengan keju (smegma yang terinfeksi). Kondisi ini seringkali disebabkan oleh kebersihan yang kurang memadai atau infeksi jamur.
Meskipun bukan cairan yang secara aktif dikeluarkan seperti ejakulasi, smegma adalah akumulasi sel kulit mati, minyak, dan kelembapan yang secara alami terbentuk di bawah kulup penis. Pada kebersihan yang baik, smegma akan hilang saat mandi. Namun, jika tidak dibersihkan secara teratur, smegma dapat menumpuk dan menyebabkan bau tidak sedap atau menjadi tempat berkembang biaknya bakteri dan jamur, yang kemudian bisa memicu keluarnya cairan berbau.
Normalnya, pria hanya mengeluarkan urine dan cairan pra-ejakulasi saat terangsang. Keluarnya cairan yang tidak biasa (selain air mani dan pre-cum yang bening) harus segera dievaluasi oleh profesional kesehatan.
Mengetahui jenis cairan normal dan tidak normal yang mungkin keluar dari penis membantu pria mengambil langkah pencegahan dan perawatan dini jika terjadi masalah kesehatan. Konsultasi dengan dokter spesialis urologi atau andrologi adalah langkah terbaik jika ada keraguan mengenai kesehatan genital Anda.