Isu mengenai ejakulasi, baik itu kecepatan keluarnya air mani maupun volumenya, adalah topik yang sering menjadi perhatian banyak pria. Dalam konteks tertentu, seperti ketika seseorang ingin menunda orgasme atau merasa volumenya terlalu banyak, ada beberapa pendekatan yang bisa dicoba. Penting untuk dipahami bahwa ejakulasi adalah fungsi biologis normal, dan perubahan signifikan seringkali memerlukan pemahaman tentang kondisi dasar tubuh.
Jika tujuan Anda adalah untuk menunda ejakulasi (mengontrol waktu), fokusnya terletak pada manajemen stimulasi. Sementara jika fokusnya adalah pada pengurangan volume, pendekatannya akan sedikit berbeda dan lebih berkaitan dengan fisiologi tubuh secara umum.
Mengelola Waktu Ejakulasi (Menunda Pelepasan)
Banyak pria mencari cara untuk "agar tidak mengeluarkan air mani terlalu cepat." Teknik ini lebih berfokus pada pengendalian respons saraf dan fisik terhadap rangsangan tinggi.
1. Teknik Pengendalian Pernapasan
Ketika gairah mencapai puncaknya, seringkali pernapasan menjadi cepat dan dangkal. Mengambil napas dalam-dalam secara perlahan dapat mengirimkan sinyal ke sistem saraf untuk sedikit menenangkan respons tubuh. Lakukan teknik ini saat Anda merasa hampir mencapai titik tanpa bisa kembali.
2. Teknik Start-Stop (Memulai dan Berhenti)
Ini adalah metode pelatihan perilaku yang sangat efektif. Lakukan stimulasi hingga Anda merasa sangat dekat dengan klimaks, kemudian segera hentikan total rangsangan selama sekitar 30 detik hingga hasrat menurun sedikit. Ulangi proses ini beberapa kali sebelum membiarkan diri mencapai orgasme.
3. Teknik 'Squeeze' (Memeras)
Teknik ini melibatkan tekanan ringan pada kepala penis (glans) atau pangkal batang penis selama beberapa detik ketika sensasi ejakulasi hampir tak tertahankan. Tekanan ini membantu mengurangi dorongan untuk mengeluarkan semen sementara waktu.
Fokus pada Volume Air Mani
Volume air mani dipengaruhi oleh beberapa faktor, termasuk hidrasi, diet, dan seberapa sering ejakulasi terjadi. Jika tujuannya adalah mengurangi jumlah cairan yang dikeluarkan, berikut adalah beberapa pertimbangan:
1. Atur Frekuensi Ejakulasi
Secara alami, jika Anda sering berejakulasi dalam periode waktu singkat (misalnya, dua kali dalam sehari), volume air mani pada ejakulasi berikutnya cenderung lebih sedikit karena tubuh membutuhkan waktu untuk memproduksi kembali cairan seminal. Memberi jarak antara satu ejakulasi dengan yang lain dapat membantu menjaga volume tetap normal atau sedikit lebih sedikit per sesi.
2. Perhatikan Hidrasi dan Diet
Air mani sebagian besar terdiri dari cairan. Dehidrasi dapat memengaruhi volume cairan tubuh secara keseluruhan, termasuk cairan seminal. Pastikan Anda minum air yang cukup. Selain itu, beberapa nutrisi diketahui memengaruhi kesehatan reproduksi, meskipun dampaknya pada volume tidak selalu instan atau dramatis.
3. Pengaruh Usia dan Kesehatan Umum
Seiring bertambahnya usia, produksi cairan ejakulat cenderung sedikit menurun. Kesehatan prostat dan vesikula seminalis juga berperan penting dalam menentukan volume akhir yang dikeluarkan.
Kapan Harus Berkonsultasi?
Meskipun perubahan kecil dalam performa seksual adalah hal yang wajar, jika Anda mengalami kesulitan signifikan dalam mengontrol ejakulasi atau merasa volume air mani Anda berubah drastis tanpa alasan yang jelas (misalnya, sangat sedikit atau tidak ada sama sekali), sangat disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter atau spesialis urologi. Kondisi medis tertentu atau stres psikologis bisa menjadi penyebab yang memerlukan penanganan profesional.
Menguasai kontrol atas respons seksual membutuhkan latihan dan kesabaran. Pendekatan terbaik adalah kombinasi antara latihan fisik (teknik di atas) dan pengelolaan kondisi mental Anda.