Visualisasi keseimbangan karakter dalam pandangan Islam.
Dalam ajaran Islam, akhlak atau moralitas menempati posisi sentral. Rasulullah SAW diutus ke muka bumi ini salah satunya adalah untuk menyempurnakan akhlak umat manusia, sebagaimana sabda beliau, "Sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak." Oleh karena itu, mengetahui dan menilai akhlak seseorang bukan sekadar urusan sosial, melainkan bagian integral dari penilaian keimanan seseorang di sisi Allah SWT.
Menilai akhlak seseorang tidak bisa dilakukan secara dangkal. Islam mengajarkan kita untuk melihat konsistensi antara perkataan dan perbuatan, serta melihat bagaimana seseorang berinteraksi dengan Tuhannya (hablum minallah) dan sesama makhluk-Nya (hablum minannas).
Ada beberapa indikator utama yang dapat digunakan untuk mengukur kualitas akhlak seseorang sesuai dengan tuntunan syariat Islam.
Dasar utama akhlak Islam adalah ketakwaan kepada Allah SWT. Seseorang yang baik hubungannya dengan Allah cenderung memiliki moralitas yang baik pula.
Akhlak yang terpuji akan tampak jelas dalam interaksi sehari-hari. Inilah tolok ukur yang seringkali paling mudah diamati oleh orang lain.
Akhlak dalam Islam tidak hanya terbatas pada manusia, tetapi juga mencakup tanggung jawab terhadap alam semesta.
Seringkali, seseorang menampilkan akhlak terbaiknya hanya di hadapan orang yang ia hormati atau yang bisa memberikan keuntungan. Dalam Islam, perilaku ini disebut riya' (pamer) dan sangat tercela karena mengurangi nilai amal perbuatan di sisi Allah.
Oleh karena itu, cara paling efektif untuk mengetahui akhlak seseorang adalah dengan mengamatinya dalam berbagai situasi, terutama ketika ia merasa aman, tidak diawasi, atau ketika ia sedang marah. Seorang sahabat pernah bertanya kepada Rasulullah SAW tentang cara menilai seorang pria, dan beliau menjawab, "Tanyakan tentang tiga hal: bagaimana shalatnya, bagaimana muamalahnya (transaksi) dengan tetangganya, dan bagaimana ia mengelola amarahnya."
Intinya, akhlak sejati adalah manifestasi dari keimanan yang tertanam kuat di hati. Penilaian yang paling akurat datang dari konsistensi perilakunya di bawah pengawasan ilahi, bukan hanya di hadapan manusia.