Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam diutus ke muka bumi sebagai rahmatan lil 'alamin. Kehidupan beliau adalah miniatur dari ajaran Islam itu sendiri. Salah satu aspek yang paling fundamental dan wajib kita teladani adalah contoh akhlak Nabi Muhammad SAW. Akhlak beliau bukan sekadar perilaku, tetapi cerminan sempurna dari wahyu ilahi yang diterimanya. Beliau adalah pribadi yang jujur, penyayang, dan adil, bahkan dalam kondisi paling sulit sekalipun.
Sebelum diangkat menjadi nabi, Muhammad SAW dikenal luas di Makkah dengan julukan Al-Amin (yang terpercaya). Kejujuran beliau begitu mutlak sehingga bahkan musuh-musuh dakwahnya pun menitipkan harta benda mereka kepada beliau. Sikap ini menunjukkan betapa tinggi integritas beliau. Dalam setiap interaksi, baik urusan pribadi maupun kenegaraan, beliau selalu menjunjung tinggi kebenaran. Menjaga amanah, baik itu janji, kepercayaan, maupun titipan, adalah pilar utama dari contoh akhlak Nabi Muhammad yang harus kita internalisasi.
Salah satu sifat beliau yang paling menonjol adalah kasih sayang yang meluas. Kasih sayang ini tidak hanya terbatas pada keluarga dan sahabat, tetapi juga kepada musuh, anak-anak, orang tua, hingga hewan dan tumbuhan. Diceritakan bahwa beliau pernah menolak memotong lengan baju beliau ketika tertidur di atasnya, agar tidak membangunkan kucing kesayangannya yang sedang tidur di atas baju tersebut. Sikap welas asih ini adalah inti dari ajaran Islam. Beliau mengajarkan umatnya untuk bersikap lembut dan penyayang. Jika ada yang melakukan kesalahan, pendekatan pertama beliau adalah nasihat dan pengampunan, bukan penghukuman yang keras.
Perjuangan Nabi Muhammad SAW dalam menyebarkan Islam penuh dengan ujian berat—penganiayaan fisik, cemoohan, hingga pengucilan sosial. Namun, beliau menunjukkan kesabaran yang luar biasa. Ketika menghadapi kekejaman kaum Quraisy, alih-alih membalas dengan kekerasan, beliau justru berdoa agar kaumnya diberi hidayah. Kesabaran ini mengajarkan kita bahwa dalam menghadapi tantangan hidup, keteguhan hati dan keikhlasan dalam berserah diri kepada Allah SWT adalah kunci keberhasilan sejati. Meneladani kesabaran beliau adalah bagian penting dari mencontoh contoh akhlak Nabi Muhammad.
Meskipun memiliki kedudukan tertinggi sebagai Rasulullah, Nabi Muhammad SAW tidak pernah bersikap sombong atau menunjukkan superioritas. Beliau senantiasa hidup sederhana, membantu pekerjaan rumah tangga, mau duduk bersama orang miskin, dan menolak untuk diperlakukan layaknya seorang raja. Beliau mencontohkan bahwa kemuliaan sejati tidak terletak pada status sosial, kekayaan, atau kekuasaan, melainkan pada ketakwaan dan kerendahan hati. Ketika ditanya, beliau akan duduk di mana pun tempatnya tersedia, menunjukkan tidak ada pembedaan status di hadapan Allah SWT.
Keadilan adalah prinsip yang tidak pernah dikompromikan oleh Nabi Muhammad SAW. Beliau menegakkan keadilan tanpa memandang kedudukan seseorang, bahkan terhadap kerabat terdekatnya. Diriwayatkan bahwa beliau bersabda, "Demi Allah, seandainya Fatimah binti Muhammad mencuri, niscaya akan aku potong tangannya." Pernyataan tegas ini menunjukkan bahwa hukum dan keadilan harus diterapkan secara merata dan tanpa pilih kasih. Konsistensi antara ucapan dan perbuatan beliau menjadikan beliau teladan paripurna.
Memahami dan mengamalkan contoh akhlak Nabi Muhammad SAW bukanlah sekadar ritual keagamaan, melainkan sebuah praktik hidup yang membawa kedamaian, keadilan, dan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Beliau adalah standar emas bagi setiap Muslim dalam berinteraksi dengan sesama makhluk ciptaan Tuhan.