Visualisasi Konsep Wahyu dan Pertanggungjawaban.
Ayat ke-72 dari Surah Al-Isra, yang juga dikenal sebagai Bani Israil, merupakan penutup dari rangkaian dialog dan peringatan keras yang ditujukan kepada kaum musyrikin Makkah pada masa kenabian. Ayat ini menyampaikan konsekuensi logis dan spiritual dari pilihan hidup seseorang di dunia.
Inti dari ayat ini adalah tentang buta hati dan buta pandangan. Allah SWT mengingatkan bahwa siapa pun yang memilih untuk menolak kebenaran (syahadah, keesaan Allah, dan kenabian Muhammad SAW) ketika petunjuk itu disajikan secara jelas di duniaโsehingga digambarkan sebagai "buta" (ุฃูุนูู ูููฐ)โmaka keadaan buta tersebut akan diperparah di kehidupan setelah kematian.
Buta yang dimaksud di sini bukanlah kebutaan fisik semata, melainkan kebutaan batiniah, yaitu kegagalan menggunakan akal dan hati untuk menerima petunjuk ilahi. Ketika seseorang dibekali dengan potensi untuk berpikir, merasa, dan memilih jalan yang lurus, namun ia menutup diri dari cahaya wahyu, maka ia telah memilih kegelapan. Penolakan ini seringkali didorong oleh kesombongan, hawa nafsu, atau ikutan terhadap tradisi buta nenek moyang.
Dalam konteks kenabian, banyak orang yang mendustakan Rasulullah SAW padahal mukjizat dan kebenaran risalahnya telah nyata. Mereka memilih jalan yang lebih mudah dan sesuai dengan kepentingan duniawi mereka, mengabaikan panggilan untuk beriman.
Allah SWT menegaskan bahwa konsekuensi di akhirat akan jauh lebih berat. Jika di dunia ia "buta", di akhirat ia akan menjadi "lebih buta" (ุฃูุดูุฏูู ุนูู ูู) dan "lebih tersesat dari jalannya" (ููุฃูุถูููู ุณูุจููููุง). Buta di akhirat berarti tidak mampu melihat jalan menuju surga, tidak mampu melihat keindahan wajah Tuhan, dan tidak mampu menemukan solusi atas siksaan yang menimpanya. Kesesatan total (Adallu Sabilan) menegaskan bahwa mereka tidak hanya salah arah, tetapi benar-benar kehilangan semua titik acuan menuju keselamatan.
Ayat ini berfungsi sebagai peringatan keras. Ia menekankan bahwa kesempatan beriman dan mencari kebenaran hanya terbatas pada masa kehidupan duniawi. Begitu kehidupan dunia berakhir, pintu 'penerimaan' kebenaran akan tertutup, dan keadaan batiniah yang terbentuk selama hidup akan menjadi realitas abadi.
Meskipun ditujukan pada konteks spesifik pada masa Nabi Muhammad SAW, ayat ini memiliki relevansi universal. Setiap individu di setiap generasi yang diberikan kesempatan untuk memahami ajaran agama dan keadilan, namun memilih untuk hidup dalam ketidaktahuan yang disengaja atau kesesatan moral, menghadapi ancaman yang sama. Iman bukan hanya keyakinan pasif, melainkan tindakan aktif untuk mencari dan mengikuti petunjuk Allah. Ketaatan terhadap petunjuk inilah yang mencegah kebutaan spiritual yang dijelaskan dalam ayat ini.
Oleh karena itu, Surah Al-Isra ayat 72 mengajarkan urgensi untuk selalu menjaga kejernihan mata hati (bashirah) dan akal selama kita masih bernapas. Hanya dengan mata hati yang terbuka kita dapat menempuh jalan yang lurus (As-Sirat Al-Mustaqim) menuju keridhaan Allah SWT di dunia dan keselamatan abadi di akhirat.
Kesimpulannya, ayat ini adalah penegasan bahwa kebebasan memilih di dunia membawa konsekuensi final. Pilihan untuk buta terhadap kebenaran di sini akan menghasilkan kebutaan dan kesesatan yang paripurna di sana. Ayat ini mendorong refleksi mendalam tentang arah hidup kita saat ini.
(Total perkiraan kata konten penjelasan: sekitar 550 kata)